
Ponsel bos Alex berdering saat ia berada di kamar mandi, karena merasa terganggu dengan bunyi itu, Laras akhirnya terbangun, dia bangkit dan duduk bersender di ranjang. Ia meraih ponsel yang berada di nakas dan melihat siapa yang menghubungi sang suami.
Di layar ponsel hanya tertera nomor saja tanpa nama, ia menjawab panggilan itu.
"Halo?" tanya Laras lembut.
"Apa kau Laras?" ucap orang yang menelepon.
"Kau menghubungi nomor ponsel suamiku dan kau mengenalku? siapa sebenarnya dirimu?" tanya Laras heran.
"Suaramu begitu khas, aku Gerald," jawab sang penelepon.
"Ada urusan apa kau menelepon suamiku?" tanya Laras.
"Suami? sebenarnya aku ingin bicara dengan Alex perihal gadis bernama Livy," ucap Gerald.
"Iya, Alex adalah suamiku! cih, Livy? apa kau bersekongkol dengannya untuk memisahkan aku dan Alex? jangan harap bisa melakukannya!" jawab Laras emosi.
"Tidak Laras, aku memang membenci Alex Fernando. Tetapi bukan itu maksudku menghubunginya, Livy memberikan nomor ini padaku, ku kira ini nomor keluarganya, aku ingin mengantarnya pulang kerumah karena sudah beberapa minggu ini, dia ada di apartemenku," jelas Gerald.
"Aku tidak percaya, kau pasti berbohong!"
Tut...tut..tut...
Laras menutup panggilan itu, dan membuang ponsel sang suami di atas ranjang, ada rasa marah yang tertahan di dalam hati Laras yang tak mampu ia uraikan dengan jelas karena terlalu rumit.
"Sayang? kau bicara dengan siapa tadi? aku mendengarmu berbicara dengan seseorang, apa ayah mertua menelepon?" tanya Alex yang telah selesai membersihkan diri, ia segera mengenakan kaos oblong warna putih dan celana pendek berwarna hitam yang ia ambil dari lemari bajunya.
"Gerald meneleponmu, dia bilang sedang bersama Livy," ucap Laras ketus.
"Gerald? dia cari mati atau bagaimana?" tanya Alex kesal.
Laras seketika terdiam, sedangkan bos Alex mulai di landa rasa cemas yang berlebihan di sebabkan sikap Laras yang kembali berubah.
"Apa salahku sayang? itu urusan mereka, tiap detik aku bersamamu, aku juga di sini tidak pergi kemanapun, kau tahu aku tidak berbicara dengan siapapun kecuali dirimu," jawab Alex tidak mengerti tentang sikap ketus yang di tunjukkan oleh sang isteri.
Laras beranjak dari ranjang, dia menyergap tubuh kekar bos Alex, ia memeluk erat tubuh penuh luka sang suami yang membuatnya candu itu.
__ADS_1
"Kau mulai lagi," ucap Alex sembari membelai rambut sang isteri yang masih harum itu.
"Gerald berkata jika Livy masih memiliki nomor ponselmu," jawab Laras menangis sesenggukan, air mata itu tumpah begitu saja tanpa permisi.
"Aku akan memblokir nomor Livy agar kau tidak mencurigainya lagi," jelas Alex.
Bos mafia melepaskan pelukannya, ia mengambil ponsel miliknya yang berada di atas ranjang dan segera memblokir nomor Livy, bos mafia memperlihatkan buktinya kepada sang isteri
"Aku sudah memblokir nomor Livy sayang, apa kau bisa berhenti menangis?" Alex menatap wajah cantik yang murung itu, ia mengusap air mata Laras.
"Sudah sayang, jangan sedih! kau sedang hamil, apa yang kau pikirkan dan rasakan akan sangat berpengaruh kepada baby kita, aku tahu jika banyak gadis yang tergila-gila padaku, tapi pada akhirnya hanya kau yang menjadi isteriku. Aku adalah bos mafia, tapi mampu melakukan semua pekerjaan rumah, harus dengan cara apa lagi untuk membuktikan cintaku yang tulus ini padamu?" Kepala Alex benar-benar merasa pening saat menghadapi tingkah Laras yang mulai mencurigai dirinya secara berlebihan.
"Aku ingin kau selalu bersamaku," jawab Laras manja.
"Iya, aku akan bersamamu sampai kapanpun, aku janji!" ucap Alex.
Laras merasa lega tapi suasana hatinya yang mudah berubah, dan rasa peka-nya terhadap apapun, benar-benar membuat bos Alex harus extra sabar dalam menghadapi tingkah sang isteri.
...* * *...
Di apartemen Gerald...
Gerald duduk di ruang tamu, kedua matanya menatap lurus ke depan, ia merasa bersalah kepada Livy karena selama ini telah menjadikannya pemuas hasrat, awalnya rasa cinta itu hanya semu baginya.
