
Di dalam rumah sakit, terjadi kegaduhan karena pasien bernama Aldren tidak terima jika kedua kakinya telah diamputasi. Pria itu menjadi orang yang kehilangan arah sebab dirinya telah dihancurkan dan kehilangan apa yang menjadi perjuangannya selama ini.
Seperti geng mafianya yang kini sudah menjadi milik MK, bukan hanya itu saja, anggota setianya berkhianat, itupun tidak hanya satu, tetapi semua anggota yang bersumpah setia kepadanya lari karena mendapatkan iming-iming berupa harta dan tahta yang lebih sepadan.
Aldren sudah kehilangan segalanya dia tidak bisa melakukan apapun selain meratapi apa yang terjadi di dalam kehidupannya.
Tuan Zash dan Tuan Win berjalan dengan cepat menuju ruangan tempat Aldren di rawat. Setelah menemukan ruangan yang dimaksud, kedua orang tersebut masuk dan membantu tenaga kesehatan menenangkan Al yang frustasi.
“Sus, biarkan aku yang melakukannya kalian pergilah, awasi dari luar,” pinta Tuan Win sembari mendekat ke arah Aldren.
“Kalian siapa?” tanya sang tenaga kesehatan.
“Kami adalah keluarganya,” jawab Tuan Win.
Seketika itu juga, Aldren terdiam. Jika tadi dia mengamuk, kini dia justru menangis. Dia benar-benar terlihat frustasi atas semua yang menimpanya, dia tak mampu menerimanya.
Tuan Zash mulai mendekat dan memeluk tubuhnya.
Al semakin sedih, dia menangis terus seperti bayi.
“Tuan, mengapa semua ini terjadi kepadaku? harusnya aku berjaya, bukannya terpuruk seperti ini.”
Aldren masih belum mengerti jika dirinya menjadi korban ambisinya sendiri, dia bahkan mempertaruhkan masa depannya yang indah bersama sang ayah, pria dengan title bergengsi. Memiliki banyak uang dan kekuasaan, dia memilih jalannya sendiri yang justru membuatnya terpuruk dan tersesat.
“Dengarkan aku, kau akan ikut bersamaku setelah ini. Ikuti semua yang aku katakan kepadamu, jangan sekalipun membantah!”
Tuan Zash mulai mendoktrin Al untuk kembali ke jalan yang benar, menjadi pria baik adalah salah satu bentuk pertobatan yang sesungguhnya.
Akan tetapi, apapun yang telah Tuan Zash katakan sepertinya hanya dianggap angin lalu oleh Aldren, pria itu tetap keras kepala.
Tuan Win mengkode Zash untuk keluar dari ruangan itu dan ingin membicarakan sesuatu karena pria malang itu sudah terlihat lebih tenang dari sebelumnya.
Tuan Zash memahami kode yang diberikan oleh Tuan Win. Keduanya kini berada di luar ruangan, suster yang bertugas sudah bisa masuk memberikan obat dan meminta Al untuk meminum obat dan beristirahat.
Keduanya duduk di kursi tunggu pasien, setelah itu baru membicarakan apa yang ada dipikiran Tuan Win.
“Zash, kita harus mencaritahu dimana orang tua Aldren, aku yakin jika Tuan Fernando bukan ayah biologis Aldren,” ucap Tuan Win, dia berharap dengan kembalinya Aldren kepada keluarganya akan membuat rasa frustasi bocah gila semakin berkurang.
“Aku sepaham denganmu. Nanti aku akan membantumu mencari keluarga pria itu, dulu pernah ada pembicaraan tentang ini antara kami berdua. Aldren hanya memberitahuku ada pria yang selalu membututinya saat berada di pemakaman sang ibu. Dia dan beberapa anggotanya berhasil membuat pria yang menggukan masker dan penutup kepala itu kabur, aku rasa pria tersebut ada hubungannya dengan Aldren. Kita coba datang ke pemakaman ibu Al, aku yakin pria itu akan datang dan mengira kita adalah Al.”
