Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Chapter 76


__ADS_3

Bos Alex keluar dari tempat persembunyian Tuan Xiauling melalui lorong yang ada di bawah tanah rumah itu. Ia bersama Richi mencari keberadaan Tuan Hans yang ternyata sedang membaca sebuah tulisan di dinding lorong itu. Tulisan itu semacam relief yang menggambarkan kehidupan di masa lalu. Entah kehidupan macam apa yang ada di bawah tanah itu. Alex meminta Tuan Hans agar segera keluar bersamanya dan Richi. Awalnya pria tua itu enggan mengikuti apa yang Alex ucapankan karena dia masih penasaran dengan penemuan di depannya itu.


"Tuan Xiauling telah tewas, apa lagi yang kau cari di sini ayah mertua?" tanya Alex


"Kau sama berisiknya dengan Richi," ucap Tuan Hans masih mengamati tulisan kuno itu.


"Jika kau masih ingin di sini, terserah kau saja," jawab Alex.


Saat Alex dan Richi melangkah pergi meninggalkan Tuan Hans, pria tua itu kemudian mengikuti langkah dua sahabat itu. Akhirnya ketiga orang itu keluar dari lorong melewati pintu yang terhubung langsung ke dalam markas utama Toxic di hutan kota utara. Karena kata sandi pintu itu telah berubah, jadi Alex mencoba memakai kata sandi lain yang Ia ketahui.


"1210, coba kau masukkan kode angka itu," pinta Tuan Hans.


KLEK


Pintu itu akhirnya terbuka, Tuan Hans merasa bangga dengan dirinya karena mampu menemukan kode itu.


"Ternyata kau pandai juga Tuan Hans?" celetuk Richi.


"Untuk apa dulu aku menjadi tim penyidik? jika aku tidak mampu memecahkan kode sederhana itu." jawab Tuan Hans sombong.


"Cih, berlagak," ucap Richi.


"Kau cukup kompeten Tuan, tapi bagaimana bisa kau menemukan kode itu dengan mudah?" tanya Richi.


"Aku membaca tulisan di dinding lorong itu. Banyak nama-nama yang tak asing bagiku, seperti Wang Zhie dan Gerald serta masih banyak lagi nama-nama serta kode yang menyertainya, saat aku membaca kode untuk Tuan Xiauling adalah 1210, kira-kira apa maksud dari kode itu, apa kau tahu Lex?" tanya Tuan Hans.


"Menurutku ada sebuah perjanjian yang mereka lakukan di sini, jadi mungkin saja mereka memanggil satu sama lain bukan dengan nama tapi menggunakan empat digit angka," jelas Alex.


"Apa ada hal seperti itu?" tanya Tuan Hans.


"Tiga tahun yang lalu masih ada. Tapi entah untuk saat ini, itu hanya di lakukan oleh orang-orang yang berpihak kepada Tuan Xiauling. Pria sialan itu yang mengusulkan harus ada kode jika ingin bergabung dengannya, karena Tuan Xiauling tidak ingin di ketahui keberadaannya dengan segera jadi kode itu di jadikan acuan dalam berkomunikasi antar geng." jawab Alex.

__ADS_1


"Wah, kau hebat juga, sampai mana mau bersekolah? S1 atau S2?" tanya Tuan Hans.


"Kau banyak sekali bertanya Tuan, urusanku masih banyak."


Alex melangkahkan kedua kakinya pergi di susul dengan Richi yang mengekor di belakangnya.


"Kau selalu sukses membungkam kepala polisi itu." bisik Richi.


"Aku sudah bilang dari awal jika Tuan Hans biar aku yang mengurusnya," jawab Alex.


Tuan Hans masih berdiri terpaku menatap punggung sang calon menantu.


'Lex, ada banyak hal yang belum aku ketahui tentangmu,' batin Tuan Hans.


Beberapa saat kemudian Tuan Hans mengikuti langkah kedua pria tampan yang bersahabat itu. Sesampainya di ruang utama, Tuan Hans mengatakan kepada semua anggota kepolisian yang berjaga di dalam ataupun di luar markas utama Toxic itu untuk segera kembali ke kantor polisi pusat kota karena Tuan Xiauling sudah tewas.