Di saat Gerald merasa gelisah dan bingung dengan hatinya, Livy datang padanya. Gadis itu mendekati Gerald dan mencium bibirnya. Sang pria hanya menerima sentuhan itu tanpa berniat membalas, pikirannya sedang terfokus dengan ucapan Laras yang mengaku menjadi nyonya Alex Fernando. Livy merasa di abaikan, dia membuka jendela apartemen, Dia ingin melompat ke bawah saja.
"Livy! apa yang kau lakukan?" tanya Gerald yang langsung berlari menghampiri Livy yang ingin melakukan hal konyol, ia ingin mengakhiri hidupnya dengan cara melompat dari atas gedung apartemen, tetapi Gerald berhasil mencegahnya. Pria itu meraih tubuh sang gadis, Gerald memeluk Livy.
"Kau tidak menginginkanku! untuk apa aku hidup!" jawab gadis itu sambil menangis.
"Aku tidak bermaksud mengabaikanmu, hanya saja aku sedang memikirkan sesuatu," ucap Gerald mempererat pelukannya.
"Apa kau berfikir untuk menyingkirkanku? membuangku lagi? lebih baik aku mati saja," Livy mencoba lepas dari pelukan Gerald, tapi ia tidak mampu. Kekuatan tangan Gerald dua kali lipat lebih kuat dari tangannya.
Tubuh sang gadis tiba-tiba lunglai dan tidak bertenaga, Livy pingsan. Gerald segera mengendongnya, ia merebahkan tubuh Livy di atas ranjangnya.
"Livy! Livy!" pekik Gerald.
__ADS_1
Dia terlihat sangat khawatir, Gerald mengambil ponsel yang ada meja ruang tamu. Pria itu menelepon seseorang.
"Dokter! cepat! cepat kemari!" ucap Gerald cemas.
"Ada apa kawan?" tanya dokter Adri.
"Livy, dia tiba-tiba pingsan! cepatlah datang ke apartemenku!" Gerald belum pernah merasakan kekhawatiran yang berlebihan ini. Dia semakin yakin jika ada cinta yang besar untuk Livy.
"Tunggu beberapa menit lagi, maaf aku sedang ada tugas," jelas dokter Adri.
"Baik dokter Adri, asalkan kau datang ke apartemenku tidak masalah jika harus menunggu," ucap Gerald.
Pria itu menutup panggilannya, tapi panggilan lain nampak di layar ponselnya.
"Alex Fernando," ucap Gerald.
Gerald menjawab panggilan itu, pertama kali dalam hidupnya, tanpa sengaja ia menghubungi musuh yang telah merebut cinta pertamanya.
"Ada apa?" tanya Gerald.
"Kau yang ada apa? maksudmu meneleponku apa? dan Livy? bagaimana bisa dia bersamamu? bisakah tidak mengganggu keluargaku?" pinta bos mafia.
"Sorry Lex, mungkin ini aneh bagimu, aku sudah bersama Livy sejak beberapa minggu ini, dia memberikanku nomor ponselmu kepadaku, aku kira nomor itu milik anggota keluarganya, ternyata itu milikmu," jelas Gerald kesal.
"Ku harap kau berkata jujur," tukas bos mafia.
"Aku mengatakan hal yang sebenarnya, jujur dari hati yang paling dalam, Laras adalah masa laluku, masa depanku adalah Livy," jawab Gerald.
Alex terkejut saat mendengar ucapan Gerald yang menurutnya tidak masuk akal itu. Tapi jika itu hal yang benar, kabar baik untuk keluarga kecilnya.
"Apapun yang kau katakan, aku tidak perduli, itu hakmu untuk mencintai siapapun, tapi jika kau masih ingin mengejar cinta isteriku, persiapan peti mati untuk dirimu sendiri, tanganku tidak akan segan mencabut nyawamu dengan cara yang paling sadis!" ancam Alex.
"Aku paham dirimu seperti apa, Laras adalah milikmu," jawab Gerald.
Alex menutup panggilan teleponnya, Gerald masih mencemaskan Livy, seketika ucapan Alex, ia lupakan begitu saja. Fokusnya kali ini adalah Livy, hanya gadis itu seorang.
"Sejak kapan aku menjadi budak cinta? rasanya ingin memiliki dan hidup bersama gadis ini selamanya! sial! apakah aku sudah jatuh cinta kepadanya?" Gerald mengacak rambutnya kasar, dia juga bos mafia, tapi apa benar bisa secepat ini melupakan Laras? Pertanyaan itu tertanam di ingatannya, tapi tidak bisa di pungkiri memang hanya Livy yang mampu menenangkan dirinya.
__ADS_1
"Aku penasaran dengan asal usul gadis ini, aku lupa menanyakan kepada Alex sebab jiwanya bisa terganggu, baiklah, aku akan mencari tahu sendiri!" Gerald yakin jika dia akan membuat Livy sadar dan melihatnya sebagai Gerald bukan Alex Fernando.