
Di Apartemen Gerald...
Sejak seorang gadis yang pingsan di depan mobilnya, Gerald menjadi sangat sensitif. Dia telah melewati satu malam dengan gadis yang menyebut dirinya Livy Garcia. Satu malam yang tidak sengaja ia lakukan bersama gadis itu karena terpengaruh oleh minuman beralkohol.
Sang gadis yang mengira Gerald adalah Alex dan Gerald yang mengira Livy adalah Laras. Sebuah takdir yang sangat rumit. Kesadaran Livy yang belum sepenuhnya, menganggap Gerald adalah Alex. Meski Gerald membenci nama itu, kenyataannya dia menerima saja di panggil dengan sebutan Alex oleh Livy.
Pagi ini Livy sedang memasak untuk Gerald, dia mencoba membuat nasi goreng udang spesial untuk Alex kw-nya.
"Sayang, apa kau suka jika aku memasak ini?" tanya Livy sembari menyodorkan buku resep pada Gerald.
"Suka, beberapa minggu ini kau suka memasak nasi goreng, tetapi tanpa udang, aku ingin sekali mencicipi masakanmu yang sesuai resep ini," jawab Gerald.
Gerald menatap mata Livy, secara tidak sadar, dia ingin sekali memiliki gadis yang sedang berdiri di depannya itu. Dia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Livy, gadis itu mengusap rambut Gerald dengan lembut.
"Besok kita ke Rumah Sakit ya?" tanya Gerald.
Livy langsung melepaskan pelukan Gerald, dia terlihat sangat ketakutan.
"Livy, apa kau baik-baik saja?" tanya Gerald.
"Aku tidak mau kesana, kau pasti akan meninggalkanku lagi," jawab Livy yang mulai menitihkan air matanya.
Gerald memahami perasaan Livy, pria itu beranjak dari tempat duduknya dan memeluk sang gadis erat.
"Aku tidak akan meninggalkanmu, kau jangan takut Livy," ucap Gerald sembari mengelus punggung sang gadis dengan lembut.
"Lex, berjanjilah! kau akan tetap bersamaku," jawab Livy, dia menangis tersedu-sedu di pelukan Gerald.
"Jika aku bukan Alex, apakah kau akan tetap mencintaiku seperti seperti ini?" tanya Gerald.
"Kau adalah Alex, siapa bilang kau bukan dia," jawab Livy.
"Aku Gerald, bukan Alex," ucap Gerald mencoba jujur kepada Livy.
__ADS_1
Livy memberontak, dia merasa orang yang di depannya yang selalu bersamanya beberapa minggu ini adalah Alex bukan pria lain.
"Baiklah, sekarang kau istirahat saja, kau mungkin kelelahan, biar aku saja yang memasak untukmu," pinta Gerald.
"Kau baik Lex, seperti biasanya, kau selalu perhatian kepadaku," jawab Livy.
Gerald mengantar Livy masuk ke dalam kamar, gadis itu naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya di sana, Gerald duduk di sebelah Livy dan menutup separuh tubuhnya menggunakan selimut.
"Selamat beristirahat, kau tidurlah lagi, dari kemarin kau bangun pagi dan menyelesaikan pekerjaan rumah, aku sangat terkesan, terima kasih Livy," ucap Gerald sambil mengecup kening Livy.
"Iya Lex, hidupku sepenuhnya hanya milikmu," jawab Livy.
Gerald menunggu Livy sampai dia terlelap, setelah itu dia perlahan beranjak dari ranjang dan segera keluar dari kamar.
Sesampainya di luar, Gerald kesal, dia tidak terima dengan kenyataan ini.
"Lex, mengapa kau selalu berada di sekitar gadis yang aku sukai? saat aku sudah bisa melupakan Laras, gadis yang aku cintai justru mengganggapku adalah dirimu, aku tidak tahu apa yang terjadi padanya, tetapi aku yakin kau pernah menyakiti hatinya dengan sangat dalam, padahal dia memiliki cinta yang tulus untukmu, sial!!! aku harus menjadi dirimu dia depan gadis yang aku cintai, ini tidak bisa di biarkan," umpat Gerald kesal, isi kepalanya terasa mendidih.
Gerald mengambil ponsel yang ada di meja makan, dia terlihat menelepon seseorang.
"Baik, aku akan segera ke sana," jawab dokter Adri.
Beberapa menit berlalu...
