
Thomas masih tidak percaya dengan apa yang ada di depannya ini, dia menuntut penjelasan tentang Justin yang mampu lolos dari kematian.
"Awalnya aku juga mengira tidak akan pernah kembali ke dunia ini lagi, tapi karena dendamku belum terbalas, mungkin saja itu yang membuatku kembali hidup," ucap Justin.
"Cih, dendam macam apa yang kau katakan itu? adikmu sendiri kau sebut musuh," tukas Thomas.
"Aku sudah tidak mengganggap dia adik, apa kau tahu? setelah dia menjadi penghalang segala rencanaku, aku sudah memutuskan hubungan dengannya," jelas Justin.
"Kau terlalu berani jika harus melawan Alex," ucap Thomas.
"Ada apa? kau meragukan kemampuanku?" tanya Justin.
"Kau sepertinya terlihat lelah, ayo ke pos saja," ajak Thomas dengan langkah mendahului Justin yang masih terpaku dengan rasa bencinya kepada Alex.
"Aku masih ingin di sini," jawab Justin.
"Come on man! kau kesal padaku?" tanya Thomas.
"Aku ingin menghirup udara pantai yang memenangkan ini," jelas Justin.
"Terserah kau saja," jawab Thomas yang telah melangkahkan kedua kakinya pergi meninggalkan sang sahabat.
Justin terlihat masih menatap hamparan lautan luas di depannya. Dia membayangkan betapa sang ibu dulu begitu memanjakannya dan memiliki adik laki-laki adalah doanya.
'Lex, di dalam hatiku, sebenarnya selalu rindu akan dirimu, bukan maksudku untuk menjadikan dirimu musuhku, tetapi karena kau tak kunjung memberikan tahta Death Angel yang sangat aku inginkan itu, jangan salahkan aku jika dirimu akan menjadi musuh bebuyutanku," batin Justin.
Saat dia merenung dalam diam, tiba-tiba dia mendengar suara seorang gadis yang sangat familiar baginya.
"Kak Steven? apa itu kau?" tanya seorang gadis tengah berdiri di belakangnya.
Secara refleks, Justin menoleh ke arah asal suara tersebut, dia terkejut saat melihat wajah sang gadis yang menjadi semakin cantik dan mempesona.
"Lea?"
Seketika saja Justin menyebut dengan jelas nama gadis itu, pria itu memeluk Lea dengan erat.
"Baru juga berjumpa, sudah mesra sekali," ledek Thomas yang kembali ke bibir pantai bersama sang adik.
Justin tidak menghiraukan apa yang di ucapkan kakak dari gadis cantik dan molek itu. Dia masih menikmati pelukan hangat yang di berikan oleh gadis yang begitu memuja dirinya itu.
"Kenapa kau kembali? harusnya kau ada di pos kan? mengganggu saja!" gerutu Justin.
"Sial! cepat lepaskan pelukan sok mesra kalian itu," ucap Thomas sambil memisahkan tubuh sang adik dan sang sahabat yang begitu lengket itu.
"Iya, aku lepaskan," jawab Justin sambil melepaskan pelukannya.
"Begitu baru benar," tukas Thomas tersenyum puas.
"Kak Justin, ku dengar kau telah tewas di tangan Alex," ucap Lea.
Raut wajah Justin terlihat kesal saat mendengar nama Alex di sebut.
"Ada apa kak?" Tanya Lea heran.
__ADS_1
"Lea, kau cukup sebut namaku saja, jangan dia," jawab Justin.
"Apa kau cemburu? apa kau sudah menerimaku menjadi kekasihmu?" tanya Lea.
"Sudah ada seorang gadis di dalam hatiku, Lea," jelas Justin.
"Siapa itu kak?" tanya Lea.
"Kau belum pernah bertemu dengannya," jawab Justin.
"Memang dia lebih sexy dariku, atau lebih cantik?" tanya Lea.
"Iya, tapi kau juga cantik dan seksi, sama saja sepertinya, hanya dia lebih imut darimu," goda Justin.
"Kak Justin!" jawab Lea kesal.
Dia memukul dada Justin pelan, tangan lembut Lea kini dalam genggaman Justin, pria itu mulai mengeluarkan jurus brengseknya.
"Jika kau mau aku, temani aku malam ini," goda Justin.
"Hey adik! jangan kau dengarkan pria tidak waras ini. Dia hanya pembual," jelas Thomas.
Lea mulai penasaran dengan kebenaran yang terucap dari mulut kurang ajar Justin. Dia kembali menanyakannya lagi.
"Hahaha, aku hanya bercanda adik kecil, sudahlah anggap saja aku kakakmu sebagaimana Thomas," jawab Justin.
"Akhirnya kau waras juga," celetuk Thomas.
"Sial! memang kau anggap aku apa? dasar!" tukas Justin.