Ide Tuan Zash sangat brilian, ini membuat keduanya mendapatkan pencerahan atas permasalahannya.
Keduanya meminta kepada tenaga kesehatan yang menjaga Aldren agar senantiasa menjaga pria malang itu. Mereka berdua harus pergi karena ada urusan yang mendadak. Tuan Zash memberikan kartu namanya yang berisi alamat rumah serta nomor ponsel miliknya kepada seorang suster. Setelah itu, dia pergi bersama sang saudara ke pemakaman ibu Aldren.
Kedua orang yang bersaudara itu keluar dari rumah sakit dan berjalan menuju tempat parkir untuk segera mengendarai mobilnya yang terparkir disana.
“Biarkan aku yang menyetir karena aku yang mengetahui dimana letak pemakaman itu,” ucap Tuan Zash.”
Tuan Win mengikuti apa yang dikatakan oleh saudaranya itu, kemudian mobil yang dikendarai oleh Tuan Zash tancap gas menuju pemakaman Ibu Aldren.
Di sepanjang perjalanan, kedua orang itu sempat mengobrol tentang siapa Aldren sesungguhnya.
Tuan Zash mengatakan jika bocah itu adalah pria yang tersesat karena kehilangan seorang ayah dan ditinggalkan untuk selama-lamanya oleh sang ibu.
Tuan Zash sama sekali tidak tahu jika candaan yang sering Ia lontarkan adalah suatu hal yang terjadi dalam hidupnya.
Waktu itu, usia Al masih sangat belia yaitu 20 tahun, dia menjadi anggota salah satu geng mafia yang belum terlalu terkenal pada waktu itu. Dia hanya menjadi anggota yang menjaga markas, tidak sekalipun mengikuti misi ataupun pergi keluar kota menjalankan tugas yang lebih bagus.
Aldren mengatakan semua itu kepada Tuan Zash dengan nada bercanda kemudian tertawa bersama-sama, Tuan Zash tidak mengira jika apa yang dikatakan oleh bocah gila itu memang benar adanya.
Dia tidak bisa mengatakan apapun karena semuanya sudah terjadi, dia merasa menyesal tidak mampu memberikan petuah yang terbaik untuk Aldren.
"Aku sangat ingin mau melihat dia tobat, dia tidak melakukan hal-hal yang buruk lagi. Aku terlalu bodoh untuk melihat kesedihannya yang selama ini Aldren tutupi dariku," ucap Tuan Zash mengingat setiap saat wajah Aldren terlihat banyak masalah tiap kali bocah gila itu menemuinya.
"Dia aku menjadi anak baik setelah ini, kau tidak perlu mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi. Biarkan dia menjadi orang yang terlihat buruk tetapi akan semakin baik karena mampu melihat kesalahan yang pernah ia lakukan sebelumnya," jawab Tuan Win memberikan pencerahan kepada saudaranya itu karena dia melihat sang saudara terpukul atas kecelakaan yang menimpa bocah gila itu.
Beberapa menit kemudian ...
Dia saat keduanya masih terlibat perbincangan, Tuan Zash langsung mengatakan berhenti karena makam ibu Aldren sudah ada di depan mata.
"Kita turun di sini saja," pinta Tuan Zash meminta sang sodara untuk menghentikan mobilnya dan memarkirkan mobilnya di samping gapura pintu masuk ke dalam pemakaman itu.
Setelah itu, keduanya turun dari mobil secara bersamaan dan berjalan menuju pemakaman yang jaraknya tak jauh dari gapura tersebut.
Lima menit kemudian, kedua orang itu telah sampai di pemakaman ibu Al.
Tuan Zash dan saudara terkejut saat mendapati seorang pria sedang bersimpuh di depan pusara ibu Aldren.
Terdengar jelas pria itu menangis sesunggukan dan mengatakan permintaan maaf yang teramat dalam.
