Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Chapter 115


__ADS_3

Alex keluar dari gedung megah itu, dia memutuskan untuk melepas bajunya, menyisakan celana pendek yang ia kenakan, ponselnya ia letakkan di atas pasir putih. Di saat kacau seperti hari ini, dia lebih memilih untuk berenang di laut lepas. Dia menikmati kesendiriannya, mencoba mencerna tentang apa yang harus ia lakukan untuk membuat sang isteri benar-benar memaafkannya dan tidak menjadikannya pria jahat setiap kali membahas Livy.


Cukup lama Alex membenamkan diri di air yang mengandung kadar garam sangat tinggi itu, setelah puas berenang, ia muncul ke permukaan dan duduk di atas pasir putih di bibir pantai dengan meluruskan kedua kakinya, kedua tangan ia jadikan tumpuan, kepalanya mendongak ke atas, menikmati suasana langit jingga yang indah, tapi kelam buatnya. Harusnya dia sudah memeluk erat tubuh Laras di senja yang memukau dengan sunset terindah yang ia dapatkan di sore yang cerah tak berawan ini.


'Laras adalah gadis yang sangat aku inginkan untuk menjadi isteriku, tetapi saat dia telah bersumpah dan mengucapkan janji pernikahan, justru aku lebih sering menyakiti daripada membahagiakannya. Livy, dia gadis malang, tetapi tidak baik jika aku terlalu mementingkan perasaan gadis itu lebih dari isteriku sendiri, aku harus segera urus masalah Livy ini agar tidak berlarut-larut, aku ingin segera punya baby A, jika aku masih bodoh seperti ini, kapan mereka akan hadir?" batin Alex yang mulai menyadari kesalahannya.


Bos Alex segera mengambil ponsel yang ia letakkan di atas pasir bersama bajunya itu. Dia menatap layar ponsel dan mengirim pesan kepada dokter Ikram.


'Dok, jika ada hal yang mengenai Livy, kau hubungi Richi, aku sedang fokus untuk membahagiakan isteriku, jangan sekali-kali membahas Livy saat berbicara denganku, awas kau!' Isi pesan Alex.


Setelah itu dia menelpon Richi, dia akan menyerahkan tugas mencari Livy kepada Richard.


"Richi, kau cari Livy, dia hilang, kau tanyakan apapun kepada dokter Ikram mengenai masalah ini, aku tidak ingin ribut dengan isteriku lagi," pinta bos Alex.


"Baiklah, tapi aku urus nona Jeni dulu bos, dia sama merepotkannya dengan Livy," jawab Richi.


"Jeni? bagaimana kau bersama Jeni? kau bermain api di belakang adikku?" tanya Alex.


"Sial! bukan, bukan itu maksudku, aku hanya menolongnya," jelas Richi.


"Terserah kau saja, pada intinya jangan sakiti Angela," pinta Alex.


"Siap bos! kau bujuklah isterimu, bisa-bisa kau tidur di luar malam ini," ledek Richi.


"Aku sedang mendapatkan cobaan itu, tidur di luar," gerutu bos Alex.


"Hahaha, aku hanya menerka, eh ternyata benar, yang sabar Lex, sudah ya, aku masih harus mengurus dua gadis menyebalkan itu, berbuat baiklah kepada isterimu agar dia segera memaafkanmu," saran Richi.


"Baiklah!" jawab Alex singkat.


Bos mafia itu menutup panggilan teleponnya, satu masalah telah usai, kini tinggal mencari cara agar Laras mau memaafkannya.


Bos mafia masuk ke dalam bangunan megah, dia masuk ke dalam sebuah ruangan rahasia, di dalam ruangan itu seperti kamar pada umumnya, tetapi yang membedakan ada tambahan ruang baca di sana.

__ADS_1



...(Tempat tidur)...



...(Ruang baca)...


Alex masuk ke dalam ruang baca, di dalamnya masih ada tempat tidur dan semacam ruang baju mini serta kamar mandi.



...(Ruang baju)...



...(Kamar mandi)...


Bos mafia itu segera membilas tubuhnya yang lengket itu dengan mandi di bawah air shower yang hangat.


