
"Kalian gak akan nginap di sini?" tanya Yumna saat Arkhan dan juga adiknya berpamitan untuk pulang ke rumah. Cukup menyenangkan makan malam di sini dan mereka berencana akan melakukannya lebih sering lagi ke depannya.
"Enggak ah. Kita pulang saja, Kak. Besok aja kalau libur kuliah, kita bakalan bawa Syifa ke sini. Boleh kan, Bang?" tanya Azkhan kepada Haidar, sedangkan Arkhan hanya diam sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana.
"Boleh dong. Kapan aja kalian mau ke sini boleh datang saja," jawab Haidar.
"Iya, bawa Syifa sekalian ke sini, jangan sampai dia ngambek kalau nggak diajak," ujar Yumna pada kedua adiknya.
"Iya. Kalau begitu kami pamit dulu, ya. Makasih atas makanannya," ucap Azkhan. Arkhan pergi dari sana mendahului adiknya menuju ke mobil.
"Oke, hati-hati di jalan, jangan ngebut," titah Yumna yang mendapatkan anggukkan kepala dari adiknya. Azkhan kini masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangannya saat kendaraan tersebut melaju.
"Sayang. Aku mau tanya," ucap Haidar dengan pelan. Melihat sikap Arkhan membuat Haidar masih tidak enak hati.
"Tanya apa?"
"Arkhan, apa dia masih marah ya sama aku? Dia enggak banyak bicara tadi." Haidar merasa sedih, upayanya untuk mendekatkan diri kembali dengan seluruh anggota Keluarga Mahendra rasanya sulit sekali dengan anak satu itu.
"Enggak tau. Udah deh, jangan pikirkan soal itu. Arkhan memang sifatnya rada beda sama adiknya. Dia jadi anak yang paling pendiam sedari dulu," terang Yumna. Meskipun istrinya sudah memberi keterangan, tapi Haidar masih tidak puas dengan jawaban tersebut.
Keduanya kini masuk ke dalam rumah bersamaan. "Kenapa dia beda sendiri? Yang lain aku lihat rasanya enggak begitu juga pendiamnya. Bahkan kamu juga nggak terlalu tertutup," ucap Haidar lagi. Yumna menggelengkan kepalanya. Dia juga tidak terlalu tahu sebab apa adiknya itu menjadi pendiam, tapi memang sedari kecil Arkhan dan Azkhan memang sudah berbeda sifatnya.
"Ya kan meskipun kami saudara juga gak mesti sama. Meraka aja yang kembar ada bedanya, apalagi sama aku. Jangan dibandingkan lah," ujar Yumna sambil tertawa kecil.
"Dari kecil, yang aku ingat, Arkhan memang punya sifat yang pendiam, beda sama Azkhan. Nggak tau kenapa. Tapi kalau soal sayang, peduli, dia jauh lebih peduli dari Azkhan. Maksudnya punya ciri khas masing-masing dengan bagaimana cara mereka untuk memperlihatkan kepedulian mereka satu sama lain," ujar Yumna.
Haidar setuju jika mengenai hal tersebut, seperti yang dia lihat tadi saat mereka makan malam, tatapan waspada dari pemuda itu membuatnya sedikit berhati-hati dengan ucapan maupun sikapnya.
"Apa kamu pikir aku bisa dekat dengan dia?" tanya Haidar lagi, kini mereka sudah hampir sampai ke dalam kamar mereka.
"Tentu dong," jawab Yumna senang. Tersenyum dengan bahagia sekali mendapati suaminya yang ingin dekat dengan sang adik.
Yumna berhenti sebelum membuka pintu kamar. Dan mengambil tangan Haidar.
"Makasih karena kamu sudah mau berusaha dekat sama adik-adikku," tutur Yumna. Haidar tersenyum senang. Bukan dengan harta kekayaan, tapi dengan hal yang sederhana begini saja sudah membuat istrinya terlihat bahagia.
__ADS_1
"Tentu aja, Sayang. Adik kamu, adik aku juga," ucap Haidar lalu mendekatkan diri dan mencium kening Yumna dengan lembut.
"Oh, iya. Mana oleh-oleh dari nenek? Aku mau dong."
Yumna teringat dengan benda itu. Tadi dia bawa ke dapur. "Aku akan bawa, ada di dapur," ucapnya, dengan segera Yumna berjalan dan mengambil paper bag oleh-oleh yang diantarkan kedua adiknya itu.
Yumna dan Haidar mencicip coklat itu bersama sebelum tidur. Rasanya sedikit pahit, tapi itu lah ciri khasnya.
Haidar paham dengan keadaan Yumna yang tidak bisa mandi pada saat malam hari, dia mengambil wadah berisi air dan membawanya ke tempat tidur.
"Aku bantu bersihkan," ucap Haidar. Tanpa malu dan tanpa ragu lagi Yumna membuka pakaiannya. Usia pernikahan mereka yang sudah setengah tahun tidak lagi membuat keduanya merasa canggung. Haidar mengelap tubuh Yumna dengan perlahan di hampir semua bagian.
