Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Chapter 53


__ADS_3

DORRR!!!!!


Pria itu mengeluarkan timah panas dari senjata api miliknya ke arah lengan Juna tanpa ragu, hingga jari-jari tangan milik Juna yang di gunakannya untuk menarik tangan Laras kini telah lepas karena sang pemiliknya telah roboh. Juna merasakan sakit yang teramat.


"Sial!!! kau benar-benar menembakku!!!" Ucap Juna yang meringis kesakitan akibat luka tembak di lengannya.


"Itu balasan untuk pria brengsek sepertimu." Jawab pria itu.


Pria itu membawa pergi Laras meninggalkan Juna yang mengerang kesakitan sambil memegang lengannya yang tertembak tadi. Juna masih saja mengumpat dan mengeluarkan sumpah serapah, tetapi pria itu tidak perduli. Pria itu tidak bergeming dan tetap melangkah ke depan bersama Laras di sampingnya.


"Tuan, siapa kau?" Tanya Laras.


"Aku Peter, anggota Death Angel yang khusus di utus oleh bos Alex untuk menjagamu." Jawab Peter.


"Huft, syukurlah jika kau anggotanya Tuan Alex, aku takut kau bagian dari anggota geng mafia lain yang dua hari ini menerorku tanpa henti." Jelas Laras.


"Kau ikut aku ke markas, Tuan sangat merindukanmu, dua hari ini dia sedang sibuk mencari informasi tentang Tuan Xiauling dan Zhen Ming. Jadi aku harap kau memahami tentang kesibukannya." Ucap Peter.


Laras merasa sangat bahagia dengan apa yang di ucapkan oleh Tuan Peter. Setelah dua hari lamanya tersiksa oleh rindu, akhirnya Laras bisa bertemu dengan sang kekasih.


"Masuklah nona, ini mobil khusus yang di beli oleh Tuan Alex untuk menjemputmu." Pinta Peter.


Setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil itu, Peter bersiap di kursi kemudi untuk menyetir mobil sport merah tersebut dan bergegas membawa Laras menemui bos Alex.


Di sepanjang perjalanan, Tuan Peter menanyakannya kepada Laras, tentang sosok pria yang mengganggunya tadi, tetapi Laras hanya diam dan tak kunjung memberikan jawaban. Tetapi karena dia benar-benar ingin tahu, Peter mengulang pertanyaannya berkali-kali, di saat terakhir, Laras mulai terbuka dan menceritakan segalanya tentang si pria pengganggu yang sangat menjijikan itu.


"Tuan, dia adalah mantan kekasih yang telah membuat hidupku hancur. Dia berselingkuh dengan sahabatku dan mencampakkanku. Tetapi tiba-riba saja dia datang dan memintaku kembali kepadanya. Apa itu adil untukku Tuan? setelah apa yang terjadi, dengan mudahnya dia meminta maaf dan memaksaku untuk menerimanya menjadi kekasihku lagi."


Dengan berderai air mata, Laras berusaha tegar menceritakan kembali kisahnya bersama Juna di masa lalu yang hingga kini masih meninggalkan bekas luka yang menganga di hatinya.


"Maafkan aku nona, bukan maksudku untuk membuatmu bersedih. Tetapi karena bos Alex memintaku untuk mencari tahu siapapun orang yang berada di sekitarmu saat ini. Kebetulan, saat aku mengintai nona Laras siang ini, kau sedang di ganggu oleh seorang pria. Jadi hanya itu tujuanku nona, karena perintah bosku. Berhentilah menangis, aku khawatir setelah sampai di markas utama, bos Alex akan menghukumku karena dia mengira aku yang menyebabkan dirimu menangis." Ucap Peter.


"Cih, kau ini, jangan merasa bersalah seperti itu. Aku yang akan membelamu jika bos mafia itu berani menghukummu. Tenang saja Tuan Peter, soal Tuan Alex biarlah menjadi urusanku." Jawab Laras sambil menghapus air matanya.


"Terima kasih, nona." Ucap Peter dengan senyum penuh ketenangan.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya Laras dan Peter sampai di markas utama Death Angel. Di depan markas, Laras sudah di sambut oleh Angela.

__ADS_1


"Kak Peter, apa kabar? lama tak berjumpa. Hem, kau semakin gagah dan tampan saja." Goda Angela.


"Baik Angela, kau bisa saja bocah kecil. Lama tak berjumpa, kau sudah bertambah tinggi saja." Jawab Peter.


"Sial!!! berhenti memanggilku bocah kecil!? aku sudah dewasa dan memiliki kekasih Kak Peter!!!" Ucap Angela kesal.


"Kau memang bocah kecil kan? wow luar biasa, kau selangkah lebih maju dariku. Siapa pria tidak beruntung yang menjadi kekasihmu itu?" Tanya Peter sambil menahan tawa.


"Kak Peter!!! awas kau ya!!!!"


Laras tersenyum melihat tingkah Angela yang memang masih seperti bocah kecil. Angela mengejar Peter yang berlari mengelilingi mobil sport merah milik sang bos.


"Ehemm."


