YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
213. Pria Tampan Yang Menyebalkan


__ADS_3

Di universitas, Syifa sedang membuka buku dan membacanya. Suasana yang tenang di dalam perpustakaan, membuat dirinya sedari tadi menahan kantuk. Suasana tenang, tidak banyak mahasiswa yang datang ke tempat ini membuat hati, pikiran, dan juga mata menjadi adem. Rasa kantuk yang datang lebih dominan daripada keinginan untuk belajar.


Syifa menahan kepalanya dengan bertumpu pada telapak tangan, buku yang dia baca sedari sepuluh menit yang lalu belum dia balikkan lagi, masih dengan halaman yang sama.


"Syifa." Panggil seseorang dengan pelan. Syifa tidak menggubris panggilan itu, dia sangat mengantuk sekali sekarang ini, efek tak ada hp, tidak bisa menonton aplikasi Tok-Tok.


"Syifa!" panggilnya lagi. Kali ini sambil mengguncang bahu Syifa cukup keras.


"Eh, iya, Bu! Musyawarah adalah suatu perkumpulan untuk ...." Syifa terkejut dan berdiri, seketika dia terdiam saat sadar semua mata menatap marah terhadapnya. Petugas perpustakaan menegur Syifa yang membuat kegaduhan.


Syifa tersenyum malu dengan wajah yang memerah dan meminta maaf dengan mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


"Astaga Syifa. Bikin malu saja!" bisik Rani, teman yang dulu bersama dengan Syifa di cafe.


Syifa merasa kesal. Jika bukan karena Rani yang membuatnya terkejut, dia juga kan gak akan seperti itu.


"Gara-gara kamu, sih! Aku kira Bu Diah" cerca Syifa dengan kesal, menyebut salahtau nama dosen galak pengajarnya. Dia memandang ke sekeliling, semua orang yang ada di sana kembali pada buku bacaannya masing-masing.


Rani menahan tawa yang hampir menyembur karena melihat wajah Syifa yang lucu.


"Ada apa, sih?" tanya Syifa lagi.


"Itu tadi ada yang cariin," ujar Rani.


"Hah? Siapa?" tanya Syifa bingung. Dia menyimpan buku di tangannya ke rak semula. Rani mengikuti langkah kaki Syifa yang kini keluar dari dalam perpustakaan.


"Si Om yang itu, yang dulu kita ketemu di cafe," ujar Rani.


"Hah?" Syifa menghentikan langkah kakinya.


"Ya ampun, kebiasaan deh, hah-hah! kamu di cariin Om-Om yang malam itu ketemu di cafe! Noh, lagi nungguin di gerbang depan," ujar Rani dengan kesal dengan kebiasaan Syifa.


"Eh, mau apa dia kesini?" tanya Syifa tak peduli.

__ADS_1


"Gak tau. Mau jemput kali! Sana gih, temui dia. Nanti keburu susah lagi ketemunya, tadi aja dah kayak gula di kerubutin semut! Heran deh sama mahasiswi di sini, kayak gak pernah ketemu cowok ganteng aja!" ujar Rani ketus.


"Eh, iya kah? Masa sih? ganteng dari mana? Biasa aja!" ucap Syifa.


"Dih, dibilang gak ganteng, nanti kalau udah jatuh cinta mah, wajah kayak Agus yang sok ganteng bin kepedean itu juga bakal dibilang ganteng!" ucap Rani, menyebutkan seorang pemuda dari kelas sebelah yang sering menampakkan diri di hadapannya.


"Ya ampun, Ran. Jangan sebut dia juga kali. Dia itu pejuang cinta mu yang paling gigih loh, ntar kalau dia dah gak berjuang lagi, merasa kehilangan tau rasa kamu!"


"Hiiii ... Gak mau deh, aku juga punya standar kali. Jangan yang kayak gitu juga. Dia itu norak! Sok kepedean, sok kecakepan!" ujar Rani dengan kesal. Ingan jika pria itu sangat gigi dan udah sering melakukan segala cara untuk merebut perhatiannya, hingga pernah pada suatu hari menyatakan cinta di depan banyak mahasiswa dan mahasiswi lainnya. Malu, lah!


