YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
328


__ADS_3

Akhirnya hari ini di mana Yumna keluar dari perusahaan tersebut. Haidar menunggu istrinya di luar perusahaan saat hampir jam pulang bekerja. Randy tidak mempermasalahkan tentang keluarnya Yumna dari sana, mengenai denda yang harus dibayarkan karena belum selesai masa kontraknya. Apa lagi Yumna adalah anak dari Bima Satria yang kini tengah menjalani kerja sama dengan perusahaannya.


"Loh, kok aku nggak bayar denda?" tanya Yumna pada pihak HRD saat menerima sebuah lembaran surat. Yumna melihat dengan bingung isi yang ada di dalam sana.


"Nggak tau, coba kamu tanyakan saja sama Pak Randy. Kami kurang paham, tapi Pak Randy bilangnya begitu kemarin," ucap seorang wanita yang menjabat sebagai staf HRD tersebut.


Akhirnya, Yumna pergi ke lift, menuju ruangan sang atasan yang ada satu lantai di atasnya.


Satu ketukan di pintu terdengar pelan saat Randy tengah mengecek pekerjaannya. Randy bersuara menyuruh orang yang ada di luar pintunya untuk masuk ke dalam sana.


Mendengar izin dari Randy, Yumna mendorong pintunya sedikit, lalu melongokkan kepalanya ke dalam ruangan tersebut.


"Permisi, Pak," ucap Yumna saat melihat atasannya tersebut sedang fokus dengan berkas di tangannya.


Randy mengangkat kepalanya dan tersenyum saat melihat Yumna ada di ambang pintu.


"Eh, Yumna. Silakan masuk," ucap Randy mempersilakan Yumna. Wanita itu pun masuk ke dalam ruangannya dan menutup pintunya kembali. Randy sudah menebak dengan kedatangan Yumna ke ruangannya.


"Ada apa?" tanya Randy pura-pura tidak tahu. Jangan sampai kepedean juga, mungkin saja bukan soal yang dia pikirkan barusan.


"Maaf, Pak. Saya mau menanyakan soal ini." Yumna mendekat dan menyimpan kertas yang ada di tangannya.


"Bapak kenapa tidak mendenda saya? 'Kan saya bekerja kurang dari kontrak yang telah ditentukan," ucap Yumna bingung. Dia sempat berpikir jika ini karena ayahnya. Jangan sampai seperti itu, karena Yumna tidak akan suka sama sekali dirinya dibedakan hanya karena anak dari Bima Satria Mahendra.


"Oh, soal itu ...." Randy berhenti sejenak sambil melihat kertas tersebut, lalu menggaruk keningnya yang tak gatal sama sekali.


'Ternyata memang itu yang ditanyakan,' batin Randy.

__ADS_1


"Jangan hanya karena saya anak dari seorang Mahendra, Bapak membedakan saya dengan yang lainnya. Saya tidak suka, Pak." Yumna berbicara dengan tegas, membuat Randy yang hendak berbicara kembali mengatupkan mulutnya. Dia melihat sorot mata dari atasannya itu yang tampak aneh dengan senyuman di bibirnya.


"Maaf kalau saya lancang atau berani protes, tapi saya tidak suka dibedakan dengan yang lainnya," ucap Yumna sekali lagi.


Yumna memang sedari dulu tidak suka jika dirinya dibedakan hanya karena dirinya adalah anak pertama dari Bima Satria. Selalu saja hal itu membuat dia menjadi bahan iri dari teman-teman yang lainnya, dan bukan hal yang tidak mungkin jika hal itu akan terjadi lagi sekarang ini.


"Saya tidak akan menerima jika Bapak seperti itu dengan saya," ucap Yumna lagi saat Randy tak kunjung juga berbicara.


"Lalu kamu maunya apa?" tanya Randy kemudian.


"Seperti perjanjian awal, saya akan bayar pinalti jika saya tidak sampai di akhir kontrak saya," ucap Yumna. Randy menghela napasnya, bingung dengan wanita ini, dan juga kagum dengannya. Memang benar apa yang Aldy katakan, Yumna memang berbeda dari wanita yang lainnya, membuatnya semakin gemas saja.


Tiba-tiba saja Randy tertawa kecil, membuat Yumna merasa bingung dengan laki-laki ini.


"Saya salut dengan kamu, Yumna."


Yumna menatap atasannya ini dengan tidak mengerti, apa yang dia maksud dengan 'salut' yang ditujukan kepadanya? Bukankah membayar denda tersebut adalah kewajibannya?


