
"Juna, ayah dengar kau baru saja di tembak oleh orang misterius saat kau ingin membawa putri Tuan Hans, apa itu benar?" Tanya ayah Juna, Tuan Albram Zein.
Juna tidak ingin mengakuinya, tetapi perban yang membalut lengannya sudah mampu mengatakan segalanya. Juna tidak bisa mengelak lagi.
"Maaf ayah, aku hanya..."
Sebelum selesai bicara, tamparan keras sudah lebih dahulu mendarat di wajah Juna.
"Lancang sekali, kau sudah ku larang menemuinya. Tetapi kau masih membangkang. Apa kau sudah bosan hidup, anakku?" Jawab Tuan Albram Zein.
"Ampuni aku ayah, aku hanya ingin membalas dendam atas perlakuan ayah gadis itu yang telah membuatku malu di depan umum. Aku ingin menghancurkan masa depan Laras." Jelas Juna.
"Apa yang bisa kau lakukan untuk menghancurkan Laras? sedangkan ada bos mafia paling berkuasa di kota ini yang selalu berada di sisinya." Ucap Tuan Albram Zein.
"Maksud ayah?" Tanya Juna.
"Aku baru saja bekerjasama dengan Tuan Xiauling, pria hebat yang telah merebut Perusahaan Dounghun Farmasi. Aku puas saat Fira dan keluarganya hancur." Jawab Tuan Albram Zein.
"Ayah, boleh aku bertanya sesuatu kepadamu?" Ucap Juna.
"Tanyakan saja." Ucap Tuan Albram Zein.
"Mengapa ayah dan ibu tidak menyukai kedua orang tua Laras? sedangkan waktu itu harusnya kalian bisa bekerja sama?" Tanya Juna.
"Apa kau benar-benar ingin tahu?" Tanya sang ayah.
"Jika ayah berkenan, aku ingin mendengarkan penjelasan ayah." Jawab Juna.
"Ibumu adalah mantan kekasih Hans dan aku adalah mantan kekasih Fira. Hubungan rumit ini, ayah tidak memahaminya sama sekali. Sampai suatu hari saat Fira ingin menikah, dia tiba-tiba saja menghilang. Saat aku tahu, dia telah bersanding dengan Hans. Dia lebih memilih kepala polisi itu daripada ayah, mungkin karena dulu ayah masih amatiran dalam berbisnis jadi dia meragukan kemampuanku dalam mencari nafkah untuk dirinya kelak saat kami membina rumah tangga. Kedua orang tuanya juga mengacuhkanku, selama kami menjalin kasih, mereka selalu merendahkanku. Dua tahun setelah pernikahan mereka, ayah bertemu dengan Ibumu. Awalnya aku tidak mengetahui jika dia adalah mantan kekasih Hans. Hubungan kami berjalan dengan baik hingga pernikahan. Saat kau berusia satu tahun, Hans mendatangi Ibumu dan mengatakan jangan pernah mengganggu kehidupannya. Saat itu mungkin saja Ibumu masih belum terima jika Hans meninggalkannya begitu saja. Sama seperti ayah, yang di tinggalkan oleh Fira waktu itu. Atas dasar sakit hati kami berdua, kami berusaha keras merusak apapun yang menjadi kebanggaan Hans dan Fira, termasuk Perusahaan Farmasi miliknya. Tapi kami tidak kunjung berhasil, hingga ada orang yang mampu merebut Perusahaan besar itu dari tangan Fira, hal yang membahagiakan yang kami tunggu tiba juga. Kehancuran Fira dan Hans." Jelas Tuan Albram Zein.
"Kita memiliki alasan yang sama, bisakah kita bekerja sama, ayah?" Tanya Juna.
"Cih, kau masih bocah, anakku. Biarkan saja ayahmu yang bertindak karena yang akan kau hadapi depanmu bukan orang-orang sembarangan." Jawab Tuan Albram Zein.
"Maksud ayah tentang bos mafia itu, apakah dia kekasih Laras?" Tanya Juna.
"Iya, Tuan Xiauling yang mengatakannya padaku. Kita harus bermain cantik, anakku. Biarkan saja Tuan Xiauling yang mengurus mereka, kita hanya perlu memberikan uang kepada Tuan Xiauling, dia akan membereskan segalanya." Jawab Tuan Albram Zein.
"Siapa Tuan Xiauling itu ayah? bagaimana ayah bisa mengenalnya? Bos mafia menjadi kekasih gadis polos seperti Laras?" Tanya Juna penuh kebingungan.
__ADS_1
"Lebih baik kau istirahat dulu, pasti luka tembak itu menyakitkan bukan? jangan memikirkan hal yang tidak berguna." Pinta Tuan Albram Zein.
"Baik, ayah." Jawab Juna menuruti permintaan sang ayah.
Setelah sang anak keluar dari ruangannya, Tuan Albram menelpon seseorang.
"Bagaimana rencanamu? apa sudah kau bereskan si bos mafia dan keluarga Hans itu?" Tanya Tuan Albram.
"Tunggu kabar dariku, setelah ini semua akan aku bereskan." Jawab sang penerima telepon.
"Baik Tuan Xiauling." Ucap Tuan Albram Zein.
