
"Lex, kau terlihat gelisah, apa yang sedang kau pikir kan?" Tanya Tuan Fudo.
"Tidak ada Tuan." Jawab Alex.
"Apa kau masih memiliki hal lain yang harus kau sampaikan kepada Alex, Fu?" Tanya Tuan Fudo.
"Sudah cukup. Hari ini pembahasan tentang Xiauling dan Zhen Ming sampai di sini dulu. Biarkan Alex kembali ke kota, dia pasti sedang memiliki urusan yang sangat penting, bukan begitu Lex?"
Ucapan Guru Fu membuat Alex sedikit canggung, tetapi dia masih bisa mengendalikan dirinya untuk tetap bersikap tenang.
"Tidak Guru Fu, jika kalian masih ingin mengatakan hal lain, aku akan mendengarkan." Jawab Alex.
"Tidak perlu Lex, kau kembalilah ke kota. Tidak baik meninggalkan gadismu lama-lama di sana sendirian."
Tuan Fudo menatap mata Alex tajam, di setiap kata-katanya tersirat makna tersembunyi, Alex mengetahui jika sang tetua sudah mengetahui tentang gadis yang di cintai olehnya.
"Gadis itu, jangan sampai aku melakukan hal yang tidak pernah kau bayangkan, Lex. Ingat siapa dirimu dan gadis itu. Kalian memiliki latar belakang yang berbeda. Kedua orang tuamu butuh kau untuk membalaskan dendam mereka. Jangan lengah, gadis itu jangan membuatmu menjadi lemah. Musuh kita semakin hari semakin banyak dan semakin berbahaya, akan lebih baik jika kau berhenti memikirkan gadis itu, jauhi dia. Kau harus memikirkan masa depan Death Angel dan masa depan gadis itu juga." Pinta Tuan Fudo.
Semua permintaan Tuan Fudo sangatlah sulit untuk Ia penuhi, tetapi sebisa mungkin, Alex tetap melakukan negosiasi dengan sang tetua. Dia berjanji akan tetap bersama sang gadis dan tidak akan pernah melupakan dendam kedua orang tuanya, Alex memohon kepada Tuan Fudo agar memberikannya kesempatan lagi untuk menghancurkan Toxic, Zhen Ming dan Xiauling dengan kemampuan yang Ia miliki tanpa mencampur adukan dengan masalah pribadinya, dia akan melakukan semua itu dengan profesional.
"Baiklah jika ini yang kau inginkan, jangan kau sia-sia kan kesempatan yang ku berikan kepadamu. Kembalilah ke kota dan segera bentuk tim untuk menyelidiki Xiauling dan Zhen Ming." Ucap Tuan Fudo.
Alex mengucapkan terimakasih kepada Tuan Fudo sembari bersimpuh di hadapan sang tetua. Kini dia tidak akan ragu lagi untuk melangkah, dia akan berusaha semaksimal mungkin menjaga Death Angel dan sang kekasih.
Guru Fu yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia , salut dengan sikap bijaksana yang di tunjukkan oleh Fudo. Dia tidak menyangka jika Fudo yang kaku itu bisa luluh oleh Alex Fernando.
Setelah mendapat izin untuk kembali ke kota, Alex berpamitan dengan Tuan Fudo dan Guru Fu.
Alex masuk ke dalam mobil dan bergegas menuju apartemennya. Saat dia memeriksa ponselnya, sudah ada banyak panggilan masuk dan sebuah pesan dari Angela.
"Kak, keadaan kota sedang genting, kami membawa nona Laras ke markas utama. Cepatlah kembali, kekasihmu mengigau memanggil namamu. Dia sangat merindukanmu."
Pesan singkat yang di kirim Angela kepadanya membuat hati sang bos mafia teriris perih. Dia merasa bersalah dengan sang gadis karena telah tega meninggalkan sang kekasih dalam kondisi yang tidak baik. Tanpa pikir panjang, Alex mempercepat laju kendaraannya, yang Ia pikirkan hanya Laras,Laras dan Laras.
__ADS_1
"Aku akan datang sayang, kau tunggu aku di sana." Ucap Alex.
* * *
Setelah sampai di markas utama, Richi langsung membawa Laras masuk ke dalam ruangan sang bos dan merebahkan tubuh gadis mungil itu di ranjang milik Alex.
"Syukurlah jika nona Laras sudah berhenti mengigau dan kelihatanya dia juga sudah lebih tenang." Ucap Angela.
