Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Masih bermain


__ADS_3

Joan masih menemani keponakannya bermain, dia sangat senang bersama kelima baby A Alex, semuanya sangat menyenangkan.


Apalagi Lexis, dia akan banyak bicara jika tidak mengetahui sesuatu. Joan sangat menyukai anak yang aktif.


Permainan mandi bola sangat membosankan, sudah lebih dari 30 menit kelima baby bermain dengannya. Dia mengajak mereka semua untuk bermain di tempat lain, untung saja mereka semua tidak terlalu banyak protes.


Joan kelima anak yang mafia bermain di wahana roller coaster, dia ingin memberikan sensasi berbeda terhadap 5 baby A, usia 5 tahun belum mencukupi untuk naik wahana ekstrim itu.


Joan, tidak putus asa.


Dia mencari tempat lain untuk bermain, semisal mendapatkan boneka ataupun bermain layaknya permainan di pasar malam.


Semua baby A penurut, mereka tidak terlalu banyak bicara. Hanya kebahagiaan yang yang ada di raut wajah kelima anak sang mafia tersebut.


Saat Joan dan berada di wahana yang lebih bersahabat, seperti komedi putar, kelima baby sangatlah senang.


Joan juga merasakan kebahagiaan mereka semua.


"Paman, kita bermain apalagi setelah ini?" tanya Adya, dia masih antusias untuk menjajah permainan lain.

__ADS_1


"Hm, ayunan saja ya? lebih aman apalagi di sana ada lapangan futsal mini, kita bisa bermain futsal di sana." Joan memanjakan kelimanya, tinggal semuanya menempel terus kepadanya.


"Oke, ayo paman!"


Kelima baby, sangat antusias saat Jo mengajak mereka bermain ayunan.


Lima menit saja cukup untuk mereka bermain di komedi putar, setelahnya, bermain ayunan. Tetapi anak-anak, lebih menyukai bermain futsal.


Akhirnya, mereka semua mengolah si kulit bundar untuk dijadikan permainan.


Permainan mereka sangatlah menyenangkan dan seru, hingga 30 menit kemudian, belum telah membasahi mereka ber-enam.


Sembari menjaga kelima baby, Joan menjawab panggilan tersebut.


"Ada apa Lex?" tanya Joan.


"Kau dimana?" jawab sang mafia.


"Ada di lapangan futsal mini. Kau mau kemari?" tanya Joan berharap sang mafia akan segera menemui mereka.

__ADS_1


"Iya, aku akan datang karena merasa bersalah dengan mereka." Alex ternyata sedih saat kelima baby-nya meninggalkan dirinya, dalam perasaan yang masih kalut.


"Oke, aku akan menunggumu, usahakan jangan terlalu mengekang mereka, jika ingin berlatih beladiri! biarkan saja, aku akan mengajarinya sesuai dengan usia mereka, kau hanya perlu mengurus Yovan dan MK yang sudah meresahkan itu! aku senang melakukan ini karena aku menyukai anak-anak," jelas Joan, dia akan tetap bersama anak-anak sebelum urusan sang mafia selesai semuanya.


"Ya, tunggulah aku setelah ini, ada urusan yang harus aku selesaikan!" Sang mafia ternyata masih sibuk dengan urusannya.


"Siap!"


Panggilan telepon itu berakhir, Joan kembali bermain dengan anak-anak.


Dia mengolah si kulit bundar bersama mereka, tawa ceria menghiasi setiap permainan.


Suasana menjadi sangat kondusif kali ini, Joan berharap kebahagiaan anak-anak tidak akan luntur hanya karena para musuh Alex yang akan tetap merongrong sampai Alex mengalah kepada mereka.


"Paman Jo? apakah kau sudah memiliki istri? seperti daddy yang memiliki mommy?" celetuk Adya yang kini sedang menemani Joan, duduk di pinggir lapangan.


"Hm, ada tapi sudah tiada, Tuhan sudah memanggilnya," jawab Joan, ya sudah menganggap mantan istri yang berkhianat itu mati.


"Oh, kau harus bertanya kepada Daddy tentang calon istri, Daddy sepertinya memiliki banyak kenalan."

__ADS_1


Haha, apa Alex ajarkan kepada mereka? mengapa para anak sang mafia mengetahui tentang gadis? wah ... ini hal yang menarik, aku akan memberitahu kepada kakak ipar.


__ADS_2