
Laras menatap wajah menggemaskan calon suaminya yang tertawa bahagia karena berhasil mengalahkan Richi dalam bermain video game.
Angela melihat Laras seperti sedang melamun, kemudian gadis itu menegur Laras.
"Nona? apa yang kau pikirkan?" tanya Angela.
"Aku tidak memikirkan apapun, hanya sedang menatap wajah calon suamiku yang sedang tersenyum bahagia," jelas Laras.
"Kau sudah benar-benar mencintainya?" tanya Angela.
"Iya, mencintainya dan hampir gila!" jawab Laras.
"Kau sangat beruntung memiliki calon suami seperti bosku, selain bertanggung jawab, dia juga pria penyayang dan memiliki jiwa sosial yang tinggi," puji Angela.
"Iya, dia memang seperti itu," jelas Laras.
Setelah puas bermain video game, keduanya pergi ke dapur, Laras yang sedari tadi menatap bos Alex, langsung mengarahkan pandangannya ke arah lain.
"Pasti kalian sedang membicarakanku," ucap Alex percaya diri.
"Cih, kau terlalu percaya diri," jawab Laras.
"Apa kau masih marah?" tanya Alex.
"Tidak, aku hanya ingin tidur lagi," jawab Laras sembari beranjak dari tempat duduknya.
"Aku antar ya?" ajak Alex.
"Tidak perlu," jawab Laras.
"Akan ada perang dunia setelah ini," celetuk Richi.
Laras yang merasa kesal, langsung berjalan menuju kamar utama, saat dia ingin membuka pintu, Alex menarik tangan Laras dan memeluk gadis itu dalam dekapannya.
"Maaf! aku hanya bercanda," ucap Alex penuh penyesalan.
"Aku tidak marah sayang, hanya mengantuk," jawab Alex.
Seketika itu juga Alex menggendong tubuh Laras, sang gadis memberontak, tetapi Alex tetap tidak perduli, dia tetap membawa tubuh mungil sang kekasih menuju kamar tamu.
__ADS_1
"Sial! kalau tahu kamar tamu tidak di kunci, dari tadi aku masuk saja," gerutu Laras sambil menyilangkan kedua tangannya di dada, bibir imutnya tak kalah memberikan reaksi yang menggemaskan.
"Kau diamlah, hentikan bicara hal yang tidak berguna, kau sudah terlalu menyiksaku hari ini, maka patuhlah! nanti kau akan mengetahui gaun seperti apa yang akan kau pakai saat kita menikah," jelas Alex sambil menjauhkan pandangan ke arah lain, semakin dia berbicara dengan menatap wajah Laras, dia khawatir akan lepas kendali.
"Hey! tatap mataku! kenapa kau melihat ke arah lain?" tanya Laras.
"Diam! sebelum aku tutup mulutmu dengan mulutku! kau tahukan apa yang akan terjadi selanjutnya jika kau membantahku?" jawab Alex dengan senyum bahagia, akhirnya dia mampu membalikkan keadaan.
"Cih, pria menyebalkan ini! turunkan aku!" pinta Laras.
"Iya, aku tahu calon isteriku, kau kecil, tapi kau berat sekali" keluh Alex.
Dengan perlahan, Alex menurunkan tubuh mungil itu di atas sofa dekat meja rias. Bos mafia itu meninggalkan Laras di sana dan masuk ke dalam sebuah ruangan, beberapa menit kemudian Alex kembali, dia membawa sebuah gaun pengantin.
"Pakailah! aku ingin tahu, lebih cantik calon isteriku atau gaunnya," ledek Alex.
"Iya, aku tahu, kau pasti lebih memilih gaun pengantin kan?" tanya Laras.
"Tentu saja, gaun itu selain penurut juga tidak banyak bicara sepertimu!" ucap bos Alex.
"Cih! akan aku buktikan jika aku lebih cantik, mana gaun itu! bisa-bisanya menggoda calon suamiku, tidak akan ku biarkan," jawab Laras gemas.
'Dengan benda mati semacam gaun pengantin saja cemburu, apa lagi ada gadis lain bertemu denganku? dia memang berbeda' batin Alex.
"Mengapa kau melamun? apa kau sedang membayangkan menikah dengan gaun ini?" tanya Laras.
Pertanyaan Laras tidak masuk akal, Alex di buat bingung oleh sang kekasih.