* * *
Waktu yang di nanti tiba, Alex berkemas untuk segera pergi menemui Tuan Xiauling di Perusahaan milik nyonya Fira. Dia membawa tiga pistol sekaligus, karena tidak menutup kemungkinan akan ada baku tembak di antara dirinya dan Tuan Xiauling. Si pria tua licik itu akan melakukan hal yang tidak terduga kapan saja.
Laras menatap wajah sang kekasih yang tengah mempersiapkan diri untuk pertemuan dengan Tuan Xiauling, nampak raut sendu kembali menggelayutinya wajah cantik sang gadis. Alex yang menyadari kekhawatiran Laras, dia menghampiri sang gadis yang sedang duduk di atas ranjang. Dia bersimpuh di hadapan sang gadis dan berjanji tidak akan melakukan kesalahan sedikitpun, dia akan kembali dengan selamat.
"Tuan, apa kau akan menepati janjimu? kemarin saat kau tertembak, aku hampir kehilangan akal, kau terlalu berani untuk melakukan hal yang berbahaya." Ucap Laras sambil menggenggam kedua tangan Alex erat, dia mengecup kedua tangan sang kekasih dengan penuh kasih.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkanku, setiap detik hidupku memang berhadapan dengan kematian, tapi aku tidak semudah itu tiada. Kau tahu, Tuhan belum mengizinkanku untuk pergi dari dunia ini sebelum aku menikah denganmu. Sudahlah, wajahmu menjadi jelek sekali saat bersedih." Jawab Alex.
"Apa?" Tanya Laras yang tidak paham dengan maksud sang kekasih yang menunjuk bibirnya menggunakan jari telunjuknya.
"Kiss me, please!!!"
Alex sudah menutup kedua matanya, berharap akan mendapatkan kecupan selamat tinggal dari bibir sang gadis.
"Kau akan mendapatkannya setelah mengalahkan Tuan Xiauling." Ucap Laras.
"Sial!!! kenapa ada syarat? harusnya setelah restu kedua orang tuamu itu kita dapatkan, aku bebas melakukan apapun kepadamu, meminta apapun darimu."
Alex di buat kesal dengan ulah Laras yang sangat mengganggu hasratnya itu. Laras tersenyum melihat respon sang kekasih yang sangat lucu menurutnya.
"Kau bisa saja langsung melakukan semua hal yang ingin kau lakukan tanpa seizinku, tetapi kau tidak melakukannya, Tuan. Kenapa?" Tanya Laras.
"Aku tidak ingin kau menganggapku pria brengsek seumur hidupmu. Di awal pertemuan, aku sudah bersalah kepadamu. Tentang Kak Justin juga, aku terlalu bodoh untuk mengerti perasaan seorang gadis. Ku harap kau akan memberikanku saran agar aku tidak terlihat sebagai pria menyebalkan lagi di hadapanmu." Jawab Alex.
"Seperti ini juga baik, jadilah Alex Fernando yang akan selalu mencintai dan melindungi Laras Nugraheni seumur hidupnya." Pinta Laras.
__ADS_1
"Pasti sayang, kau dan keluargamu adalah prioritas utamaku. Jadi, apa aku di izinkan untuk menyentuh mu?" Goda Alex.
"Kau mulai lagi? hah?"
Mereka saling melempar senyum, Laras mengetahui jika sang kekasih tidak serius dengan ucapannya.
"Kau menatapku lama sekali, apa aku begitu tampan untuk di pandang?" Ucap Alex penuh percaya diri.
"Kau yang menatapku lebih dahulu Tuan." Jawab Laras.
"Baiklah, salahkan saja mata kita masing-masing." Ucap Alex sambil memeluk erat Laras.
"Bos!!! Tuan Xiauling berbuat ulah. Ups!!! maaf bos, apa kedatanganku mengejutkan kalian?" Ucap Angela yang langsung masuk ke ruangan bos nya tanpa permisi.
Alex melepas pelukannya dan menghampiri Angela, tanpa basa basi, dia menjewer telinganya dan membawanya keluar dari ruangannya.
"Memangnya apa yang Tuan Xiauling perbuat?" Tanya Alex.
"Lepaskan dulu tanganmu dari telingaku, bos." Pinta Angela.
"Sudah ku lepas, cepat katakan apa maksud perkataanmu." Jawab Alex.
"Kau tega sekali menyakiti telingaku, bos. Huft, sial sekali nasibku." Ucap Angela sambil mengusap telinganya.
"Apa? ayo katakan?" Ucap Alex.
"Bos, dua jam lagi Tuan Zhen Ming dan para anggota Toxic akan menyerbu markas kita. Lebih baik kau jangan pergi menemui Tuan Xiauling di Perusahaan Dounghun Farmasi, karena dia hanya mengelabuimu." Jelas Angela.
"Bagaimana kau tahu?" Tanya Alex.
"Kak Richi baru saja mengatakan kepadaku lewat sambungan telepon." Jawab Angela.
"Mengapa dia tidak menghubungiku?" Tanya Alex heran.
"Dia bilang tidak ingin mengganggu kebersamaan bos dan nona Laras, jadi dia mengatakannya kepadaku." Jawab Angela.
"Cih, bocah tengik itu. Dia memang tidak menggangguku, tetapi kekasihnya yang menggangguku, dasar Richi!!!" Batin Alex.
"Angela, kau bawa Laras pergi ke tempat yang lebih aman. Aku akan menghadapi mereka." Perintah Alex.
__ADS_1
"Baik, bos!!" Jawab Angela.