"Istriku, maafkan aku karena telah melakukan kejahatan terhadap mu. Semua yang terjadi kepadamu adalah kesalahanku, aku sudah mencari anak kita dimanapun tetapi aku tidak menemukannya, tetapi beberapa hari yang lalu aku pernah bertemu dengannya dan memintanya tinggal bersamaku. Dia dengan tegas menolakku setelah aku memberikan fakta yang sesungguhnya tentang hubungan kita. Ini adalah salahku, semua adalah salahku. Jika kau masih hidup kau pantas untuk menembak mati diriku, aku tidak pantas mendapatkan kekayaan yang ada di sekelilingku hari ini, Ini semua adalah milik anak kita. Grace, jika kau mendengar apa yang aku katakan berikan aku petunjuk melalui apapun itu, Aku sangat ingin bertemu dengan anakku." Si pria yang terlihat sama dengan pria yang menemui Aldren waktu itu menangis kesanggupan dan memukul pusara itu dengan sangat keras, dia berharap orang yang ada di dalam usaha itu bisa keluar dan mengatakan sesuatu kepadanya.
Tuan Zash dan saudara yang telah memantau dia tersebut dari jauh, mencoba mendekati pria yang terlihat sangat sedih itu.
"Maaf Tuan, apakah ada hubungannya dengan wanita yang telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu?" tanya Zash tiba-tiba membuat pria itu terkejut.
__ADS_1
"Siapa kalian?" ucap si pria sembari menoleh ke arah kedua orang itu.
"Jika kau ada hubungan dengan wanita yang menepati pusara ini, aku bisa menjamin kau adalah ayahnya, anakmu ada di rumah sakit, dia baru saja mengalami kecelakaan."
Si pria terkejut bukan kepalang, dia ingin melihat anaknya dengan segera.
Dia meminta kedua saudara itu untuk mengajaknya nya mendapatkan perawatan pasca kecelakaan tersebut.
Akan tetapi Tuan Zash melarang sang pria untuk bertemu dengan anaknya.
Ada sesuatu yang harus Tuan Zash sampaikan sebelum anak dan ayah itu bertemu.
"Tuan, jika kau suami dari wanita yang pusaranya ada di depan mu ini, kau harus ikut bersamaku!" pinta Tuan Zash.
"Iya, apa yang kau katakan adalah suatu kebenaran, aku memang orang yang kau maksud." Pria itu tanpa basa-basi langsung mengakui identitasnya padahal sebelumnya dia sangat sensitif mengenai identitasnya. Dia adalah seorang bos besar memiliki banyak harta. Apapun informasi tentang dirinya sangat rahasia, namun untuk yang satu ini dia melakukan pengecualian. Pria tua itu lebih mementingkan sang anak yang sekian lama ia telantarkan dan menjadi orang yang tidak mengetahui sopan santun saat bertemu orang yang lebih tua ataupun menghormati setiap kasih sayang diberikan.
Sifat Aldren, tidak sepenuhnya jahat karena dia juga menuruni sifat sang ayah yang pemurah dan tidak pernah perhitungan soal uang. Karakternya sebagai seorang bos mafia menjadikan dirinya angkuh dan arogan, semua kebaikan yang diberikan dan diajarkan oleh sang ibu bilang begitu saja, tidak ada harapan untuk dirinya menjadi orang yang lebih baik.
Sang ayah juga mengatakan selama ini mengawasi sang anak tetapi tidak mampu menerobos geng mafia yang sedang Aldren pimpin, meskipun tidak memiliki kuasa, semua itu tidak berguna.
Justru yang terjadi adalah sang pria akan mendapatkan masalah yang lebih rumit lagi selain kebencian sang putra terhadap dirinya yang telah terpupuk sejak lama.
"Tuan, hentikan semua kesedihanmu karena Aldren kita membutuhkan, kau harus ikut bersama aku ke rumah sakit." Tuan Zash meraih tangan pria itu dan mengajaknya pergi ke rumah sakit tempat Aldren dirawat.
Sang pria sangat antusias meskipun dia harus melewatkan beberapa pertemuan penting dengan klien yang sedang bekerja sama dengannya. Itu tidak berguna, yang terbaik adalah sana, harga tidak ada artinya tanpa kebahagiaan Aldren.