"Kau itu sebenernya cemburu atau tidak waras?" tanya Alex.
"Terlalu cemburu yang membuatku tidak waras, kau puas?" jawab Laras.
"Haha, ya terserah kau saja, lebih baik kau segera ganti bajumu dengan gaun pengantin ini," ucap Alex geli dengan tingkah tidak masuk akal Laras.
Bos mafia itu menyerahkan gaun yang ada di tangannya kepada Laras, gadis itu menerimanya dan segera menuju ruang ganti.
Beberapa menit kemudian...
Sepasang mata tajam Alex fokus menatap ciptaan Tuhan paling indah yang ada di depannya, entah apa yang membuat Alex begitu menggila dengan sang gadis.
__ADS_1
Tubuh mungil yang tingginya hanya se-pundak Alex, mata bulat indah, rambut sebahu yang di ikat rapi, poni tipis, serta wajah polos tanpa beban yang selalu memberikan aura positif padanya, gadis yang akan dia jadikan ratu di hatinya, sampai kapanpun tidak akan pernah tergantikan.
"Bagaimana? apa aku sangat cantik?" tanya Laras menghentikan lamunan Alex yang sedari tadi menatap Laras yang memakai gaun pengantin. Gadis itu bergaya bak model professional membuat Alex terpesona.
"Apa aku terlihat cantik sayang?" tanya Laras.
Alex masih belum menjawabnya, dia sedang menatap makhluk Tuhan yang akan segera ia miliki seutuhnya secara sah itu. Laras menghampiri Alex, dia mencoba menggoda Alex, dia masih ingin menguji sang mafia. Tangan mungilnya mulai membelai wajah Alex, tanpa terduga, Laras berjinjit dan mencium pipi sang kekasih.
"Hebat sekali, kau sepertinya sengaja melakukannya," ledek Alex yang berdiri mematung saat bibir itu menyentuh kulit pipinya.
"Tidak, itu hanya refleks, apa kau mau lagi?" goda Laras.
"Cih! kau ini benar-benar tidak ada rasa takut sama sekali," ucap bos mafia masih tetap berdiri tanpa melakukan apapun, dia pasrah karena terlanjur mengatakan ingin menahan diri.
"Kenapa harus takut, kau calon suamiku, aku akan jadi isterimu, yang aku miliki hanyalah rasa hormat untukmu bukan takut," jelas Laras.
Hasrat itu tidak tertahan lagi, Alex ingin sekali memakan habis bibir mungil itu, menjadikan suasana makin panas dengan suara indah sang kekasih yang tergiang selalu di pikiran dan sanubarinya kala tangan kekarnya mulai beraksi.
"Hentikan Laras, kita akan menikah, aku sudah menahan hasrat ini terlalu lama, jika aku melihatmu memakai gaun itu, aku khawatir insting binatangku akan muncul ke permukaan. Lebih baik kau ganti baju dan kita lakukan persiapan untuk pernikahan kita, aku akan keluar dulu," jelas Laras.
Saat Alex berbalik, tanpa ragu, Laras melingkarkan kedua tangannya di pinggang bos Alex, wajahnya bersender di punggung kekar sang mafia.
"Terimakasih sayang, kau sangat memegang teguh ucapanmu, aku rela kau miliki seutuhnya, lakukan apapun padaku dengan kasih sayangmu," ucap Laras.
"Lagi-lagi kau..." jawab Alex masih tetap menahan diri dari hasrat yang sudah memuncak itu.
Untuk beberapa detik, Laras menikmati tubuh kekar sang kekasih, dia terhanyut dalam hangatnya pelukan penuh cinta yang dia berikan kepada bos Alex.
Sang mafia yang hanya bisa diam tersenyum kecut.
"Malam pengantin kita, kau habis sayang!" tukas Alex.
"Habisi saja! seharian di ranjang juga tidak masalah," goda Laras sambil memejamkan matanya, dia tidak menyadari apa yang dia katakan.
"Bayaran yang sepadan! baiklah! lakukan apapun yang membuatmu senang," jawab Alex.
"Apa maksudmu? bayaran sepadan?" tanya Laras yang kini mulai membuka matanya.
__ADS_1
"Akan aku jawab setelah kita menikah, jika kau lupa , nanti akan aku ingatkan," jawab Alex dengan senyum simpulnya yang manis.