"Kau benar Angela, kau jaga nona Laras, aku akan mencoba menelfon Alex." Jawab Richi.
"Kalau kau ingin menelfon bos Alex, lebih baik di luar saja. Aku khawatir jika nona Laras akan terganggu." Ucap Angela.
"Baiklah."
Richi keluar dari ruangan itu dan mencoba menghubungi sang sahabat, tetapi tidak kunjung mendapatkan jawaban.
"Siall!!! bocah tengik itu kemana saja? sangat sulit untuk di hubungi, dia lupa apa ya jika nona Laras sedang sakit? dasar bos militan." Ucap Richi meluapkan kekesalannya.
Belum juga satu menit Richi mengumpat, orang yang di maksud sudah datang. Dengan wajah serius, dia menatap wajah Richi.
"Syukurlah kau datang juga, dia ada di ruanganmu bersama Angela. Kau temui dia segara." Jawab Richi.
Alex langsung berlari menuju ruangan miliknya, dia membuka pintu ruangannya dan perlahan mendekati sang gadis yang tengah terbaring lemah di ranjangnya.
"Bagaimana kondisinya, Angela?" Tanya Alex.
"Kondisinya sudah lebih baik dari sebelumnya tapi dia masih lemah. Nona Laras terus menangis dan mengigau memanggil namamu, bos. Aku sangat kasihan melihatnya. Kau kemana saja? lama sekali kau datang." Gerutu Angela.
"Iya, aku minta maaf. Tuan Fudo sedikit menyulitkan langkahku untuk kembali. Setelah negosiasi yang cukup panjang, akhirnya aku di izinkan untuk pergi." Ucap Alex.
"Wah kau ini memang hebatlah, Kak. Selalu mampu meluluhkan hati Tuan Fudo." Puji Angela.
"Kau terlalu banyak bicara, kalian berdua beristirahatlah. Biarkan aku yang menjaga kekasihku." Perintah Alex.
__ADS_1
"Baik bos, ingat bos, kau jangan langsung memakan gadismu, dia masih sangat lemah." Goda Angela.
"Sial!! kau masih kecil, kau tidak tahu apapun tentang itu. Pergilah!!! atau kau lebih suka mendapatkan hukuman dariku?"
Ucapan Alex sudah mampu membuat Angela terusir, dia tidak mau di hukum oleh bos mafia itu. Biasanya Angela akan melawan saat bos Alex akan memberikannya hukuman, karena di depan Laras, Alex menjadi bocah penurut dan itu sangat menguntungkan dirinya. Dia pasti akan terbebas dari segala hukuman, tetapi kali ini dia tidak dapat melakukannya karena sang gadis sedang sakit.
"Baiklah bos, selamat bersenang-senang!!!" Jawab Angela sambil berlalu pergi dari hadapan Alex.
"Cih, bersenang-senang?? sejak dia memiliki kekasih, otaknya berkembang dengan cepat. Richi memang pria yang bisa di andalkan." Gumam Alex.
"Tuan, apa itu kau?"
Tiba-tiba terdengar suara yang keluar dari mulut Laras, Alex merasa senang saat sang gadis sudah sadar. Dia langsung memeluk tubuh kekasihnya itu dengan erat.
"Iya, ini aku sayang. Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu di saat kau sedang dalam kesulitan. Aku merasa menjadi pria yang tidak berguna." Ucap Alex.
"Tuan, kau bisa tidak melepaskan pelukanmu?" Tanya Laras.
"Memangnya ada apa?" Jawab Alex bingung.
"Pelukanmu terlalu kuat dan erat, aku tidak bisa bernafas." Ucap Laras.
"Maaf sayang, aku terlalu rindu padamu." Jawab Alex sembari melepas pelukannya.
"Apa urusanmu sudah selesai?" Tanya Laras yang masih terbaring lemah di ranjang.
"Kau tidak perlu memikirkan hal itu, yang lebih penting adalah kesehatanmu." Pinta Alex.
"Baiklah, kau juga harus memikirkan hal lain selain diriku." Ucap Laras.
"Maksudmu apa sayang?" Tanya Alex.
"Berhentilah mencintaiku jika aku menjadi beban bagimu." Jawab Laras.
__ADS_1
Alex tidak perduli dengan ucapan sang gadis, dia hanya perduli dengan kesehatan Laras. Dia meminta Laras untuk tetap di sisinya hingga tiada. Laras hanya diam, dia kembali meneteskan air matanya.