
Pagi yang indah untuk bos Alex, selain sudah mendapatkan izin tidur di kamar, kesalahannya juga sudah termaafkan. Ia beranjak dari tempat duduknya, segera menghampiri sang isteri yang sedang merapikan tempat tidurnya. Alex berjalan perlahan, dia melingkarkan tangannya di pinggang sang kekasih.
"Ih, kau nakal!" ucap Laras.
"Memelukmu itu sungguh menenangkan," jawab Alex.
Perlahan bos Alex mulai lebih berani, dia menarik dagu sang isteri agar dekat dengan wajahnya, ciuman panas keduanya terjadi, sambil terus berpegangan tangan. Alex semakin rakus, dia tidak hanya ingin itu, dia ingin yang lain.
"Sayang? apa kau sudah siap?" tanya Alex.
Laras hanya diam saja saat sentuhan sang suami mulai merayap ke tempat tersembunyi dan rahasia sang isteri.
Tok...tok...tok..
Suara ketukan pintu membuat keduanya terkejut, Laras langsung melepas pelukan bos Alex, ia melangkahkan kakinya untuk membuka pintu kamar utama.
KLEK
Saat Laras membuka pintu itu, dia melihat sosok tuan Hans yang telah bersiap untuk kembali ke kota. Dia ingin berpamitan kepada Alex dan Laras.
"Si tua itu, selalu saja menganggu," gerutu Alex.
"Dimana suamimu? ku dengar dia tidur di luar?" ejek tuan Hans.
"Dia ada di dalam ayah, sebentar, akan ku ajak dia mengantar ayah," pinta Laras.
Tuan Hans tidak ingin sang mafia yang mengantarnya karena dia tahu Alex tidak tidur semalaman ini. Dia ingin membiarkan Alex beristirahat.
Laras bersama ayah dan ibunya berjalan menuju lantai atas gedung. Terlihat ada helikopter yang telah siap membawa ayahnya pergi, awalnya nyonya Fira tidak ingin ikut, karena dia harus mengurus Dounghun Farmasi, akhirnya dia harus kembali ke kota.
"Jaga dirimu baik-baik, ibu sudah mempersiapkan banyak hal di kamar tamu, kau pasti akan butuh suatu saat nanti, dua bulan lagi ibu akan menjenguk kalian, usahankan sudah ada janin di dalam perutmu," pesan nyonya Fira.
"Baik ibu, akhir-akhir ini banyak hal yang terjadi, aku merasa tertekan, mungkin setelah Alex menyesali perbuatannya, bolehlah lebih sering melakukannya," ucap Laras yang memicu senyum sang ibu.
"Kau sudah dewasa Nak, jaga rumah tanggamu agar tidak ada yang menghancurkannya," ucap nyonya Fira.
"Lapor padaku jika suamimu macam-macam, atau suruh dia tidur di luar saja biar tahu rasa," celetuk tuan Hans.
__ADS_1
Saat acara pamitan sedang berlangsung, muncullah sosok pria gagah dan tampan. Dia mendekati tuan Hans.
"Mana makananku?" tanya Alex.
"Sial! aku kira kau akan melepas kepergianku, ternyata kau mencari makanan? akan ku ambilkan, ada di dalam helikopter itu," jawab tuan Hans.
Tuan Hans menuju helikopter yang berada di depannya, dia masuk ke dalamnya dan mengambil dua box berisi makanan untuk menantu kesayangannya.
"Ini untukmu," ucap tuan Hans yang menyodorkan box berisi makanan.
"Wah kau murah hati tuan Hans," jawab Alex dengan ekspresi sok manis.
"Hentikan tatapan hello kitty mu, kau ini mafia, sangat tidak cocok," ejek tuan Hans.
"Tatapan hello kitty? kau aneh sekali aku kan beruang imut, bukan hello kitty," goda Alex.
Tuan Hans tidak menggubris ucapan Alex karena pada akhirnya dia yang akan kena bully sang menantu.
"Jaga anakku Lex," ucap tuan Hans.
"Baik, sering-seringlah mengirim makanan," goda Alex.
Semua orang di sana tertawa, kecuali tuan Hans. Alex memang pria tampan yang humoris. Nyonya Fira dan tuan Hans perlahan berjalan menuju helikopter berada, mereka masuk ke dalam helikopter itu satu persatu.
