YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
73. Bekas Bibir yang Manis!


__ADS_3

Haidar terkekeh pelan. Dia lantas menutup kembali baju Yumna dan membuka matanya.


"Sudah enakan?" tanya Haidar. Yumna mengangguk.


"Lumayan!"


"Ya sudah, gue ke luar dulu." ucap Haidar lalu dengan cepat pergi ke luar dari sana.


Yumna menatap kepergian Haidar, rasanya aneh saat pria itu tidak ada. Dia membaringkan dirinya dan menutup tubuhnya dengan selimut.


Yumna terbangun saat Haidar mengguncang bahunya. Rupanya dia tertidur setelah meminum obat tadi.


"Bangun, makan dulu. Gue udah buatin bubur!" Ucap Haidar. Yumna menoleh ke arah tangan Haidar. Pria itu membawa semangkuk bubur di tangannya, wangi.


Yumna bangun dan duduk, selimutnya terjatuh begitu saja ke pangkuannya.


"Sorry gue ketiduran!" ucap Yumna lantas menerima bubur dari tangan Haidar. Aroma bawang goreng tercium seketika di bawah hidungnya. Menggiurkan apalagi dia memang lapar.


"Buat sendiri?" tanya Yumna.

__ADS_1


"Iya lah. Siang gini dimana ada tukang bubur?" tanya Haidar yang hanya tahu kalau penjual bubur hanya berjualan di pagi dan di sore hari. "Gue yang bikin!" tegasnya bangga, menepuk dadanya.


"Kata siapa gak ada tukang bubur siang-siang? Ada tuh di depan gang sana!" tunjuk Yumna. Seketika rasa bangga di hati Haidar seperti di lemparkan jauh begitu saja.


Niat ingin di puji malah endingnya begini! Bisa gak sih gak usah ngomong gitu juga. Pura-pura gak ada kek gitu. Dasar cewek gak peka!


(Siapa yang gak peka Haidar?) author 😒😒


Pria itu merengut, namun Yumna tak peduli, dia mengaduk bubur itu dengan sendoknya dan mulai menikmati sesuap demi sesuap. Haidar duduk di samping Yumna. tersenyum karena melihat Yumna yang makan dengan lahap, namun kepanasan. Yumna membuka mulutnya, seketika asap tipis keluar dari dalam sana. Dia mengipasi mulutnya dengan mengibaskan tangannya.


Haidar merebut mangkok dari tangan Yumna, membuat Yumna melongo, melihat mangkoknya sudah berpindah tangan, "Bisa gak sih makan pelan-pelan! Emang tu lidah gak kepanasan?!"


Yumna masih melongo dengan perlakuan Haidar.


"Buka mulutnya!" titah Haidar. Yumna tersadar.


"Biar gue makan sendiri!" Haidar menjauhkan sendok dan mangkoknya dari jangkauan Yumna.


"Gue suapin! Elo boleh kelaparan, tapi makan elegan dikit dong!"

__ADS_1


"Gak usah, Haidar! Gue... "


"Diem! Makan!" entah kenapa Yumna menurut saja saat Haidar menyuapinya. Dia tak habis fikir, biasanya mendebat Haidar sampai kepalanya panas, tapi kenapa kali ini dia menurut saja?!


Haidar menyuapi Yumna dengan perlahan, hingga bubur di mangkoknya habis.


"Nah, kalau makannya pelan-pelan kan cantik! Gak belepotan kayak anak tk!" lalu tangan Haidar terangkat, dia mengusap sisa bubur yang ada di sudut bibir Yumna. Yumna terpaku dengan perlakuan Haidar. Tidak menyangka. Dia terdiam mematung, susah untuk bergerak. Nafasnya serasa sesak karena rasa canggung yang menderanya.


Demi apa Haidar lakuin ini? Jangan sebaik itu sama aku Haidar. Jangan buat aku semakin bingung! batin Yumna.


Haidar bangkit dari duduknya seraya membawa mangkok kosong di tangannya.


"Mau nambah lagi gak? Masih ada di dapur!" tanya Haidar.


Yumna menggeleng pelan. Dia masih menata dan merasakan degup jantung nya yang tak beraturan.


Haidar pergi keluar dari kamar Yumna, dia berjalan menuju ke arah dapur. Di depan wastafel, Haidar terdiam. Di menyimpan mangkok kosong di tangannya, lalu menatap ibu jarinya bekas mengelap bibir Yumna. Entah dorongan dari mana, dia menarik ibu jarinya ke arah mulutnya dan merasainya. Merasai bekas dari bibir Yumna yang kini menempel dengan bibirnya.


Manis!

__ADS_1


__ADS_2