"Diam kak, aku kan jadi malu," jelas Lea.
"Mengapa harus malu?" timpal Justin.
"Aku hanya, ah sudahlah," jawab Lea.
Thomas yang ingin mengatakan sesuatu kepada Justin, menyuruh Lea kembali ke pos untuk membuatkan minum untuk tamu tidak di undang itu.
"Baik kak," jawab Lea sembari pergi meninggalkan sang kakak dan Justin di bibir pantai.
Thomas mengajak Justin duduk di atas pasir putih yang indah, hari yang tidak terlalu terik membuat mereka berdua betah berlama-lama di bawah naungan sang surya.
"J.S, apa kau yakin dengan rencanamu?" tanya Thomas.
"Tentu saja," jawab Justin.
"Ikut aku menemui Gerald, dia bisa membantumu," jawab Thomas.
"Dia? apa tidak ada orang lain yang lebih baik saat ini selain dia," ucap Justin meremehkan.
"Gengnya sedang naik daun, kau hanya perlu memintanya bergabung, tapi jika kau menyetujuinya," jawab Thomas.
Justin terdiam, dia merasa enggan untuk bertemu Gerald karena tiga tahun yang lalu dia pernah bersinggungan dengan pria itu.
__ADS_1
"Justin, apa kau baik-baik saja?" ucap Thomas.
"Aku tidak ingin berurusan dengannya lagi," jelas Justin.
"Apakah sebelumnya, kau dan dia terlibat masalah?" tanya Thomas.
"Iya, kau berikan nama lain yang mampu membantuku menghabisi adikku," jelas Justin.
"Aku akan mengantarmu menemui Wang Zhie," ucap Thomas.
"Apa dia masih hidup?" tanya Justin.
"Setahuku dia telah sadar dari komanya, temanku Max, kemarin tiba-tiba datang kemari dan memberitahu hal itu, dia kini juga bergabung dengan Lucifer, dia mengajakku mengikuti jejaknya tetapi aku tidak mau, aku masih setia dengan Toxic, meski sudah tak sehebat dulu," jawab Thomas.
"Bagus Thomas! terima kasih telah setia padaku dan tuan Xiauling," tukas Justin.
"Sama-sama kawan," jawab Thomas.
Justin beranjak dari bibir pantai dengan hamparan pasir putih itu sembari membersihkan pasir yang menempel di celananya, setelah itu dia mengajak Thomas pergi.
"Antar aku menemui Wang Zhie," pinta Justin.
"Seorang Justin Steven mau mendengarkan orang lain, ini sangat luar biasa! menurutku, kau memang butuh orang yang mumpuni untuk membantumu, apalagi kau baru saja datang ke kota ini yang situasi dan kondisinya sangat berbeda dengan dulu saat kau masih berkuasa bersama tuan Xiauling," jelas Thomas.
"Diamlah, harus ada perubahan, meskipun hanya sedikit, seperti adikmu yang semakin menggoda saja, dia sangat sexy," goda Justin.
"Sial! bocah tengik ini! lihatlah gadis lain, dia terlalu polos untukmu, dia hanya akan kau rusak," gerutu Thomas.
"Hahaha, kau tahu saja," tukas Justin.
Di saat obrolan itu menjadi semakin seru, di iringi dengan gelak tawa di antara kedua sahabat yang telah lama tidak bertemu itu, tiba-tiba datanglah Lea dengan membawa dua gelas jus jeruk dan camilan untuk sang kakak dan Justin.
"Hey? kalian sedang membicarakanku ya?" tukas Lea.
"Iya, kau tahu saja, aku mengatakan pada kakakmu jika kau semakin cantik dan sexy," jawab Justin.
"Jangan dengarkan dia, kau tahu kan dia pria tidak waras," ucap Thomas.
"Apapun yang kalian katakan tentangku, lebih baik minum jus dan makan camilan ini," pinta Lea sembari menyodorkan dua gelas jus jeruk dan camilan di atas nampan yang di bawanya.
"Kami akan segera pergi, ada urusan penting," jelas Thomas.
"Minum ini juga tidak salah," jawab Justin sembari mengambil segelas jus jeruk itu dan meminumnya hingga habis.
"Kau juga kak?" tukas Lea.
"Baiklah," jawab Thomas yang juga mengambil segelas jus jeruk itu dan meminumnya.
"Camilannya?" pinta Lea.
"Nanti saja Lea, aku dan Justin masih ada hal lain yang lebih penting," jelas Thomas.
"Baiklah," ucap Lea.
__ADS_1
Keduanya pergi meninggalkan Lea, gadis itu masih belum mampu melupakan pesona Justin meskipun sang kakak tidak menyetujui jika Lea menjalin hubungan dengan Justin.
'Aku masih di sini, selalu menunggumu, kak Justin,' batin Lea.