Setidaknya itu yang sedang iya rasakan kali ini.
******
Tuan Zash dan saudaranya telah berhasil membawa pria tersebut masuk ke dalam mobil dan langsung pergi menuju rumah sakit mengendarai mobil.
Di sepanjang perjalanan, ke tiga orang itu membicarakan tentang Aldren.
Tuan Win yang mengetahui seluk-beluk kehidupan Al, memberikan kan banyak informasi kepada pria tersebut.
"Tuan, anak anda adalah seorang bos mafia yang memimpin banyak anggota tetapi kali ini dia mendapatkan masalah. Sebuah insiden kecelakaan membuatnya kehilangan segalanya, sampai saat ini tidak ada seorang anak buah ataupun orang-orang kepercayaannya menjenguk ke rumah. Aku bisa memastikan mereka telah mendapatkan tawaran yang lebih baik dari menjadi seorang anak Aldren." Tuan Win berbicara panjang lebar.
Pria tua itu mencoba memahami keadaan yang sedang ia alami, dia terlihat sangat syok saat mengetahui putra semata wayangnya menjadi seorang penjahat.
"Aku akan memperbaiki segalanya, anakku, biarkan aku saja yang mengurusnya. Ini sebagai tanggung jawabku karena ayahnya adalah diriku, kalian berdua lakukanlah pekerjaan yang harus dilakukan sebaik mungkin, aku menyadari jika dia menjadi bos mafia juga bukan keinginannya. Aldren melakukan hal itu juga pasti memiliki satu alasan yang kuat." Sang pria tua semakin bijak dalam melihat permasalahan dari dua pihak.
Dia tersenyum melihat kedua orang yang mau membantunya itu.
"Terimakasih, telah menjaga anakku dengan baik selama ini. Aku sangat berterima kasih kepada kalian berdua, setelah ini aku akan memberikan separuh harta kepada kalian. Aku tidak membutuhkan uang untuk bahagia karena kebahagiaan ku hanya saat melihat anakku tersenyum," ucap si pria tua kembali berkaca-kaca, dia duduk di jok belakang dan menyeka air matanya yang hampir jatuh.
"Aku sudah terlalu tua untuk menjadi penguasa, biarkan anakku yang menggantikannya dan kalian membantu dalam mengurus segala harta yang aku miliki. Aku meyakini kalian orang-orang yang baik, kalian bisa menggunakan fasilitas yang aku miliki untuk melawan musuh-musuh kalian." Sang pria tua sudah pasrah dengan kehidupannya yang kelam itu, serta memberikan segalanya kepada sang putra dan meminta kedua saudara itu untuk mengawasi.
Tuan Zash sebenarnya tidak setuju karena dia memiliki banyak pekerjaan, kemudian rasa ragu nya langsung ditepis karena ini adalah untuk kebaikan Aldren.
Dia mengkode Tuan Win, ternyata saudaranya juga menyetujui apa yang yang dikatakan oleh ayah dari Aldren itu.
"Baiklah, demi kebaikan anak dan ayah kami akan melakukan segalanya yang terbaik, jangan menghawatirkan tentang harta benda lebih baik kau jaga kesehatanmu aku melihat kau sangat kurus dan pucat, apa dirimu kurang makan tuan?" tanya Tuan Zash.
"Iya, aku memang tidak terlalu sehat dan jarang makan serta terlalu banyak begadang, Aku memikirkan masa depanku, memikirkan anak-anakku yang sudah tumbuh dewasa, terutama Al, dia adalah anak yang sangat aku sayangi dibanding anak-anakku yang lain karena dia lahir dari rahim seorang wanita malam kesayanganku. Aku terang-terangan mengaku ini karena memang sebenarnya aku tidak terlalu mencintai istriku yang sah, dia telah memberikanku segalanya, anak, tahta, harta serta apapun yang ada di benakku tetapi dia melupakan bahwa diriku ini adalah seorang pria yang mampu bertanggung jawab atas nya, bukan menjadi beban baginya."
