
Pesta akhirnya selesai. Semua orang sangat kelelahan, termasuk kedua pengantin itu.
Selesai dengan pesta yang melelahkan, keduanya masuk ke dalam kamar pengantin. Yumna tertegun melihat betapa indahnya kamar ini di hias sebagaimana kamar pengantin pada umumnya, dengan banyak taburan bunga mawar merah dimana-mana. Indah, sungguh. Sampai-sampai Yumna tidak berkedip melihatnya.
Haidar menutup pintu kamar hotel. Dia tersenyum melihat Yumna hanya terdiam mematung.
"Suka?" tanya Haidar membuat Yumna terbangun dari lamunannya. Yumna menghela nafas sejenak.
"Suka, tapi Percuma! Meskipun indah tapi karena bukan sama orang yang di cintai rasanya malah menyedihkan!" tutur Yumna sendu. Haidar pun merasakan hal yang sama. Kalau saja dirinya sekarang ini bersama Vio, pasti kelopak bunga itu akan berhamburan lebih berantakan lagi.
"Heh, bayangin mesum ya?" Yumna melambaikan tangannya di depan wajah Haidar yang cengengesan sendiri.
"Ya wajar dong, bayangin mesum. Kamu lupa kalau malam ini malam pertama kita?" Goda Haidar dia melangkahkan kakinya ke dekat Yumna, hingga Yumna mundur dua langkah sampai dirinya tidak bisa mundur lagi karena terhalang pintu.
"Eh, elo mau ngapain?" tanya Yumna takut, Haidar dengan seringaian di bibirnya. Dia terus mendekat dan mengangkat satu tangannya melewati pundak Yumna, telapak tangannya menyentuh pintu. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan. Menatap wajah Yumna yang terlihat ketakutan.
"Gak ngapa-ngapain. Cuma lagi pandang wajah istri aja."
Deg. Perasaan Yumna jadi tidak karuan, Haidar membuat dirinya berbunga-bunga, detak jantungnya mulai berdetak cepat. Siapa coba wanita di dunia ini yang akan biasa-biasa saja jika seorang pria bersikap seperti itu, apalagi dengan jarak yang sangat dekat, wajah mereka hanya berjarak satu jengkal. Bahkan rasanya Haidar merebut semua oksigen yang ada di sekitar mereka, membuat Yumna merasa sesak kehabisan nafas.
"Kenapa?" tanya Haidar lagi. Dia melihat wajah Yumna yang semakin memerah.
"Ti-tidak!" ucap Yumna terbata. Dia mer*mas gaunnya sendiri. Gugup karena Haidar terus memperhatikannya seperti itu. Semakin lama dia semakin mendekat membuat Yumna merasa lututnya lemas.
Haidar berbisik di dekat telinga Yumna. "Kalau di perhatikan kamu gak jelek jelek amat! Hahaha." Haidar tertawa keras, ia menarik tangannya, menjauhkan dirinya dari Yumna, dan berbalik berjalan ke arah ke tempat tidur.
"Haidaaaarrr!!! Dasar rese!!!!" teriak Yumna, Haidar hanya tertawa tanpa menghentikan langkahnya. Yumna merasa kesal dia kira Haidar akan... Akan...
'Kenapa gue jadi mikir kalau dia akan cium tadi?' ujar Yumna dalam hati. Dia kesal, bisa-bisanya dia berfikir seperti itu. Hal yang tidak mungkin akan terjadi.
'Ingat Yumna pernikahan ini di atas kertas!' Yumna mengingatkan dirinya sendiri.
Yumna berjalan ke arah tempat tidur dimana Haidar mulai melepaskan satu persatu kancing bajunya.
"Eh mau ngapain lo?!" tanya Yumna dia mundur satu langkah.
"Mau mandi. Gerah!" ucap Haidar santai, dia melemparkan kemejanya ke sembarang arah hingga tergeletak begitu saja di lantai.
"Jangan berantakan gitu dong. Lempar sembarangan nanti keserimpet kaki jatuh kan bahaya!" tutur Yumna.
