
"Suka sama saya?" tanya Haidar mengerutkan keningnya. Wanita tersebut menunduk semakin dalam, sadar jika apa yang dia lakukan adalah kesalahan. Jelas Haidar sudah beristri dan dia tidak boleh seperti ini kepada laki-laki itu.
"Kamu sehat?" tanya Haidar bingung. Siapa tahu saja wanita itu sedang tidak sehat sehingga menyatakan cinta padanya yang jelas sudah memiliki istri.
"Anu ... maaf, saya seharusnya nggak bicara begini. Saya salah bicara!" ucap wanita itu lalu dengan langkah yang cepat berlari meninggalkan ruangan tersebut dengan rasa malu yang sangat besar.
Haidar menggelengkan kepalanya dan tertawa kecil. Dia tidak menyangka jika dirinya masih bisa membuat orang lain terpesona.
"Dia pasti lagi sakit," ucap haidar merasa lucu dengan tingkah sekretaris tersebut. "Aku harus minta Papi buat ganti dia dengan yang lain. Terlalu bahaya kalau seumpama dia juga bisa bilang kayak gitu sama Papi," ucap Haidar. Pria itu kemudian kembali menatap langit yang sudah tidak lagi nampak wajah sang istri di sana.
...***...
Arya baru saja selesai dengan meetingnya, dia kembali ke ruangannya dengan tergesa karena melihat pesan sang putra yang ternyata sudah hampir setengah jam yang lalu dikirim. Rapat yang seharusnya hanya berjalan satu jam saja menjadi terlambat akibat ada tambahan yang harus dibahas dengan bawahannya.
Arya melihat sekretarisnya menatap cermin sambil mengusap pipinya yang tampak memerah.
"Ada apa kamu? Sakit?" tanya Arya mengagetkan sang sekretaris.
Dengan cepat, sekretaris tersebut menurunkan cermin kecil miliknya dan menatap Arya dengan gugup.
"Eh, nggak Pak. Saya nggak sakit. Anu ... Pak Haidar sudah menunggu sedari tadi," ucap wanita tersebut dengan menundukkan kepalanya.
"Iya, saya sudah tahu. Buatkan saya teh hangat," ucap laki-laki itu yang membuat sekretaris enggan melakukannya sebenarnya. Terlalu malu dengan apa yang tadi dia lakukan dengan putra dari pemimpin tersebut.
"Iya, Pak. Akan segera saya buatkan," ucap wanita itu lalu pergi dengan cepat setelah memastikan sang atasan masuk ke dalam ruangannya.
Haidar masih ada di depan jendela, menoleh saat sang ayah telah masuk dan terdengar suaranya. "Maaf, papa terlalu lama ya? Ada banyak yang harus dibahas," ucap laki-laki itu lalu duduk di kursinya.
__ADS_1
"Papi harus ganti sekretaris dengan yang lebih tua," ucap Haidar tanpa mengindahkan ucapan sang ayah.
Arya mengerutkan keningnya, merasa bingung dengan apa yang anaknya katakan barusan. "Kenapa?" tanya Arya akhirnya.
"Tidak apa-apa, tapi dia terlalu cantik dan bisa saja buat Mami cemburu," ucap Haidar yang mengundang gelak tawa dari sang ayah.
"Haha, memang Papi ingin bikin Mami cemburu," ucap Arya dengan santainya.
Haidar membalikkan tubuhnya dan menatap sang ayah tidak mengerti. "Papi serius? Apa Papi mau selingkuh? Mami pasti bisa ngamuk," ucap Haidar tidak mengerti dan bersiap marah jika benar Arya akan melakukan hal tersebut.
"Ish, kamu tuh. Ya nggak lah. Sudah, deh. Itu urusan Papi. Kamu jangan sibuk pikirin kami," ucap Arya. Haidar duduk dengan masih tidak mengerti menatap sang ayah bingung.
"Papa cari mati," ucap Haidar lagi. Arya hanya tertawa kecil mendengar ucapan sang anak yang seperti itu. "Kalau Papi pengen sakitin Mami, Haidar nggak akan ampuni Papi," ucapnya marah.
Arya lagi-lagi tertawa mendengar nada marah dari sang anak. "Ya enggak lah. Papi juga masih waras, Haidar. Papi terlalu cinta sama Mami kamu, tapi kamu tau nggak sih, kalau Mami sekarang ini susah banget buat Papi ngertiin," ucap Arya.
Helaan napas kasar terdengar dari bawah hidung sang ayah. "Papi rasa Mami sedikit berubah," terang Arya.
"Berubah gimana?" tanya Haidar semakin bingung, beberapa bulan tidak tinggal bersama dengan orang tua jelas membuatnya tidak tahu apa yang telah terjadi di rumah.
"Sudah deh, itu urusan Papi, mungkin Papi juga yang kurang perhatian dengan Mami kamu. Papi akui kalau akhir-akhir ini terlalu sibuk."
"Terus apa hubungannya sama sekretaris itu?" tanya Haidar, ada sebersit pikiran jika sang ayah akan main gila di belakang sang ibu meski rasanya tidak mungkin juga. Akan tetapi, tetap patut harus dicurigai.
"Ya ... nggak ada hubungannya. Cuma pengen aja Mami datang karena pikiran gitu juga sih."
Haidar menatap sang ayah tidak mengerti, hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Papi akan jadikan dia korban? Yang benar saja," ucap Haidar saat hanya melihat senyuman laki-laki yang telah memberikan nama besar Rahadian tersebut.
__ADS_1
"Nggak, cuma sedikit ingin bikin Mami kamu cemburu aja. Kalau sudah begitu, Papi juga akan kirim dia ke kantor cabang yang lain dan ganti dia dengan kandidat yang lain," ucap Arya dengan santai. Haidar tidak mengerti dengan apa yang akan papinya lakukan itu.
"Terserah Papi aja lah. Kalau Mami sampai ngamuk, jangan cari aku buat bujuk Mami," ucap Haidar lagi. Arya hanya tertawa kecil hingga giginya yang putih terlihat.
"Mana kado untuk Yumna. Aku ke sini buat ambil kado itu," ucap Haidar sambil menadahkan tangannya. Arya mengangkat kedua bahunya yang membuat Haidar mengerutkan keningnya.
"Tidak ada."
"Hah? Nggak ada gimana?" tanya Haidar bingung.
"Hadiahnya belum ada," ucap Arya lagi. Tampak wajah sang putra kini menjadi kesal. Jauh-jauh pergi ke sini dan hadiah yang dimaksud tidak ada. Apa mami dan papinya sedang mengerjainya?
Huh, sudah ninggalin kerjaan yang ada di sana malah di prank!
"Papi cuma mau tanya. Kalian kan belum pernah bulan madu, kira-kira kalau Papi kasih tiket bulan madu, kalian mau pergi ke mana?" tanya Arya menatap sang putra. Seketika wajah yang kesal itu menjadi cerah, senyum terbit dari wajah anaknya.
"Papi mau kasih tiket bulan madu?" tanya Haidar bahagia, Arya menganggukkan kepalanya.
"Kemana kira-kira?" tanya Arya. Senyuman yang ada di wajah Haidar kini memudar, dia tidak tahu harus berpikir apa. Tempat mana yang belum pernah Yumna datangi selama ini.
"Aku nggak tau," ucap Haidar. "Apa aku harus tanya sama Yumna?"
Arya hanya bisa menepuk keningnya mendengar ucapan anaknya. "Astaga! Kamu bukan suami pengertian," ucap Arya menyindir.
...***...
Hai-hai, nunggu Othor update lagi, yuk ah, mampir dulu ke sini.
__ADS_1