Tuan Zash memahami kesulitan yang dialami oleh sang pria, dia akan berusaha menjaga kesehatan pria tua itu karena di dalam kehidupannya Aldren adalah yang, jika dia sakit-sakitan, kecil kemungkinan untuk berhadapan langsung kemudian mengatakan rasa sayang kepadanya.
Beberapa menit kemudian, mobil itu kembali hadir di depan gedung rumah sakit itu.
Ayah Aldren sangat antusias untuk bertemu putranya kembali, dia sangat merindukan Aldren sampai bermimpi.
Dia selalu memikirkan sang putra setiap kali mengingatnya.
*********
Saat Tuan Zash dan Tuan Win masih sibuk dengan urusan keluarga Aldren.
Richi mengalami beberapa masalah saat berada di di markas MK yang berada di pegunungan.
Ada beberapa orang yang mencurigai keberadaannya, ini sangat genting karena dia berada dekat dengan markas tersebut.
Dia segera menelpon sang bos untuk melakukan langkah selanjutnya yang akan dia lakukan.
"Lex, aku dan beberapa anggota terancam. Apakah ada solusi untuk hal ini?" tanya Richi kepada sang bos yang sepertinya juga merasa pusing.
"Kau terdengar mengumpat, apa yang terjadi padamu?" Si Richi kembali bertanya tentang keadaan yang sedang dialami oleh sang bos.
"Aku kehilangan jejak Aldren, harusnya dia masih berada di dalam pantauan ku. Apakah kau tahu di mana pria itu bersembunyi?" tanya sang bos ya sudah kesal sendiri, dia sangat merindukan selisih tetapi kasus yang membelitnya tidak selesai juga. Apalagi tentang kerinduannya terhadap sang istri dan kelima anaknya, serta 1 anak yang berada di kandungan Laras.
Dia kesal harus bekerja keras disaat-saat masih membutuhkan dirinya..
Namun, rasa dongkol itu berubah menjadi kebahagiaan, bertemu semua anggota adalah hiburan baginya.
"Dia sedang berada di rumah sakit, apa kau ingin menjenguk?" tanya Richi mengejeknya.
__ADS_1
"Cih, pasti kena batunya ya? bukan salahku jika dia merasakan balasan yang sangat berat."
Sang mafia merasa puas dengan apa yang terjadi kepada musuhnya, akan tetapi dia merasa kasihan dan ingin menjenguk juga.
"Aku ingin menemuinya nanti, setelah aku membersihkan nama baik untukku di media massa, atau aku akan datang kerumah sakit dan memintanya mengatakan sesuatu kepada media," ucap Alex yang belum mengetahui keadaan sebenarnya dari Aldren.
"Dia depresi karena mengalami kecelakaan tragis, jika menyuruhnya mengatakan hal tersebut kau pasti akan dicakar olehnya."
Sang mafia tertawa karena mendengar lelucon yang kadang tidak terlalu mengocok perut itu. Richi tidak akan menjadi pelawak tetapi mampu membuatnya tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha ... dia berani maju saja sudah aku tendang, apalagi mencakar ku pasti aku akan mencakar balik dia." Sang mafia menghilangkan kepenatan karena urusannya kepada banyak pihak.
"Oh ya, aku harus melakukan?" tanya Richi kembali mengingatkan pertanyaan yang sebenarnya ingin Ia sampaikan kepada sang bos.
"Kau tetaplah disitu karena aku akan mengirim beberapa anggota kepercayaanku untuk ikut bersamamu mengawasi markas MK."
Alex agar segera turun ke medan pertempuran untuk mengalahkan MK yang saat ini semakin menggila saja dengan banyaknya anggota mafia menjadi di bagian dari gengnya.
"Siap bos! aku akan melaksanakan apapun yang kau perintahkan," ucap Richi, dia memang begitu selalu. Sangat setia dan selalu melakukan hal-hal yang memberikan cinta kasih kepada sahabat.
*******
Panggilan berakhir, dia tiba-tiba saja mendapat seseorang memukul dari belakang.
