Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Mencari bukti


__ADS_3

Dafa mencoba menelisik lebih dalam apa yang sebenarnya terjadi di kehidupan sang mafia, dia bertanya banyak hal kepada Alex.


"Maaf bos, aku ingin bertanya sesuatu kepadamu." Dafa memulai pembicaraannya.


"Tanyakan saja apapun itu, jika aku bisa menjawabnya, akan aku jawab." Sang mafia tidak masalah jika harus terbuka, memberikan keterangan kepada Dafa tidak ada salahnya.


"Bos, siapa orang yang sedang bermasalah denganmu?" tanya Dafa.


"Aldren dan MK," jawab Alex singkat.


Dafa kemudian mencari informasi tentang kedua orang itu lewat seseorang yang sangat penting.


"Di daftar orang-orang berpengaruh yang sering mencari masalah, jarang aku mendengar nama Aldren dan MK, tapi aku akan mencoba mencari tahu tentang mereka berdua."


Dafa kembali bergulat dengan jari dan tangannya untuk mencari informasi lebih lanjut tentang orang yang dimaksud.


Saat dia mendapati nama MK, dia langsung excited.


"Haha ... oh, ternyata orang ini. Aku mengenal dia, orang ini hobinya cari mati. Menyukai hal tidak penting dan membuat masalah. Memang aku akui dia memiliki banyak pengaruh. Terutama di Macau ini," jelas Dafa mengulik tentang MK.


"Ada orang baru yang banyak tingkah, dia adalah Aldren, aku mencurigai orang itu." Sang mafia membuka inti pembicaraannya.


"Oke, aku akan mencari tahu tentang hal tersebut."


Dafa mencari info tersebut dari banyak hal. Dia menemukan fakta bahwa Aldren adalah orang yang sering bicarakan di Macau.


Orang tersebut memiliki banyak harta dan para wanita, dia tidak ada cela sama sekali. Orang tersebut baru saja muncul di media tetapi sudah berkecimpung di dunia bisnis sejak lama, dia selalu menggunakan nama samaran, Heiko.


Nama dari Jepang yang dia dapatkan saat berlibur di sana.


"Aku mengetahui orang ini, tapi apa hubungannya kau dengannya?" tanya Dafa.


"Dia adalah adikku," jelas sang mafia.


"Haha, luar biasa sekali."


"Ok, aku akan membantumu membersihkan nama baikmu lewat orang ini. Ada temanku yang pernah mewawancarai orang bernama Heiko dan dia orang yang arogan, tidak suka anak kecil dan sering melecehkan wanita, aku akan mencoba mencari tahu tentangnya, setelah ini." Dafa berjalan menuju kamar mandi.


"Kau mau kemana?" tanya Alex yang heran dengan tingkah Dafa.


"Ritual dulu bos," jawab orang tersebut.


"Di kamar mandi?"


"Iya, kau tunggu saja."

__ADS_1


....


"Apa dia sedang buang air kecil?" Sang mafia menerka.


"Tidak tahu," jawab Dimitri.


Joan yang sedari tadi hanya bermain ponsel mendapatkan teguran dari sang mafia.


"Siapa yang aku hubungi? serius sekali!"


"Ini bos, ayahku, dia bertanya apakah aku sudah sampai dia Macau atau belum," jawab Joan.


"Aku ingin berbicara dengannya," pinta Alex.


"Oke."


Joan yang berada jauh dari jangkauan sang mafia kemudian berjalan mendekat. Dia segera menyerahkan ponsel tersebut.


"Tuan, apa kabar?" tanya sang mafia.


"Ini Alex?" jawab ayah Joan.


"Iya ini aku," ucap sang mafia ramah.


"Apa kabar? kau baik-baik saja kan?" tanya ayah Jo.


"Syukurlah, bagaimana perkembangan kasusmu?"


"Sedang dalam penyelidikan."


"Semoga segera selesai ya."


"Oke."


Perbincangan yang sangat hangat terjadi diantara keduanya, apa yang mereka bicarakan pada intinya sangat serius.


Joan sangat penasaran dengan apa yang dikatakan oleh ayah dan Alex, tetapi keduanya tidak akan memberitahukan itu.


Sepuluh menit berlalu, keduanya masih berbicara, tak ayal membuat penasaran Joan.


