YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
260. Nikah Besok!


__ADS_3

Yumna mendengar suara klakson mobil dan berjalan dengan cepat ke dekat jendelanya, melihat ada beberapa mobil yang kini masuk ke halaman rumah. Rasa di dalam hati berdebar mengingat apa yang akan terjadi sore ini. Senyuman tak henti tersungging di bibirnya, sulit sekali untuk dia enyahkan. Tirai putih dia pegang erat, berusaha mengusir rasa debaran jantung yang kian tak beraturan.


"Cieee, yang mau dilamar dua kali!" seru Syifa, tiba-tiba saja dia ada di dekat Yumna dan melakukan hal yang sama, melihat arah luar kepada mobil-mobil yang kini berjalan menuju halaman rumah. Yumna terkejut dan sontak melepaskan tirai.


"Apaan juga, ih!" Yumna merasa malu, tak bisa menyembunyikan rasa di dalam dirinya.


"Aduh, padahal lamaran dua kali sekarang, tapi kok beda ya sama yang dulu? Hihi, merona gimanaaaa, gitu?" ucap Syifa menggoda kakaknya.


"Syifa, ih! Diem, deh ah. Sana ke bawah, bantuin mama, gih!" perintah Yumna. Syifa tertawa puas, kapan lagi bisa menggoda kakaknya sampai pipinya merah seperti itu?


"Iya, tapi nanti turun ya. Jangan pingsan loh!" ucap Syifa sambil tertawa lalu meninggalkan Yumna di kamarnya.


Yumna duduk di tepi ranjang, menyentuh dadanya yang kini berdetak tidak beraturan. Meskipun dulu pernah di lamar, tentu saja berbeda dengan sekarang ini, sekarang benar-benar pake bumbu cinta yang membuat hidupnya berwarna.


Ketiga adiknya tidak pernah tahu soal bagaimana dulu Yumna dan Haidar bersama, memang sengaja di rahasiakan persoalan masalah mereka yang memutuskan untuk menikah dengan perjanjian. Rasanya tidak baik jika adik-adiknya tahu dengan apa yang terjadi pada dirinya.


Lily dan Bima dengan senang hati menerima Keluarga Rahadian. Senyum mereka tersungging lebar di wajah masing-masing, senang dan sedih bercampur menjadi satu karena kedatangan mereka kali ini benar-benar akan membuat Yumna menjadikan milik mereka kembali. Doa tentu saja terucap di dalam hati masing-masing, mendoakan yang terbaik untuk putra putri mereka.


"Syifa, tolong panggil Kak Yumna," pinta Lily saat Syifa datang dan membantu asisten untuk menyajikan minuman ke hadapan para tamu.


"Siap, Ma." Syifa permisi kepada tamu yang ada dan pergi ke arah tangga.


Sepupu Haidar menyenggol lengan Haidar, sedikit mendekat dan berbisik pelan. "Tuh cewek siapa?" tanya Ryan, sang sepupu.

__ADS_1


"Adik ipar gue. Elo gak tau?" tanya Haidar bingung.


"Gak tau, pas elu nikahan gue cuma sebentar di acara."


"Oh iya, kan elu nyusulin si Stevy yang lagi sama cowok lain." Haidar tersenyum mengejek.


"Ish, jangan di bahas lagi ah, males gue!" Ryan kesal kala diingatkan soal mantan pacarnya itu.


"Siapa namanya? Manis, kenalin dong." Pinta Ryan dengan senyum memohon.


"Gak perlu lah, lagian dia terlalu polos buat jadi mainan elu," jawab Haidar dengan bisikan yang sangat pelan, hampir tersamarkan oleh suara pembicaraan para tetua yang ada di sana.


"Gue mau insyaf, ya kali aja dia jadi pelabuhan terakhir gue."


"Eh seratus persen deh gue mau insyaf. Ya, please. Kenalin gue sama dia." Ryan memohon kembali.


"Ekhem! Yumna, kemari." Bima berdehem membuat Haidar dan Ryan menghentikan pembicaraan. Bima sedikit kesal karena kedua pemuda itu sedari tadi saling berbisik, bukan dia tidak mendengarkan, samar dia mendengar jika dua pemuda itu membicarakan putrinya yang lain.


Yumna yang sudah sampai di lantai bawah mengulas senyuman dan mendekat ke arah mereka. Haidar terpana melihat Yumna yang malam ini sangat cantik sekali dengan gaun putih setinggi lutut, rambutnya tergerai hingga sepunggung.


Dengan malu Yumna duduk di dekat Lily, ini kali kedua Yumna dihadapkan dengan keluarga besar Haidar. Gugup pasti apalagi dengan beberapa orang yang kini menatapnya dengan intens.


Haidar terpana melihat Yumna yang tidak seperti biasanya, sedikit ada perona pada pipi yang membuat dia menjadi gemas ingin mencubitnya. Yumna menjadi malu ditatap seperti itu oleh Haidar.

__ADS_1


Pertemuan tersebut berjalan dengan sangat lancar. Dari pihak Bima tidak ada yang lain lagi, hanya hanya Bima, istri, dan keempat putranya, nenek dan kakek tidak bisa datang dari Singapura karena kakek sedang tidak sehat, hanya mendoakan yang terbaik bagi Yumna dan keluarga.


Tiga adik duduk dengan manis mendengarkan pembicaraan orang tua, sedangkan yang punya peran saling melempar pandangan ke arah satu sama lain dengan pipi yang bersemu malu.


"Ekhem! Dunia ini masih luas dan banyak orang lain, masih banyak penghuninya bukan hanya kalian berdua," ucap Mitha yang lalu meledakkan tawa pada semua orang yang ada di sana. Yumna dan Haidar menjadi malu karena kalimat dengan nada ejekan tersebut.


"Bagaimana ini? Di tanya mau nikah kapan kok malah saling tatap aja?" tanya yang lain lagi.


"Eh, besok sudah boleh nikah ya?" tanya Haidar tersenyum senang sampai lebar sekali senyuman itu di wajahnya.


"Atur tanggal dulu, Haidar. Jangan main gas aja. Aduuuh, ni anak pengen cepet ada yang kelonin lagi sampai gak sabar ya!" ujar yang lain.


Yumna dan Haidar sama-sama malu mendengar godaan dari yang lainnya.


"Jadi mau kapan nih? Atau serahkan saja sama orang tua baiknya kapan?" tanya Arya pada sang putra.


"Ya kalau bisa sih secepatnya, Ya kan Yumna?" tanya Haidar dengan senyum dan gerakkan alisnya yang naik turun. Yumna menunduk malu atas pertanyaan Haidar barusan.


"Kalian mau nya kapan? Mau bikin resepsi lagi kayak kemarin atau gimana?" tanya Arya.


"Gak usah resepsi lah, Pi. Penghulu aja dah lah, sah besok!" Haidar tersenyum seraya menatap calon istrinya yang lalu mendapatkan tatapan tajam dari semua yang ada di sana.


"Haidar!" teriak Mitha geram.

__ADS_1


__ADS_2