Waktu sepuluh menit cukup untuk membersihkan seluruh tubuhnya dari sensasi lengket yang di timbulkan oleh air laut saat dia berenang tadi.


Dia mengambil handuk yang ada di kamar mandi itu dan melilitkan di pinggangnya, segera saja bos Alex berjalan menuju ruang baju, dia memilih baju santai saat di dalam rumah.


...* * *...


Malam hari menjelang, Alex merebahkan tubuhnya di atas ranjang ruang rahasia, lama-lama dia bosan juga, kemudian bos Alex keluar dari ruang rahasia dan duduk di atas sofa ruang tamu. Dia sendirian di depan televisi, hanya bantal yang bisa ia peluk, mengenaskan sekali.


"Huft! kapan kesialan ini akan berakhir?" ucap bos Alex.


Di saat ia meratapi nasib malangnya, ia beranjak dari sofa dan menuju ke dapur, dia berusaha membuat sang isteri terkesan dengan membuat hidangan makan malam.


Hanya butuh satu jam untuk bos Alex memasak, setelahnya ia tata rapi hasil karyanya di meja makan. Dia memasak hidangan khas jepang bernama shabu-shabu, salah satu makanan favorit bos Alex.

__ADS_1



Alex pandai memasak hidangan ala Jepang karena sang tetua yang mengajarinya. Sejak Guru Fu Renzo menitipkan Alex kepada tuan Fudo, Alex di gembleng menjadi pria yang mampu melakukan apapun, termasuk dalam hal memasak karena prinsip tuan Fudo adalah bertarung dan mempertahankan wilayah, tidak ada waktu untuk bertemu dengan para gadis, jadi memasak adalah salah satu keahlian yang harus di miliki oleh semua anggota Death Angel termasuk Alex. Kebanyakan para mafia tempo dulu yang seumuran dengan tuan Fudo, melajang hingga maut menjemput. Mereka tidak mau jika ada gadis di samping mereka, karena gadis adalah kelemahan para pria. Tapi semua anggapan itu terpatahkan oleh tuan Fernando, dia nekat memilih Raihana untuk di jadikan isteri. Tidak jauh beda dengan sang ayah, anaknya pun memiliki mental sekuat baja, dia menjadi pria yang bertanggung jawab atas Laras Nugraheni yang menjadi isterinya kini.


Setelah semuanya siap, bos Alex mengetuk pintu kamar tamu, tetapi tak kunjung ada jawaban, dia memberanikan diri mengetuk pintu kamar utama.


Tok...tok..tok..


Sepuluh menit berlalu, tapi tak kunjung ada respon dari sang isteri. Dia mencoba menelpon sang isteri, dia menunggu panggilannya mendapatkan jawaban, saat dia putus asa, tiba-tiba...


KLEK


Pintu kamar utama terbuka, dia sangat bahagia karena sang isteri akhirnya luluh dan mau memaafkannya.


"Bawa bantal dan selimut ini bersamamu!" ucap Laras.


"Apa? aku ingin tidur di dalam sayang!" jawab Alex.


Saat sang mafia hendak masuk ke dalam kamar utama, dengan sigap Laras langsung menutup pintu itu, membuat kepala bos mafia terbentur pintu yang tiba-tiba tertutup itu.


"Sial! kepalaku!" umpat bos Alex sembari mengusap kepalanya yang sakit.


Sungguh malang nasib sang mafia, dia sangat menyedihkan, dengan memeluk bantal dan selimut, Alex terduduk lemas di sofa ruang tamu.


"Sial...sial...sial!" umpat Alex berkali-kali sembari mengacak rambutnya kasar.


Kedua orang tua Laras perlahan membuka pintu kamar tamu, dia mengintip kondisi mengenaskan menantunya.


"Suamiku, kau lihat wajah mafia itu? dia terlihat frustasi," ucap nyonya Fira berbisik.


"Iya, biarkan saja, siapa suruh membuat anak gadis kita marah," jawab tuan Hans dengan berbisik pula.


Kedua orang tua Laras menutup kembali pintu kamar tamu dan membiarkan sang menantu tidur di ruang tamu, sebagai hukuman karena telah menyakiti hati anak gadisnya.

__ADS_1


__ADS_2