"Cerewet! Lagian kan punya mata, tinggal hindari aja, gak usah ribet!" Yumna memutar bola mata malas. Tidak dia kira ternyata Haidar punya sifat seperti itu. Bahkan si kembar pada saat kelas tiga SD lebih rapi daripada dia, setidaknya tahu dimana tempat menyimpan baju kotor.
__ADS_1
Haidar mengambil handuk lalu masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Yumna memungut baju yang tadi Haidar lempar tadi dan menyimpannya ke atas kursi. Merapikan sepatu Haidar yang ada di sembarang tempat.
Haidar memutar kran, seketika mengalihkan air dari shower itu. Dia merasa panas dalam tubuhnya. Dia membiarkan air mengucur melewati rambutnya. Tidak ia sangka menggoda Yumna tadi terasa sangat menyenangkan, apalagi melihat wajah Yumna yang terlihat salah tingkah, dan takut.
Melihat wajah Yumna yang bersemu merah, membuat dia ingin sekali meraup wajah itu dengan tangannya, melahap bibir merah yang di gigit Yumna dengan bibirnya.
"Oh sial!!" rutuk Haidar mengusap wajahnya, memikirkan hal itu membuat sesuatu miliknya mengeras.
"Gue sudah gila!" racau Haidar pelan. "Oke, mungkin ini karena pengaruh suasana. Suasana kamar yang romantis, dan karena Yumna terlihat cantik dengan gaun itu. Dan lagi kami ada di satu ruangan. Gue harus sadar diri. Ini hanya sementara." Haidar memegangi dadanya yang berdegup kencang tak karuan. Dia segera mengambil sampo dan langsung membubuhkannya ke rambut.
Setelah beberapa menit, Haidar keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya, dan handuk kecil di kepalanya. Dia melihat Yumna yang sedang membersihkan make up di samping tempat tidur.
Melihat Haidar yang berjalan melewatinya, Yumna menghentikan pergerakan tangannya, tertegun melihat roti sobek yang ada di bagian depan tubuh Haidar. Tidak sadar kalau ternyata Haidar juga memperhatikan Yumna yang menatapnya. Terciduk deh!
"Apa lihat-lihat?" cerca Haidar sambil melemparkan handuknya yang basah tepat ke wajah Yumna.
"Suka sama tubuh gue?" tanya Haidar lagi. Yumna mendecih sambil melemparkan handuk itu kembali pada pemiliknya.
"Cih, suka apa? B aja!" ucap Yumna memalingkan pandangan lalu kembali membersihkan wajahnya dengan kapas. Haidar tersenyum, menatap punggung Yumna lekat. Tubuh Yumna ramping, terlihat seksi dengan balutan baju pengantin yang pas di tubuhnya.
Haidar menggelengkan kepalanya.
'Kenapa jadi mikirin itu?' batin Haidar lalu segera pergi ke arah kopernya untuk mencari kaos singlet miliknya. Sambil mencari-cari Haidar sesekali menatap kembali Yumna yang masih duduk disana, pinggang itu...
Haidar berdiri dengan kaos yang tersampir di bahunya. Dia berjalan ke arah jendela sambil mengangkat telfon dari Vio.
"Hem, ya sayang? ada apa?" tanya Haidar.
Yumna mendecih saat tahu pasti yang menelfon Haidar. Dia meneruskan kegiatannya tanpa mempedulikan Haidar yang terus melemparkan kata-kata sayang dan seperti sedang membujuk kekasihnya.
'Dasar, kalau tidak rela Haidar dengan aku kenapa dia tidak berhenti jadi model dan menikah saja?' cibir Yumna dalam hati. Dia merasa heran kenapa ada manusia yang ribet seperti mereka.
Selesai membersihkan wajahnya Yumna pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
"Eh, kenapa susah banget!" Yumna tidak bisa meraih resleting di belakang tubuhnya. Beberapa kali dia mencoba tapi tidak bisa juga. Terpaksa Yumna keluar dari kamar mandi dan mendapati Haidar masih di tempatnya tadi, masih menelfon Vio.
"Haidar!" Yumna mendekat. Haidar menoleh. "Tolongin dong. Susah mau di buka nih." ucap Yumna sambil membalikan dirinya memunggungi Haidar. Haidar menjepit hpnya di antara pundak dan telinganya. Dia perlahan membuka resleting Yumna.