Para anggota langsung menyergap pria itu dan menginterogasinya.
"Siapa kau?"
"Aku adalah seorang mantan anggota Lucifer, Aku ingin bergabung bersama kalian untuk melawan MK. Dia telah membuatku harus kehilangan seluruh anggota keluargaku akibat perbuatan MK?"
Sang pria sangat mencurigakan kemudian Richi langsung mengikat kedua tangan ada kakinya.
Richi membawanya masuk ke dalam markas darurat miliknya yang berada di sekitar markas utama MK.
Beberapa menit berlalu, Richi memastikan bahwa orang yang mengaku sebagai anak buah Lucifer itu suatu kebohongan. Jadi, pada intinya sang pria yang menjadi pura-pura itu memiliki satu misi yang sama dengannya.
"Tidak perlu berbohong untuk mencapai tujuan, kita bisa bersama-sama menghadapi kebrutalan MK yang tidak ada obatnya itu."
Sang mafia sangat senang mengetahui fakta yang sebenarnya tentang pria yang ada didepannya ini.
Richi sudah bisa menguasai keadaan hanya dengan satu kata, bekerjasama menghabisi MK.
"Hm ... aku tidak terlalu memikirkan harta ataupun tahta yang sebenarnya, aku hanya ingin kehancuran MK kemudian menghabisinya dengan sangat sadis!" jelas sekali ucapan dari pria yang ada di depannya, Richi sangat menyukai sikap tegas yang diberikan oleh pria tersebut.
"Oke, mari kita bekerja sama."
"Apa untungnya jika aku bekerja sama denganmu?"
"Kau akan mendapatkan perlindungan dari kami, entah kau adalah salah satu anggota mafia lain yang sakit hati dengan MK, atau hanya orang biasa ingin menyerangnya karena sikap MK yang kurang ajar itu. Pada itunya adalah kau tidak akan pernah bisa lepas dari kami sebelum menunaikan tugas bekerja sama, ya kami hanya minta bekerja sama saja tidak lebih."
Richi semakin mempertegas ucapannya karena melihat sang pria begitu ambisius mengalahkan MK, meskipun sang pria terlihat meremehkan Richie dan semua anggota yang berada di markas disebut.
"Baik, aku menuruti apapun yang kau katakan."
"Bagus! kita akan bekerja sama dengan baik."
"Bukan hanya baik tetapi sangat baik."
Kedua orang itu saling berjabat tangan disaksikan oleh beberapa anggota yang berada di tempat itu.
*******
Richi memberikan tugas kepada sang pria tersebut ia meminta sang pria agar menyamar menjadi anggota dari MK.
Ini terasa sangat sulit tetapi sebenarnya mudah.
Dengan cepat, pria tersebut langsung merespon keinginan Richi.
"Baik, mulai kapan aku melakukan penyamaran?" tanya Richi.
"Sekarang juga boleh, kau jadilah orang yang memasok senjata api untuk mereka. Aku memiliki beberapa senjata api yang bisa kau jadikan contoh, perbedaan terkecil karena aku sudah menyiapkan segalanya."
Richi cukup jeli untuk melakukan hal yang sangat berbahaya ini, dia bahkan mempertaruhkan nyawanya untuk mendapatkan senjata api yang langsung dari pemasok utama.
"Ini jenis terbaru dan kau harus menghafal serinya, jika tidak, mereka akan mencurigai mu!"
"Oke."
Richi menjelaskan satu persatu dengan sangat detail agar tidak terjadi kekeliruan berbuntut penyamaran yang gagal.
Beberapa menit berlalu, sepertinya orang itu sudah siap untuk menjadi umpan agar beberapa orang keluar dari dalam markas kemudian para anggota Death Angel bisa berpencar untuk mengepung markas itu dari segala penjuru.
"Silahkan Bertugas, semoga kau berhasil!" ucap Richi.
"Baik Tuan."
__ADS_1
Richi merasa lega karena setelah beberapa hari berada di tempat ini, akan ada masanya dia menyerang dan mengalahkan MK.
*******