Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Chapter 158


__ADS_3

Bos bandit mendekati tubuh Alex, ia segera melayangkan bogem mentah ke arah wajah sang mafia, namun miris, tangan sang bandit sukses di tahan oleh Alex. Bos bandit belum menyerah, dia masih ingin sekali membuat Alex merasakan sakit hatinya saat sang pemimpin di lumpuhkan dengan mudah.


Kini kakinya mulai beraksi, ia ingin menendang tubuh Alex, percobaan kedua lebih miris karena tangan kanan dan kiri bos bandit berada di genggaman sang mafia.


"Jika kau ingin menyerangku, setidaknya lakukan dengan benar," Sang mafia mendorong kaki dan tangan bos bandit itu hingga jatuh tersungkur.


"Hey bos bandit bodoh! jangan buang waktumu, ikuti saja perintah bos Alex Fernando! apakah kau benar-benar tidak tahu jika dia adalah pemimpin geng yang berkuasa di kota ini?" celetuk tuan Ramos.


Sambil menahan sakit, sang bos bandit kembali bangkit. "Cih ternyata benar memang kau Alex, kebetulan sekali, aku ingin mencoba seberapa hebat kemampuanmu," ucap bos bandit dengan penuh kesombongan.


"Bos! jangan lawan tuan Alex, lebih baik kita berdamai saja, toh dia juga datang kemari dengan baik-baik," pinta salah satu bandit, nyali mereka ciut saat mengetahui sosok di depannya adalah bos Death Angel, Alex Fernando.


Bos bandit menoleh ke arah para anggota bandit yang lain, ia menunjuk dengan jari telunjuknya ke arah wajah mereka semua, sembari berucap," Pengecut kalian semua! seharusnya aku yang jadi pemimpin kalian, bukan pria lemah seperti tuan muda Jiho," Bos bandit begitu lantang berucap, hingga dia lupa sedang berurusan dengan siapa saat ini.


"Pemuda jaman sekarang memang luar biasa, nyalinya setinggi langit! boleh juga kau anak muda," ucap sang mafia yang langsung di serang oleh bos bandit dari segala arah, namun pukulan dari musuh itu tidak berpengaruh apapun pada Alex. Sang mafia dengan tenang menghalau setiap serangan tangan dan kaki bos bandit.


"Sampai kapan kau ingin bermain-main?" ucap sang mafia yang sudah bosan melayani pukulan lemah itu.


"Sampai kau mati di tanganku!" Bos bandit dengan sigap mengambil pistol di saku celananya dan segera melepaskan timah panas ke arah kepala sang mafia dengan sigap, sang mafia menundukkan kepalanya kemudian menjatuhkan tubuhnya ke lantai sehingga timah panas itu tidak sampai melukai dirinya. Saat mengetahui ada kesempatan untuk segera mengakhiri pertarungan ini, sang mafia meraih senjata api di saku celananya, ia mengarahkan pistolnya ke arah paha bos bandit.


DOR...


DOR...


Dua peluru sang mafia sukses meringsek masuk kedalam paha bos bandit. Alex berhasil mengunci langkah musuhnya. Bos bandit yang sok kuat itu roboh, ia mengerang kesakitan.


Alex bangkit dari posisinya, ia membersihkan bajunya yang kotor, perlahan dia menghampiri bos bandit yang masih sombong meskipun telah terluka.


Dengan kaki bersimpuh, bos bandit menatap sang mafia yang ada di depannya.


"Masih belum mengaku kalah?" tanya sang mafia seraya menginjak paha bos bandit yang tertembak tadi.


"Sialan kau! pria brengsek!" Bos bandit meringis kesakitan, dia masih berani mengumpat di saat nyawanya ada di ujung kukunya.

__ADS_1


Alex tanpa ragu memposisikan pistolnya ke arah mulut bos bandit.


"Mintalah pengampunanku, ini adalah kesempatan terakhirmu!" pinta sang mafia.


"Tidak akan! lebih baik aku mati daripada harus menyerah kepada b*ngsat sepertimu! Cuh!" Sang bandit seperti tidak punya rasa takut, dia dengan percaya diri meludah ke arah wajah sang mafia.


Alex mengelap cipratan air ludah itu dengan lengannya, ia mencondongkan tubuhnya ke arah tubuh bos bandit, dengan pistol telah menempel sempurna di mulut sang musuh.


"Jadi kau ingin tewas dengan cepat rupanya, baiklah! akan ku kabulkan!" Alex menarik pelatuknya dan...


DOR...


DOR...


DOR...


DOR...


DOR...


Tubuh bos bandit roboh, darah segar mengalir dari balik mulut musuh yang sombong itu. Alex membersihkan percikan darah di wajah dan tangannya dengan sapu tangan pemberian sang ibu yang selalu dia bawa kemanapun sang mafia pergi. Kemudian Alex menyimpan kembali pistolnya ke dalam saku celananya.