Terdengar bunyi bel apartemen Gerald, dia langsung membuka pintu besi itu dengan kombinasi angka dan kunci kartunya.
Pintu besi itu terbuka, Gerald mempersilakan dokter Adri untuk masuk ke dalam apartemennya. Gerald meminta dokter itu duduk di ruang tamu, bos mafia itu akan membuatkan teh untuknya.
"Dok, keadaan Livy semakin mengkhawatirkan, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan," ucap Gerald sembari meletakkan nampan berisi dua cangkir teh di atas meja tamu.
"Dua minggu yang lalu, aku ingin memeriksa Livy, aku hanya mendengar kondisinya dari apa yang kau ucapkan, jika kau berkenan, aku ingin memeriksa Livy hari ini," pinta dokter Adri.
"Aku memang sengaja tidak memintamu memeriksa Livy, dia masih labil pada waktu itu, untuk saat ini mungkin dia masih labil tetapi sudah lebih baik dari sebelumnya," jawab Gerald.
__ADS_1
Gerald memperbolehkan dokter Adri untuk memeriksa Livy. Sang mafia meminta dokter yang juga sahabat Laras itu untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Dia sedang tertidur lelap, aku tidak bisa memeriksanya, karena aku akan mengajaknya berbicara, apa dia memang memiliki gangguan kejiwaan, atau hanya berhalusinasi tentang suatu hal," tegas dokter Adri.
"Untuk selanjutnya bagaimana?" tanya Gerald.
"Saat dia terbangun, kau ajak dia bicara, tanyakan tentang apa yang ada di pikirannya saat ini, dia memiliki keinginan apa di masa depan, tanyakan tentang hari, bulan, tahun, jika dia tidak bisa membedakan masa lalu dan masa sekarang, bisa di pastikan, dia terganggu jiwanya, ajak ke Rumah Sakit tempatku bekerja, kita sudah lama bersahabat, tidak perlu sungkan, biar aku yang mengurus segalanya, gadis itu sepertinya memiliki tempat yang khusus di hidupmu, ehm...ku lihat kau sudah berpaling dari Laras," goda dokter Adri.
"Haha, sial kau! tapi apa yang kau katakan memang benar, aku telah berpaling dari cinta gilaku pada gadis itu, tapi masalahnya, gadis yang aku cintai ini cinta mati dengan kekasih Laras, Alex Fernando, Livy selalu melihatku sebagai Alex, tersiksa sekali rasanya," jelas Gerald.
"Jika jodoh tak akan kemana, kau jaga dia dengan baik, buat dia sadar dan mencintaimu sebagai Gerald," saran dokter Adri.
"Terima kasih kawan, kau mau meluangkan waktu untukku, apa kepala Rumah Sakit tempatmu bekerja memarahimu karena kau mendatangi seorang bos mafia?" goda Gerald.
"Haha, hanya surat peringatan saja, tidak masalah, dia tidak akan bisa mengeluarkan aku, di sana, aku dianggap paling senior karena bisa merangkap beberapa tugas seorang dokter," ucap dokter Adri percaya diri.
"Aku tahu kau cerdas, tetapi kesombonganmu itu sangat menyebalkan," jawab Gerald.
Mereka terlibat perbincangan hangat, tak lupa sang dokter meminum secangkir teh buatan sahabatnya.
Tiga puluh menit berlalu, dokter Adri berpamitan karena masih ada pekerjaan yang tertunda di Rumah Sakit.
Gerald mengantar sang sahabat sampai depan pintu apartemennya, setelah sosok dokter Adri masuk ke dalam lift, dia kemudian masuk ke dalam apartemennya.
Alangkah terkejutnya dia saat Livy tiba-tiba sudah aku di depannya.
"Astaga! apa yang sedang kau lakukan di sini? kau mengagetkanku," ucap Gerald.
"Aku bermimpi ada dokter yang akan membawaku pergi dari sini," jawab Livy sembari memeluk erat Gerald.
"Selama ada aku, kau aman," ucap Gerald.
"Love you, Lex," Livy mengucapkan cinta di hadapannya tetapi nama Alex yang di sebut. Dia emosi, ingin rasanya segera membuat Livy sadar jika orang yang selama ini bersamanya adalah Gerald bukan Alex Fernando.
__ADS_1
Tapi dia memilih untuk bersabar, kali ini dia tidak boleh kehilangan cintanya lagi.
"Love you too, Livy," jawab Gerald sang pemain cinta dengan lapang dada.