Sang pilot mulai menerbangkan helikopternya, Laras dan Alex melambaikan tangannya hingga helikopter itu tak nampak lagi.
"Kita lanjutkan!" ucap Alex sembari mengendong tubuh sang isteri yang memberontak itu.
"Turunkan aku suamiku, kau mau membawaku kemana?" tanya Laras.
"Menikmati surga dunia," jawab Alex.
Laras masih tetap memberontak, tetapi Alex tidak bergeming, justru dia semakin semangat untuk segera menuntaskan hasrat yang tertunda cukup lama itu.
"Kau yang membuatku tidur di luar, aku akan membuatmu kelelahan, kau siap 3 ronde sayang?" tanya Alex yang kini telah sampai di depan pintu kamar utama.
Dia segera membuka pintu itu dan merebahkan sang isteri di ranjang.
__ADS_1
"Ini hukuman karena kau menyiksaku semalaman," ucap Alex yang mulai beraksi.
Laras tidak mampu melawan Alex, tanpa ia sadari, sang isteri telah masuk ke dalam ritme permainan bos Alex.
Alex mencium setiap jengkal tubuh Laras dari ujung rambut hingga kakinya, suara indah itu sudah mulai terdengar, tak ada kerisauan dalam hati sang mafia karena kedua mertuanya telah kembali ke kota, dia bebas mengexplore bagian sensitif isterinya tanpa khawatir terjeda.
"Tatap mataku sayang!" pinta Alex yang melihat sang isteri sudah terbawa suasana panas yang ia ciptakan.
Laras mencoba meraih kesadarannya kembali, dia menatap wajah sang suami.
"Kau sangat tampan dan hebat sayang!" ucap Laras dengan mata sayu yang menggoda.
"Baguslah jika kau mengakuinya, kau ingin lagi?" tanya Alex, dia semakin terpacu untuk menyenangkan sang isteri. Sang mafia melihat wajah sang isteri menjadi 10 kali lebih cantik saat butiran peluh itu membasahi wajahnya.
"Lakukanlah sesukamu, aku adalah isterimu! tidak perlu meminta izin," jawab Laras yang kini benar-benar di buat melayang oleh bos mafia itu.
Dua puluh menit permainan berlangsung, suasana dua kali lebih panas dari sebelumnya, perpaduan hasrat kedua insan yang menggebu itu menciptakan harmoni yang indah. Keduanya sama-sama membuat nyaman satu sama lain.
"Kau masih ingin?" tanya Alex.
"Giliranmu sayang!" jawab Laras.
Alex belum puas mengerjai sang isteri, suara indah yang coba di redam oleh Laras, lolos begitu saja, membuat gairah bos mafia semakin memuncak. Helai kain sang isteri mulai terlepas, hingga tak tersisa lagi. Bos Alex kembali bermain di kedua aset sang isteri yang menantang itu, lama sekali dia berada di sana. Tanda kepemilikan tak lupa ia sematkan. Tangannya memang tidak bisa diam, jika mulutnya masih bermain di aset sang isteri yang sangat lembut dan kenyal itu, tangannya sudah sedari tadi menerobos aset yang lain di bawah sana.
"Ampuni aku sayang!" ucap Laras.
Mendengar sang isteri yang meminta pengampunan dengan wajah yang sangat menggoda itu, sang mafia sudah tidak sabar untuk segera menuntaskannya. Helai kain yang ia kenakan, telah terlepas, terlihat perut sispacknya, dada bidangnya, sungguh pemandangan yang terlalu indah untuk di lewatkan.
Bos Alex perlahan melakukan penyatuan, tubuh Laras merespon dengan menarik tubuh sang suami yang kini berada di atasnya itu.
Gerakan naik turun yang beritme, nafas keduanya yang beradu. Membuat suasana menjadi tidak terkendali. Bibir mereka berdua mulai bertaut, gerakan itu semakin lama semakin menuntut.
Alex sudah siap untuk menuntaskannya, hingga sepersekian detik kemudian, tubuhnya mulai roboh, rasa lega terasa di sekujur tubuhnya.
"Sayang! kau semakin bertenaga, aku suka," ucap Laras.
"Apa kau mau lagi?" tanya bos Alex.
__ADS_1
Laras berpura-pura memejamkan matanya, berharap sang suami melupakan apa yang ia katakan.
"Satu jam lagi, ronde ke 2," ucap bos Alex penuh senyum kemenangan.