"Eh, maksudnya apa ini?" tanya Yumna tidak terima. Dia menatap Randy yang kini mendekat ke arahnya. Yumna mundur satu langkah, sedikit takut setelah laki-laki ini berkata seperti itu.


"Bapak jangan bercanda!" tegas Yumna.


Randy menatap Yumna semakin tajam. Tersenyum senang saat wanita yang ada di hadapannya ini menatapnya seperti itu. Terlihat semakin cantik saja saat dia mengerutkan keningnya seperti itu.


"Saya tidak bercanda. Jujur saja saya memang suka sama kamu, Yumna. Mungkin saja saya suka sudah lama," ucap laki-laki itu lagi.


"Bapak jangan gila. Saya sudah bersuami," ucap Yumna takut, dia melirik ke arah pintu dan bersiap untuk berari jika laki-laki ini akan melakukan hal yang tidak-tidak terhadapnya.

__ADS_1


Randy bersandar pada tepian meja, melipat kedua tangannya di depan dada. Tertawa kecil seraya melihat ke ujung sepatunya.


"Saya memang sudah gila, Yumna. Sepertinya kamu yang sudah bikin saya menjadi gila. Saya tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya kepada seorang wanita," ucap Randy kepada Yumna.


"Saya sadar, kalau rasa yang saya punya ini tidak wajar, karena saya suka dengan wanita yang telah bersuami. Sialnya perasaan ini semakin lama semakin besar terhadap kamu, padahal saya sudah berusaha keras untuk memusnahkan rasa ini sedari dulu," ucap Randy dengan menghela napasnya terdengar kasar. Bukan dia tidak berusaha, sudah susah payah, tapi dia tidak bisa melakukannya.


"Maaf, bukan maksud saya apa-apa. Maaf juga jika sudah membuat kamu tidak nyaman karena ucapan saya. Kamu akan keluar dari perusahaan ini dan membuat saya rasanya hanya memiliki kesempatan sekali ini saja. Maafkan saya, ya," ucap Randy membuat Yumna tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Saya sudah lega sekarang ini karena sudah mengutarakan apa yang ada di dalam hati ini. Saya tidak punya maksud jahat. Maaf sekali, tapi saya juga tidak tahu kenapa saya bisa bicara seperti ini sama kamu," ucap Randy lagi. Malu rasanya, tapi mau bagaimana lagi? Dia sudah bicara dengan jujur kepada wanita ini.


Suasana yang ada di dalam sana menjadi canggung, rasanya Yumna sudah tidak nyaman lagi ada di ruangan itu dan ingin segera pergi.


"Ya, sudah. Kalau kamu mau bayar pinalti, tidak apa-apa. Kamu pergi saja dan minta seseorang untuk mengurusnya buat kamu," ucap Randy.


Yumna hanya menggerakkan kepalanya menunduk sedikit dan hendak melangkah pergi. Bosnya ini sedikit gila karena berani mengakui perasaannya pada seorang yang sudah bersuami.


"Yumna," panggil Randy menghentikan langkah kaki Yumna. "Untuk yang barusan saya minta maaf sekali. Saya akui saya sangat lancang sekali mengakui perasaan saya dengan kamu, tapi saya lega sekarang ini. Mohon maafkan saya. Mohon jangan dimasukkan ke dalam hati," ujar Randy meminta.


Yumna mengangguk saja, meski di dalam hati dia mengumpat jika laki-laki yang ada di hadapannya ini gila.


"Tentu saja, saya tidak akan mempermasalahkan ini selagi dalam batas kewajaran. Saya juga mohon maaf karena ternyata kehadiran saya di sini malah membuat Anda tidak nyaman," ucap Yumna, lalu sekali lagi menundukkan kepalanya dan pamit dari ruangan itu.


Randy menatap kepergian Yumna dan menarik napasnya lega. Sungguh ini bukan hal yang mudah yang bisa dia tahan jika semakin lama bertemu dengan wanita itu. Untung saja Yumna memutuskan untuk resign, bagaimana jika tidak? Bisa saja batinnya tak akan kuat untuk menahan beban hatinya selama ini.


...***...


Maaf baru up. Alhamdulillah, Othor dah dapat rumah kontrakan 🥰. Maaf beberapa hari ini sibuk beberes dan pindahan, sampai nggak bisa update 🤧. Insyaallah, setelah ini semoga bisa lebih lancar lagi menghalunya🤭.

__ADS_1


Mampir dulu disini, sambil nunggu Yumna up lagi nanti. Masih otewe ngetik lanjutannya 😘



__ADS_2