Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Chapter 31


__ADS_3

Laras bangun dari tidurnya dan kini perutnya terasa keroncongan. Ia bangkit dari ranjangnya kemudian melangkahkan kedua kakinya menuju pintu kamar dan membukanya perlahan. Kepalanya menengok kanan dan kiri. Saat di rasa aman, dengan pelan, Laras menutup pintu kamarnya. Secepat kilat Laras berlari menuju dapur. Dia terkejutnya saat melihat meja makan yang penuh dengan makanan kesukaannya. Tanpa basa-basi, Laras langsung melahap satu persatu makanan yang tersedia di meja itu. Tidak terasa perutnya terasa sangat kenyang, rasa laparnya sudah terpenuhi, kini berganti dengan rasa haus yang menyiksa. Laras beranjak dari tempat duduknya dan mencoba membuka pintu kulkas, Ia mengambil segelas jus jeruk buatan sang Ibu. Saat dia menutup pintu kulkas itu, nampak ada memo yang menempel di situ.


Kau makan lah sepuasnya, minumlah sepuasnya, lakukan apapun yang kau inginkan. Tapi ingat, kami memberikan waktu tiga hari untuk meninggalkan bos mafia itu. Kalau kau tidak mendengarkan kami, kau akan kami kirim ke Australia untuk menetap di sana langsung setelah tiga hari itu berakhir. Maaf kan kami sayang, ini kami lakukan untuk kebaikan dan masa depanmu. Kau tidak akan bisa keluar dari rumah karena semua pintu kami kunci dan di sekitar rumah kita ada anak buah ayahmu yang siap menangkapmu jika kau berniat ingin kabur.


Ayah dan Ibu


"Sial!! orang tua macam apa mereka, biasanya akan mengunci anak gadisnya di dalam kamar saat anaknya membuat mereka kesal. Tapi ini, apa maksudnya? mengunciku di dalam rumah." Umpat Laras sambil meremas memo itu dan membuangnya ke dalam tempat sampah. Segelas jus itu langsung di minumnya habis, Ia meletakkan gelas itu dengan kasar di atas meja.


Laras meninggalkan dapur dan kembali masuk ke dalam kamarnya, dia mencari ponsel pemberian


Alex. Seingatnya, Laras meletakkan ponsel tersebut di ranjangnya. Tapi tiba-tiba saja menghilang. Saat sedang mencari ponsel itu, Laras kembali menemukan memo di meja dekat ranjangnya.


Ponselmu kami sita, jangan menyimpan apapun yang di berikan Alex kepadamu.


Lagi-lagi Laras di di buat emosi tingkat tinggi, Laras merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia kini merasa sangat kesepian dan sendirian. Untuk tiga hari kedepan, dia harus berdiam diri di rumah dan memikirkan masa depannya yang harus segera di pilih, ingin bersama Alex dan pergi dari rumah, tapi adanya anak buah ayahnya, akan sangat menyulitkan rencananya. Jika menuruti kedua orang tuanya, Laras harus meninggalkan Alex untuk selamanya dan menetap di Australia, dia tidak bisa melakukannya.


Laras teringat akan nomor ponsel milik sang kekasih, Ia mencoba menelfon dengan menggunakan telefon rumahnya, namun tidak kunjung mendapatkan jawaban. Ia menjadi sangat sedih dan putus asa.

__ADS_1


"Aku butuh kau Tuan Alex, aku mohon selamatkan aku." Batin Laras seakan ingin berteriak memanggil kekasih hatinya.


* * *


"Hahaha... Tuan Alex, kau ternyata suka bercanda juga." Tawa Tuan Fu Renzo yang baru mengetahui jika putra dari bos nya dulu yang terkenal tidak banyak bicara itu, tiba-tiba menampakkan aura yang lebih humoris dan menyenangkan.


"Itu karena ada orang yang membuatnya menjadi seperti ini, Tuan Fu." Sahut Richi.


Alex menatap mata Richi tajam, Richi dan Tuan Fu saling pandang dan menahan tawa karena sang bos mafia kembali ke sifat asalnya.


"Kalau bukan karena aku sedang baik hati, kau sudah aku hukum Richi." Ucap Alex.