'Si*l!' dengkus Haidar di dalam hatinya. Melihat dan menyentuh kulit putih nan mulus Yumna membuatnya sakit kepala atas dan bawah. Dia menahan dirinya sendiri, rasanya ingin memakan Yumna, tapi juga kasihan dengan wanita itu yang mungkin saja lelah setelah bekerja seharian.
Tangannya terus bergerak, mengusap punggung Yumna, lalu beralih ke area leher dan tangannya, sedangkan bagian depan ditutup dengan selimut oleh sang istri.
Cup.
Tanpa sadar Haidar telah mendekat dan mencium bahu Yumna yang tel*njang, membuat wanita itu sedikit terkejut.
"Yumna, boleh aku minta jatahku?" tanya Haidar dengan berbisik kepada istrinya itu.
...***...
Azkhan dan Arkhan telah sampai di rumah, sedikit terlambat karena mereka menikmati perjalanan yang lumayan cukup panjang hingga memutuskan untuk tidak menambah kecepatan. Lily jelas marah, baginya, meski anak perempuan atau laki-laki harus diperlakukan sama untuk jam pulang dari luar.
"Huh, kalian ini. Awas aja kalau besok kalian pulang lagi terlambat, Mama nggak akan bukain pintu buat kalian!" ujar Lily sambil berlalu setelah puas memarahi keduanya. Tenggorokannya kini serasa kering akibat berteriak. Lily tidak tahu jika dua anak itu akan mengantarkan cokelat kepada Yumna karena dia tidak mendengar keduanya berpamitan.
"Ah, Mama capek marahin kalian terus. Nggak ngerti-ngerti!" ucap Lily di tengah langkah kakinya yang mulai menjauh.
Syifa mendengar kedua adiknya dimarahi, kini tengah menatap dari sebalik pintu dan tersenyum puas. Kapan lagi dua anak itu dimarahi sang ibu.
"Kamu lagi apa?" tanya Bima yang sukses membuat Syifa terkejut, tidak menyangka jika sang ayah ada di belakangnya.
"Eh, Papa. Itu Pa, lihat si kembar dimarahin sama mama," ucap Syifa sambil tertawa kecil.
__ADS_1
Bima menggelengkan kepalanya dan mengusap rambut Syifa.
"Kamu itu ya. Kok kelihatannya bahagia banget mereka dimarahi mama," ujar Bima tak habis pikir. Syifa hanya tersenyum meringis memperlihatkan deretan giginya yang putih.
"Hehe, habisnya mereka kan suka jahil sama aku. Itu balasan karena mereka adik yang jahat!" seru Syifa. Bima keluar dari tempat persembunyian Syifa.
"Ya sudah. Sudah puas lihat mereka dimarahi, tidur sana," titah sang ayah.
"Iya." Syifa memeluk Bima dan mendapatkan ciuman selamat malam dari ayahnya itu.
"Tidur, jangan main-main lagi. Besok kamu bisa telat masuk kuliah," ucap Bima lagi. "Jangan ganggu adik kamu juga. Awas kalau sampai kamu ganggu." Tunjuk Bima tepat di depan hidung Syifa.
Anak kedua dari empat bersaudara itu mengerucutkan bibirnya, memang niatnya ingin sekali membuat kesal kedua adiknya.
"Nggak janji," ucapnya dengan tersenyum jahil.
Bima pergi ke kamarnya, sementara Syifa menunggu si kembar yang hendak naik ke lantai atas, dengan cepat gadis itu mengejar kedua adiknya dan mendahului mereka.
"Yeee yang udah dimarah mama. Enak kan kena marah?" tanya Syifa sambil tersenyum jahil.
Arkhan dan Azkhan saling berpandangan setelah melihat kakaknya yang berlari mendahului. Mereka saling tersenyum penuh arti.
"Nggak apa-apa. Nggak sebanding kok dimarahin mama juga. Yang penting, kita dah senang-senang. Iya kan Ar?" ujar Azkhan sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Hem. Ya, kita sudah senang-senang," balas Arkhan.
"Ngomong-ngomong, Kak. Ada salam dari Kak Yumna," ucap Azkhan yang sukses membuat kakaknya itu menghentikan laju kakinya yang cepat.
"Kalian ketemu Kak Yumna?" Dua adik kembar itu mengangguk bersamaan. Seketika Syifa menjadi marah mendengar hal tersebut.
"Ihhh, kalian nggak ngajak aku!" protes gadis itu. Wajahnya kini berubah cemberut menatap tajam pada si duo rusuh.
Arkhan dan Azkhan tersenyum kecil sambil memicingkan alisnya. Melihat Syifa kini berubah warna di wajahnya, memerah.
"Kalian tega! Kenapa nggak ngajak aku pergi ke sana?" teriak Syifa menatap duo rusuh yang kini melewatinya.
__ADS_1
Arkhan dan Azkhan tidak memberi jawaban. Mereka kini terus berjalan dan tidak peduli dengan protes dari kakaknya itu.
"Arkhan, Azkhan! Kalian nyebelin!"