"Eh, kamu mau kemana?" tanya Syifa yang melihat Rani berbelok ke arah lain.


"Mau ke toilet. Gak nahan!" Rani meringis mengelus perutnya yang bergejolak.


"Ih, temenin aku deh," rengek Syifa.


"Gak bisa Syifa. Kamu mau tanggung jawab kalau sampai aku keluar karena antar kamu?"


"Ogah, Jijay!" seru Syifa.


"Makanya itu Syifa. Sono sendiri, aku dah gak kuat."


"Aku tunggu deh."


"Aku bakalan lama, sudah dari sini mau ke ruangan Pak Hendrik untuk konsultasi mata kuliah aku yang ketinggalan," ujar Rani.


"Sono, jangan manja. Sendiri aja napa? Kasihan dia, nanti mabok sama mahasiswi centil." Rani mengibaskan tangannya dan berlalu meninggalkan Syifa menuju ke arah toilet wanita.


Syifa terpaksa menuju ke gerbang depan sendirian. Kesal juga karena Rani tidak bisa menemaninya bertemu dengan pria itu.


Ada apa Kak Juan datang kemari? Apa dia datang memberikan hp ku? Eh, tapi iya kalau hp-ku jatuh di mobil dia, batin Syifa.


Syifa berjalan dengan langkah kaki yang cepat, ingin segera bertemu dan mengetahui perihal apa sampai Juan datang kemari.

__ADS_1


Dari kejauhan, Syifa melihat kerumunan para wanita di luaran sana. Mengingat perkataan Rani tadi, dia yakin jika di sana adalah Juan.


"Kak Juan, ada apa kesini?" tanya Syifa. Juan tersenyum, melewati kerumunan para mahasiswi yang ada di sana dan menatap Syifa dengan bingung.


"Eh, ada hubungan apa si Om sama Syifa?" tanya seseorang dengan bingung. Yang lain mengangkat bahunya tanda tidak tahu.


Juan menarik tangan Syifa dan kembali melewati kerumunan para gadis muda itu.


"Eh, Kak Juan. Ada apa ini? kenapa aku di tarik?" Syifa bingung, mencoba menarik tangannya, tapi genggaman tangan Juan begitu erat memegang pergelangan tangannya.


"Kamu sudah gak ada kelas, kan?" tanya Juan.


"Iya, tapi kenapa aku ditarik gini? Lepas!" seru Syifa. Juan membuka pintu dan mendorong tubuh Syifa. Dengan cepat menutup pintu mobil dan segera berlari memutari mobil.


"Eh, aku mau dibawa kemana?" Syifa bertanya lagi setelah Juan menyalakan mobilnya, pergi dari hadapan para gadis muda yang sedari tadi mengerumuninya.


"Gak kemana-mana. Kamu harus tanggung jawab karena aku sudah datang kesini."


Syifa menatap Juan dengan bingung.


"Loh, aku tanggung jawab apa? Emang, aku suruh Kak Juan kesini? Perasaan aku gak suruh Kakak kesini, deh!" seru Syifa tak terima. Tidak tahu apa-apa, tapi dirinya yang disuruh tanggung jawab, yang benar saja!


Juan hanya tersenyum kecil, dia mengeluarkan sesuatu dari saku kemeja yang di pakainya.


Mata Syifa melotot melihat benda yang beberapa hari ini dia rindukan. Dia mendekat untuk meraih benda pipih itu, tapi Juan segera menjauhkan dari jangkauan Syifa.


"Hape-ku!" ratap Syifa saat benda itu kembali masuk ke dalam saku kemeja pria di sampingnya. Tidak mungkin dia akan mengambilnya dengan paksa, seperti yang sering dia lakukan pada si kembar.


"Mau hp ini, kan?" tanya Juan. Syifa menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Traktir aku makan siang. Aku lapar karena nunggu kamu dari tadi di luar," ujar Juan. Syifa menatap pria itu tidak percaya. Makan siang? OMG!


"Ih, jangan aneh-aneh deh. Gak ada juga yang nyuruh Kakak kesini, kenapa juga aku yang harus traktir makan siang?" Syifa dengan nada kesal. Tidak dia sangka, pria yang kemarin dia kagumi ternyata cukup menyebalkan juga.

__ADS_1


__ADS_2