"Dimana mayat Tuan Xiauling pak?" tanya salah satu anggota kepolisian.


"Ada di suatu tempat, biar aku, Alex dan Richi yang mengurusnya," pinta Tuan Hans.


"Lex, Richi, kalian ikut bersamaku nanti. Aku ingin menanyakan banyak hal kepada kalian," ucap Tuan Hans.


"Ya, tanyakan saja," jawab Alex.


Semua anggota kepolisian beserta anggota Death Angel keluar dari markas utama Toxic, kemudian melewati medan yang berat untuk keluar dari markas yang berada di hutan belantara tersebut. Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya semua anggota sampai di tempat awal mereka datang. Satu persatu anggota kepolisian pergi mengendarai mobil masing-masing, para anggota Death Angel juga pergi mengendarai mobil mereka untuk segera kembali ke markas ataupun perbatasan sesuai dengan tugas masing-masing anggota. Kini hanya tersisa tiga orang yang berada di dalam mobil yang juga akan menyusul para anggota yang telah pergi lebih dulu.


"Aku yang menyetir," ucap Richi.


"Terserah kau saja," jawab bos Alex.


Mereka bertiga pergi menjauh dari hutan itu, di tengah perjalanan, Tuan Hans mengatakan jika dia terganggu dengan nama Gerald yang di bacanya sewaktu ada di lorong bawah tanah markas Toxic.

__ADS_1


"Lex, apa yang ada geng yang salah satu bosnya bernama Gerald?" tanya Tuan Hans.


"Ada, dia masih seumuranku, dia termasuk lawan yang tangguh namun gemar bermain dengan kupu-kupu malam." jelas Alex.


"Aku curiga jika nama Gerald yang di maksud itu adalah Gerald Leonardo tetangga kami dulu, namun karena suatu hal, dia pergi begitu saja tanpa berpamitan kepada kami. Sedangkan Laras dan Gerald sudah bersahabat cukup lama. Setelah lebih dari dua puluh tahun ini, aku mencari keberadaannya karena memang aku dan kedua orang tuanya sangat dekat, namun hasilnya nihil." jawab Tuan Hans.


"Iya, namanya memang itu. Bicara tentang kedekatan Laras dan Gerald, seberapa dekat mereka?" tanya Alex.


"Sudah seperti keluarga sendiri, Laras mengganggap Gerald sebagai kakaknya dan Gerald menganggap Laras sebagai adiknya," jelas Tuan Hans.


"Apa hanya itu?" tanya Alex mulai cemburu.


"Setahuku iya, coba kau tanya saja pada Laras." jawab Tuan Hans.


Raut wajah Alex berubah, dia merasa begitu kesal saat mendengar nama Laras di sebut bersama dengan nama Gerald, namun dia masih bisa menahan amarahnya.


"Richi, antar aku ke apartemen, masalah Tuan Albram Zein kau yang urus," perintah Alex.


"Siap bos!!" jawab Richi.


"Ada apa Lex, kau terlihat begitu kesal?" tanya Tuan Hans.


"Tidak, tidak kesal. Hanya sedikit gerah." jawab Alex.


'Bos cemburu', batin Richi.


"Jangan mengatakan apapun Richi, kau pasti sedang mengejekku 'kan?" ucap Alex geram.


"Tidak bos, kau salah sangka. Sudahlah, ayah mertuamu ini hanya terlalu lelah jadi mengatakan hal yang tidak masuk akal, nona Laras tidak akan bersama pria lain, " jawab Richi menghibur bosnya, dia tidak ingin terkena hukuman hanya karena mengatakan hal di dalam hatinya.


Tuan Hans tersenyum melihat tingkah dua anggota geng di depannya ini.

__ADS_1


"Kalian lucu sekali, bagaimana bisa semua musuh bisa lenyap di tangan kalian ya? aku heran," ucap Tuan Hans.


"Ada banyak hal yang belum kau ketahui pria tua." jawab Alex menatap ke arah Tuan Hans yang sedari tadi menatap dirinya lewat kaca spion bagian dalam mobil itu.


__ADS_2