Sang mafia melangkahkan kedua kakinya menuju sekumpulan anggota Jiho yang gemetar menyaksikan aksi malaikat maut yang legendaris itu.


"Ada yang ingin ikut si b*ngsat ini ke neraka?" ucap sang mafia yang kini langsung berhadapan dengan sekumpulan pria muda yang menatap mata sang mafia tanpa berkedip, tubuh mereka seperti takut untuk bergerak. Mereka hanya diam terpaku tanpa bisa melakukan apapun.


Tanpa terduga, semua anggota bandit berlutut di bawah kaki sang mafia, mereka memilih untuk hidup dan mengharap pengampunan sang mafia, "Angkatlah kami menjadi anggotamu tuan! kami meminta pengampunanmu," ucap salah satu anggota Jiho mewakili.


"Kalian hanya perlu mengikuti arahanku, tak perlu berlutut! bangunlah! aku tak sekejam itu! tadi hanya sekedar pemanasan, sudah lama sekali tanganku kram, aku ingin berolah raga sebentar," jelas sang mafia sembari merengangkan otot tangannya.


"Apapun itu tuan, kami akan melaksanakan semua titah tuan, kami bersumpah setia kepadamu," Semua anggota Jiho bangkit dan membungkukkan badannya memberikan penghormatan.


"Lex, tanganku pegal!" pekik tuan Ramos yang sedari tadi memapah tubuh Jiho.

__ADS_1


Alex menoleh ke arah tuan Ramos," Kakek tua, kau bisa meletakkan dia di lantai! merepotkan sekali! kau tahu aku baru saja menyingkirkan pria tidak berguna dan kau mengatakan hal yang tidak berguna juga!" Sang mafia terlihat kesal, dia merasa harga dirinya jatuh di hadapan para anggota bandit yang sedang memberikan salam hormat kepadanya.


"Haha, ya kau yang terbaik Lex, sial! Jiho berat juga! pegal sekali tubuhku!" keluh tuan Ramos yang meletakan tubuh Jiho di lantai dengan hati-hati.


"Richi, bosmu itu mengerikan juga, sama persis dengan ayahnya," Tuan Ramos berbisik kepada Richi yang merasa bangga dengan bosnya yang selalu bergerak cepat.


"Diamlah tuan, Alex sedang mengatakan banyak hal kepada para anggota bandit, setidaknya pelankan suaramu, dia akan marah jika kau berisik," Jawab Richi yang sedang mendengar apa yang Alex bicarakan kepada anak buah Jiho meskipun suara sang bos terdengar samar-samar.


"Ini salah, itu salah, mana yang benar," gerutu tuan Ramos.


"Kau harusnya diam, itu yang paling benar tuan. Kita di sini hanya untuk membantu tuan Zhev, kurangi mengeluh dan menggerutu," jelas Richi.


Saat keduanya sedang berbicara, Jiho tersadar, dia terkejut saat melihat bos bandit telah tewas bersimbah darah.


Pemuda itu berusaha bangkit, namun di cegah oleh Richi.


"Kau mau kemana Jiho?" tanya Richi sembari mencengkeram dengan erat lengan putra Zhev itu.


"Ingin memberikan pelajaran kepada bos kalian yang telah membuat anggota terbaikku tewas!" jawab Jiho yang tidak terima dengan tindakan Alex.


Sang mafia telah selesai berbicara dengan para anggota bandit yang sudah setuju untuk membantunya mendamaikan Jiho dan Hang Zhi. Samar-samar terdengar suara Jiho di balik tubuh sang mafia, ia pun menoleh ke arah belakang. Alex menatap mata Jiho yang merah menyala penuh amarah dan dendam.


"Kalian sudah paham? apa yang aku katakan tadi?" tanya sang mafia yang kini menatap para anggota bandit di depannya.


"Paham tuan!" ucap semua anggota bandit serentak.


Alex kemudian membalikkan badannya, ia melangkah mendekati tubuh Jiho yang berada dalam cengkraman tangan Richi. Sang mafia berjongkok kemudian berkata," Kau sudah siuman?"


"Apa yang kau lakukan dengan anak buahku?" tanya Jiho penuh amarah.


"Aku hanya membantumu menyingkirkan musuh dalam selimut, kalau tidak percaya, bisa kau tanyakan kepada anggota bandit yang lain," jelas sang mafia.


Sekumpulan bandit itu berkumpul di sekeliling Jiho, dan salah satu anggota berkata, "Benar tuan muda, bos Alex adalah pemimpin geng yang bijak! mari kita bergabung dengannya,"

__ADS_1


Semua orang menatap wajah Jiho, mereka menunggu keputusan apa yang di ambil oleh putra tuan Zhev itu.


Bersambung...


__ADS_2