Di satu sisi, Dafa telah keluar dari kamar mandi, dia langsung memberikan berita yang menarik.


"Bos! aku akan pergi sebentar menunggu temanku yang akan segera mengungkap siapa Aldren." Dia lantang sekali membuat semua orang disana menahan tawa.


Joan mengambil alih jawaban yang harusnya disampaikan oleh seorang mafia.

__ADS_1


"Kau mau pergi ke mana?" tanya Joan.


"Aku akan nama orang yang pernah ditampar oleh Aldren karena dia bertanya tentang siapa ibu dan ayahnya, orang itu mengatakan bahwa dia anak haram." Dafa mendapatkan informasi dari orang misterius yang tidak boleh dikatakan namanya, takut akan mendapatkan teror dari Aldren dan semua anggotanya.


"Siapa dia?" tanya sang mafia yang mengakhiri panggilan teleponnya, dia melemparkan ponsel kepada Jo. Untung saja orang itu bisa menangkap gawainya, jika tidak, pasti alat komunikasi itu akan terjatuh dan hancur.


"Maaf bos, dia tidak menyukai identitasnya dibongkar. Aku akan ke sana bersama Joan." Dafa langsung melirik ke arah Jo.


Tanpa basa-basi, Jo langsung meminta izin kepada Alex.


"Bagaimana?"


"Pergilah!" jawab sang mafia.


"Jangan pergi terlalu lama, aku masih banyak urusan." Sang mafia sebenarnya sangat malas menunggu tetapi untuk mengungkap kasus agar selesai, dia rela melakukannya.


....


Kedua orang itu telah keluar dari apartemen Dimitri. Alex, D dan salah satu anak buahnya berbincang mengenai Aldren.


"Kau dan Aldren bukannya saudara bos?" tanya D, penasaran.


"Iya, tapi dia terlalu terobsesi untuk menjadi pemimpin, dia tidak ingin aku menjadi kakaknya. Meskipun Al bukan anak kandung ayahku, aku tetap menganggapnya menjadi adik yang baik. Aku merasa jika, dia sebenarnya iri dengan pencapaian ku. Tapi apalah daya, aku hanya melaksanakan tugas yang diberikan oleh Tuan Fudo, jika boleh memilih aku akan menjadi manusia yang tidak terlalu banyak masalah. Bermesraan dengan istriku dan bermain-main dengan anak-anak, tapi yang namanya tanggung jawab harus kita seperti amanah yang tidak boleh disepelekan. Aku teguh dalam pendirian, tidak akan goyah meskipun aku, akan mati setelahnya." Sang mafia mengungkapkan rasa percaya dirinya yang sangat tinggi, dia tidak akan menjadi orang yang lemah.


Dia menjadikan Death Angel sebagai tumpuan hidupnya, jika gengnya hancur, dia juga akan ikut hancur.


"Bos, bolehkah aku mengatakan bahwa kau adalah pemimpin yang luar biasa?" Dimitri kagum, dia tidak bisa berkata-kata lagi.


"Haha ... jangan kagum padaku, nanti kau suka!" canda sang mafia.


"Mana ada? aku masih normal dan tidak belok," jawab Dimitri ketus.


"Iya, aku tahu kau pria tulen, makanya menikahlah! kau akan memiliki seorang wanita yang akan menuju kebahagiaan." Alex mencoba memberikan petuah yang bermanfaat, Dimitri pernah mengatakan tidak ingin menikah. Dia masih trauma dengan kehidupan kedua orang tuanya yang bercerai karena orang ketiga di rumah tangga ayah dan ibunya.


"Istri? aku tidak akan memilikinya, tapi aku masih menyukai seorang gadis. Wajahku terlalu tampan untuk belok kanan kiri." Dimitri memang pandai mengocok perut, sang mafia selalu saja tertawa saat berbicara dengannya.


...


Perbincangan antara anak buah dan bos itu akhirnya usai, keduanya merasa lebih baik saat mengutarakan apa yang ada di hati dan pikirannya.


Tak berapa lama kemudian, terdengar bel dari luar.


D langsung membuka pintu tersebut, tapi alangkah terkejutnya saat dia seorang wanita yang sangat ia kenal bersama Joan dan Dafa.


"Mishel?" ucap D terkejut.

__ADS_1


"D? apa yang kau lakukan disini?"


....


__ADS_2