Deg. Deg. Deg. Jantung Haidar tiba-tiba berdetak cepat saat melihat punggung putih Yumna. Apalagi saat dia tak sengaja menyentuh punggung putih nan mulus itu. Rasanya lembut, menyenangkan. Beberapa saat Haidar sampai terdiam, terlena dengan punggung itu. Melihat ke atas perlahan terlihat pundak Yumna. Tanpa ia sadari, Haidar mendekat hampir saja hidungnya menempel disana.
"Haidar udah belum, lama amat sih cuma buka resleting aja!" ucap Yumna kesal. Haidar tersadar, dia menarik kembali kepalanya.
__ADS_1
"Ehm, udah. Sedikit macet resletingnya!" ucap Haidar canggung. Dia segera menarik kembali resleting tersebut hingga terbuka seluruhnya sampai ke pinggang Yumna.
"Makasih!" Yumna berjalan menjauh. Haidar rasanya sedikit tidak rela saat Yumna pergi dari hadapannya.
'Haidar! Sayang!' Haidar tersadar saat ada suara yang memanggilnya di telfon.
"Eh iya sayang, ada apa?" tanya Haidar menyahut.
'Kamu itu kenapa sih, dari tadi aku panggil diem aja!' suara Vio terdengar kesal.
"Ehm... barusan ada sedikit gangguan!" ucap Haidar, dia masih menatap pintu kamar mandi yang tertutup.
Setelah beberapa saat lamanya, Yumna keluar dari dalam kamar mandi. Dia memutar bola mata malas melihat Haidar masih saja bertelfon ria dengan kekasihnya.
Yumna membaringkan dirinya di atas kasur, dia sangat lelah sekarang. Tidur nyenyak dan bermimpi indah pastilah sangat menyenangkan supaya otot-otot tubuhnya menjadi rileks.
Baru saja Yumna memejamkan mata, terasa kasur di sampingnya bergerak. Yumna membuka mata dan mendapati Haidar yang sedang bersiap untuk menarik selimut.
"Eh, ngapain lo?!" tanya Yumna dia setengah bangun dengan kedua siku menahan dirinya.
"Mau tidur lah!" jawab Haidar santai.
"Di sofa! Gue gak mau satu kasur sama elo!" tunjuk Yumna ke arah sofa yang berada tak jauh dari sana.
"Gak mau! Gak ada kesepakatan untuk salah satu dari kita tidur di sofa!" Haidar mengeratkan selimutnya. "Kalau elo gak mau tidur satu kasur sama gue, elo aja yang tidur di sofa. Gue mau tidur di kasur, titik!
"Ih gak mau ya. Bahaya tahu tidur satu kasur sama elo!" Yumna menarik selimut dari Haidar.
"Lagian kenapa sih. Kita udah sah juga, tidur satu kasur bukan masalah, kali!" Haidar menahan selimut dari tubuhnya.
"Iya gak masalah, kalau elo gak macem macem sama gue. Elo..."
"Gue gak akan macem-macem. Gue cape. Please deh..." Mengeratkan kembali selimutnya hingga ke dada.
"Gak mau! Siapa yang tahu nanti elo akan lakuin yang enggak-enggak sama gue!"
"Gak bakal! Elo bukan tipe gue!" jawab Haidar sambil memejamkan matanya. Yumna merasa kesal mendengar dirinya bukan tipe Haidar.
Dia mengambil bantal guling dan menempatkannya di antara mereka.
"Geser!" titah Yumna. Haidar menggeser sedikit tubuh lelahnya. "Awas ya kalau sampe melewati batas, gue tendang ke lantai!" ancam Yumna.
__ADS_1
"Hemm, terserah elo aja. Gue ngantuk. Kalau elo mau debat, debat aja sama bantal guling!" jawab Haidar lalu tak lama terdengar suara dengkuran halusnya.
Yumna merasa canggung dengan keadaan mereka berdua. Baru kali ini dia tidur dengan orang asing meski sekarang status Haidar adalah suaminya. Di tatapnya langit-langit kamar hotel, detik demi detik hingga akhirnya Yumna tertidur saking lelahnya.