"Namanya Laras, gadis yang membuat Alex tergila-gila hingga tak mampu hidup tanpanya, benarkan itu kawan?" Celetuk Richard.


"Diam Richi." Jawab Alex.


Nada suara Alex terkesan penuh amarah, tetapi memicu tawa Tuan Fu dan Richi yang sangat puas karena sukses membuat sang bos salah tingkah.

__ADS_1


Alex merasa jika urusannya sudah selesai dengan Tuan Fu, Ia dan Richi berpamitan untuk segera kembali ke kota. Sang Guru mengatakan jika Ia sangat senang dengan kedatangan Alex dan Richi. Tuan Fu memberikan nasehat agar senantiasa berhati-hati dengan Tuan Xiauling. Ia belum mampu memberikan banyak informasi tentang pak tua itu karena Justin masih dalam kondisi yang kurang memungkinkan di ajak bertarung. Ia juga belum bisa memastikan Justin akan berada di pihak siapa nanti di saat terakhir karena sikap keras kepalanya yang tidak mampu di ganggu gugat itu. Dia berjanji dalam waktu dua minggu, Tuan Fu akan mengusahakan yang terbaik untuk kesembuhan putra dari Tuan Fernando itu.


"Terima kasih Tuan Fu atas waktu yang anda luangkan untuk kami, semoga setelah dua minggu, kami bisa bertemu kembali dengan melihat kesembuhan dari Kak Justin." Ucap Alex.


"Sama-sama Tuan, aku sangat senang bisa merawat putra dari Tuan Fernando, suatu kebanggaan bagiku jika mampu menyembuhkannya. Hati-hati di jalan kalian berdua." Jawab Tuan Fu sambil memeluk kedua anak buah Tuan Fudo itu sebagai salam perpisahan.


Alex dan Richi melambaikan tangan ke arah Tuan Fu, di iringi senyum yang mengembang di bibirnya itu. Sayup-sayup sosok Tuan Fu menghilang seiring langkah keduanya yang berjalan maju untuk kembali ke kota. Di sepanjang perjalanan, mereka tidak menemukan halangan yang berarti. Setelah menempuh perjalanan yang menghabiskan banyak waktu dan tenaga itu, akhirnya keduanya sampai di tempat terakhir mereka meninggalkan mobil. Keduanya masuk ke dalam mobil dan segera tancap gas meninggalkan hutan yang berada di kota utara itu.


Alex meminta Richi menyetir karena dia ingin menelfon sang kekasih. Sejak awal berangkat tadi, Ia belum memberikan kabar kepada sang kekasih hati. Saat Ia menghubungi Laras lewat ponsel, nomor milik Laras tidak terdaftar. Ia merasa ada yang janggal, saat Ia melihat layar ponselnya, terdapat deretan panggilan tidak terjawab dari nomor telepon rumah. Ia mencoba menelfon nomor itu dan langsung tersambung.


"Tuan, akhirnya kau menelfonku juga. Tolong aku Tuan Alex." Ucap Laras dengan suara tangis yang di tahanannya.


"Gadisku, maafkan aku. Aku baru saja menyelesaikan hal yang penting jadi belum bisa memberimu kabar. Kau baik-baik saja kan? dimana ponselmu? kenapa kau menggunakan nomor telfon rumah untuk menghubungiku?" Tanya Alex yang langsung mengenali siapa sang penelfon.


"Syukurlah, Tuan langsung mengenali suaraku. Aku di kurung oleh kedua orang tuaku di dalam rumah, ponsel pemberianmu juga di sita oleh ayah dan ibuku. Mereka memberikan waktu tiga hari untukku agar segera memutuskan hubungan denganmu, jika tidak, mereka akan mengirimku ke Australia dan membuatku menetap di sana. Aku menolaknya Tuan, aku tidak bisa jika tanpa dirimu. Bawa aku pergi dari sini." Jawab Laras.


Dia menutup panggilan telefonnya dan meminta Richi untuk lebih mempercepat laju mobilnya karena dia ingin segera sampai ke rumah Laras.

__ADS_1


"Aku akan segera datang dan membawamu pergi." Gumam Alex.


__ADS_2