Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Chapter 96


__ADS_3

Setelah lelah mengejar sang kekasih yang cukup lihai menghindarinya, Laras merebahkan diri di atas pasir. Mengetahui jika sang kekasih telah lelah mengejarnya, Alex ikut berhenti dan duduk di samping Laras.


"Sayang, kau berbaringlah di sampingku," pinta Laras.


"Aku duduk saja," jawab Alex.


"Kau temani aku merangkai khayalan masa depan," tukas Laras.


"Maksudmu?" tanya Alex.


"Berbaringlah di sampingku, aku akan menjelaskan maksud perkataanku," jawab Laras.


Sang mafia merebahkan tubuhnya di samping Laras, dia memandang wajah Laras penuh tanya.


"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Laras.


"Jelaskan maksudmu tentang merangkai khayalan masa depan," pinta Alex.


"Coba kau lihat langit itu, warnanya biru, indah sekali," ucap Laras.


"Lalu?" jawab bos Alex masih belum memahami apa maksud ucapan sang kekasih.


"Lihat langit itu, lalu tutuplah matamu, rasakan dengan hatimu, mimpi apa yang ingin kau wujudkan kelak di masa depan," tukas Laras.


"Ya baiklah, akan aku coba," jawab Alex.


"Aku hitung sampai tiga, setelah itu, kita tutup mata bersama-sama, satu... dua... tiga...," Hitungan terakhir dan mata Alex dan Laras mulai tertutup.


"Apa yang kau lihat?" tanya Laras dengan mata terpejam.


"Kau," jawab Alex dengan mata terpejam pula.


"Selain aku?" tanya Laras.


"Di masa depanku, hanya ada Laras Nugraheni, tidak ada yang lain, kau senang?" jawab Alex sembari membuka matanya.


Dia menoleh ke arah wajah Laras yang masih terpejam.


"Apa yang kau lihat?" tanya Laras.


"Lima Baby A," jawab Laras.


"Apa tidak ada aku di masa depanmu?" gerutu Alex.


"Tentu saja ada, jika tidak ada kau bagaimana aku bisa memiliki lima baby A, kau ini aneh, tapi aku lebih suka mereka daripada kau, aku penasaran seperti apa kau waktu kecil dulu," tukas Laras.

__ADS_1


"Aku tampan dan banyak penggemar, kau tahu? sejak umur delapan tahun aku sudah belajar bela diri dan angkat barbel," ucap Alex.


"Tidak heran kau sangat kuat," jawab Laras.


Alex merubah posisi tubuhnya, dia berada di atas tubuh sang kekasih bertumpu dengan kedua tangan dan kakinya.


"Kuat? maksudmu kuat?" tanya Alex sambil mendekati wajah Laras yang tiba-tiba merasa gugup.


"Aku rasa kau sangat kuat saat bertarung," jelas Laras dengan degup jantung yang tidak beraturan.


"Aku mendengarnya sayang, suara detak jantungmu sangat cepat, apa kau gugup?" ucap Alex.


"Tidak, aku hanya tidak nyaman dengan posisi seperti ini, kau menyingkirlah! aku haus," jawab Laras beralasan.


"Baiklah, karena kita akan menikah, kali ini akan aku lepaskan, tetapi saat malam pengantin, kau akan habis sayang," ucap Alex yang telah merubah posisi tubuhnya agar sang kekasih bisa lepas dari cengkeramannya.


Laras tidak menggubris perkataan bos Alex, dia tetap berjalan tanpa menoleh, dia masuk ke dalam bangunan yang megah itu dan langsung menuju dapur. Dia mengambil jus jeruk yang berada di dalam kulkas, dia menuangkan jus itu ke dalam dua gelas yang sudah Laras siapkan.


Setelah itu Laras membawa dua gelas jus jeruk menuju pintu keluar. Dia memandang sang mafia yang sedang berdiri memandang deburan ombak di depannya.


Laras berjalan perlahan, setelah berhasil mendekati sang calon suami, dia berdiri di samping Alex dan menawarinya minum.


"Satu untukmu," ucap Laras sambil memberikan segelas jus jeruk kepada Alex.


Alex menerima jus itu kemudian segera meminumnya hingga habis.


Dia meminum jus itu tanpa rasa bersalah, Laras terlihat kesal. Tapi bukan Alex namanya jika tidak bisa menggoda Laras.