Terdengar suara pria berdehem, mata Angela tertuju kepada sosok pria yang sedang berdiri di depan pintu markas utama dengan posisi kedua tangan menyilang di dada.


"Apa yang kau lakukan? kau membuatku menunggu gadisku terlalu lama. Masuk ke dalam ruanganmu dan baca kembali file tentang Tuan Xiauling yang sudah kau kumpulkan itu. Pelajari, karena beberapa hari lagi kita akan menyusun rencana menghancurkan Tuan Xiauling." Pinta sang pemilik suara yang ternyata adalah bos Alex.


"Baik bos!!!"


Tanpa basa-basi, Angela langsung masuk ke dalam ruangannya untuk segera mengerjakan tugas yang di berikan oleh bos Alex.


"Bos, aku harus kembali ke perbatasan, apa ada hal lain yang harus ku lakukan?" Tanya Peter.


"Tidak ada, kau kerjakan saja tugasmu. Terima kasih Peter, kau telah menjaga gadisku selama dua hari ini dan membawa dia padaku dengan selamat." Ucap Alex.


"Sudah menjadi tugasku, bos." Jawab Peter sambil bergegas pergi mengendarai mobil miliknya yang sejak dua hari lalu terparkir di halaman markas utama Death Angel.


"Gadis cantik, apa kau hanya akan berdiri di situ saja? kau tidak ingin memelukku?" Goda Alex.


"Tidak." Jawab Laras ketus.


Alex tidak bisa menahan diri untuk segera menghabiskan waktu dengan sang kekasih hari ini.


Bos mafia itu segera menggendong tubuh Laras dan membawanya masuk ke dalam ruangannya, dia merebahkan tubuh Laras di atas ranjang dan mengunci pintu ruangannya.


"Apa yang ingin kau lakukan Tuan?" Tanya Laras.

__ADS_1


"Kau selalu saja bertanya, tentu saja memakanmu."


Alex mulai mendekati Laras, dia menatap wajah cantik kekasihnya itu dengan seksama. Dia melihat mata sang gadis sembab seperti habis menangis.


"Apa kau menangis?" Tanya Alex.


"Tidak, aku hanya sedang tidak enak badan." Jawab Laras beralasan.


"Apa di kampusku ada orang yang mengganggumu?" Tanya Alex.


"Tidak ada Tuan." Jawab Laras berusaha menutupi apa yang sedang terjadi.


"Baiklah, jika kau tidak mau bicara, aku akan menelfon Peter, dia pasti tahu apa yang menyebabkan dirimu menangis."


Saat Alex mulai membuat panggilan ke nomor ponsel Peter, Laras mencegahnya. Laras perlahan mulai mengatakan apa yang membuat matanya menjadi sembab.


"Tuan, setelah aku bercerita, aku harap kau tidak marah. Apa kau bisa melakukannya?" Pinta Laras.


"Kalau itu suatu hal yang membuatku marah, sebisa mungkin aku akan menahannya." Jawab Alex.


"Tuan, saat aku sedang mengerjakan tugas kuliahku, tiba-tiba mantan kekasihku datang menemuiku. Awalnya dia bersikap lembut, tetapi setelah itu, dia menarik tanganku dan memaksaku ikut pergi bersamanya. Beruntung, ada Tuan Peter yang menyelamatkanku. Jadi, aku bisa lolos dari bahaya." Jelas Laras.


Raut wajah Alex berubah seketika, dia terlihat seperti singa yang kelaparan. Tetapi sebisa mungkin dia menahan amarah itu. Dia berusaha setenang mungkin. Alex diam sejenak, dia seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Tuan, apa kau marah padaku? maafkan aku Tuan, aku juga tidak bermaksud untuk bertemu pria lain di belakangmu, sungguh Tuan. Kau jangan diam, bicaralah sesuatu!!"


Laras memeluk tubuh Alex yang diam mematung itu. Sang gadis khawatir jika sang kekasih akan meninggalkannya setelah mendengar ceritanya. Laras takut sang kekasih salah paham kepadanya.


"Katakan siapa nama pria itu?" Tanya Alex.


"Juna Albram, Tuan." Jawab Laras.


"Kau tunggu di sini sebentar, ada yang harus aku lakukan untuk memberinya pelajaran." Ucap Alex.


"Tidak perlu Tuan, biarkan saja dia Tuan. Aku sudah tidak perduli dengannya lagi. Apalagi dia sudah mendapatkan ganjaran atas apa yang dia lakukan, tidak perlu kau mengotori tanganmu hanya untuk membuatnya jera." Cegah Laras.


"Kau tidak perduli, tetapi aku perduli, orang yang telah membuat gadisku menangis tidak akan mendapatkan pengampunanku. Biarkan aku memberinya pelajaran."

__ADS_1


Ucapan Laras tidak mampu mencegah langkah Alex untuk mencari pria yang telah membuatnya bersedih. Alex meminta Laras untuk tetap berada di ruangan sang bos mafia sampai dia kembali.


"Siapkan pusaramu, Juna Albram. Setelah ini, kau tidak akan mampu bernafas lagi." Gumam Alex dengan amarah yang membara.


__ADS_2