"Kau mau?" tanya Alex.


"Tidak, untukmu saja," jawab Laras kesal.


"Minum bersamaku," ucap Alex.


"Maksudmu?" tanya Laras.


"Buka mulutmu," pinta Alex.


"Tidak perlu, aku bisa mengambil lagi nanti," tukas Laras.


Saat sang kekasih ingin berbalik, Alex meminum sisa jus jeruk itu dan membuang dua gelas ditangannya. Dia menarik tubuh Laras dan memasukkan sisa jus yang ada di mulutnya ke dalam mulut sang kekasih, karena gerakan Alex sangat cepat, membuat Laras tersedak, secara refleks Laras mendorong Alex.


"Hey, apa yang kau lakukan?" tanya Laras sambil mengelap sisa jus yang menetes di bibirnya.


"Membagi jus denganmu," jawab Alex sok polos.

__ADS_1


"Kau memang pria tidak waras," tukas Laras kesal.


"Jika aku waras, tidak mungkin aku bisa tergila-gila padamu," jawab Alex.


"Kau ini," ucap Laras sambil menjewer telinga sang mafia.


"Sial! lepaskan! kau menyakiti telingaku," pinta bos Alex.


"Ini adalah hukuman untukmu karena telah membuatku tersedak," jelas Laras.


"Hey, kau tahu kan aku hanya bercanda, mengapa kau mengganggapku serius?" tukas bos Alex.


"Bercandamu tidak lucu, jika kau ingin menciumku, setidaknya lakukan dengan benar,"


Laras melepaskan telinga Alex, gadis itu menatap wajah sang kekasih dengan seksama.


"Kau sangat tampan, tetapi mengapa kau tidak tertarik dengan gadis lain?" tanya Laras.


"Kau sangat cantik, tetapi mengapa kau tidak tertarik dengan pria lain?" Alex bertanya balik.


"Mengapa kau menjawab pertanyaan dengan pertanyaan?" ucap Laras.


"Karena kau selalu bertanya hal yang sama, kan sudah ku jawab, yang aku cintai hanya kau, tapi kau selalu ragu," jawab Alex.


"Aku ingin bertemu Livy, setelah itu aku akan berhenti bertanya," ucap Laras.


Kedua tangan Alex memegang kedua pundak Laras, sorot matanya yang tajam menyiratkan besarnya cinta yang dia berikan pada sang kekasih.


"Dengarkan aku! aku bukan pria yang mudah jatuh cinta, Livy bukan siapa-siapa bagiku, aku tidak ingin merusak kebahagiaan kita dengan membahas gadis itu, cukup bahas aku dan kau saja saat ini, kau paham!" pinta Alex.


"Iya, aku paham," jawab Laras.


Alex melepaskan genggaman kedua tangannya di pundak sang gadis dan mengalihkan pandangannya ke arah lautan lepas.


"Kau tahu Laras, dulu aku pria yang bebas, aku mampu melenyapkan lima puluh orang hanya dengan kedua tanganku, aku tidak perduli apapun tentang mereka, apakah orang yang ku lenyapkan itu memiliki keluarga atau tidak. Tetapi saat aku ingin memulai hidup baru denganmu, aku tiba-tiba berpikir saat anak-anakku tahu jika aku adalah seorang bos mafia yang kejam, apa mereka akan menerimaku sebagai ayah mereka?" ucap Alex.


Kali ini Alex sangat serius dengan ucapannya, dia menjadi sangat penakut untuk masalah yang satu ini.


"Mereka akan menerimamu apa adanya, aku akan membantu menjelaskan kepada mereka kelak saat mereka dewasa," jawab Laras.


Alex menatap wajah sang kekasih, dia merasa senang karena Laras telah siap untuk menjadi seorang ibu.


"Kau akan menjadi ibu terbaik untuk anak-anakku," ucap Alex.


"Kau juga akan menjadi ayah terbaik untuk anak-anak kita kelak," timpal Laras.

__ADS_1


Keduanya saling melingkarkan tangan ke pinggang masing-masing sembari menikmati tiap detik angin yang berhembus di iringi deburan ombak yang setia menemani kisah manis mereka di Paradise Land, pulau surga untuk mereka berdua, hanya mereka berdua.


__ADS_2