
Semalaman mereka menikmati kebersamaan dalam kehangatan, meskipun masih berbalut handuk kimono dengan rambut yang basah, mereka berdua tetap romantis. Perbincangan Laras dan Alex tentang memiliki anak lagi menjadi fokus utama Laras. Dia harus mempersiapkan mental kembali dalam memprogram anak ke enamnya. Namun sang suami mengatakan jika belum ingin sekarang juga tidak masalah, yang terbaik saja bagaimana mana. Dia juga masih memiliki banyak urusan yang harus segera di tuntaskan.
Masih dengan posisi yang sama, keduanya saling pandang. Tangan masing-masing menyentuh kulit pipi masing-masing. Rasanya sangat manis, adegan yang terlampau romantis. Di dalam ruangan rahasia, dengan cahaya lampu yang temaram, mereka tetap masih ingin melakukan hal yang lebih dari sekedar olah raga malam. Seakan tak mau waktu yang indah ini usai.
"Sayang, aku belum puas! tapi aku kasihan kepadamu, tubuhmu sudah penuh akan tanda kepemilikan, alhasil terlihat seperti macan tutul, " ucap Alex yang membuat tanda merah di sembarang tempat, dia memang tak terkendali. Apalagi jika dekat dengan Laras, semuanya terlupa. Soal anak-anak dia yakin, mereka masih tidur dengan nyenyak.
"Haha, itu kan ulahmu. Aku tidak masalah sayang, selama kau melakukannya dengan cinta, no problem. Ehm! sayang, apa tidak sebaiknya kita melihat bagaimana anak-anak? sudah lebih dari 3 jam di sini. Aku merasa kasihan dengan ke lima baby kita." Laras mengajak Alex melihat kondisi baby kembarnya.
Dengan langkah malas, dia segera beranjak dari pangkuan sang isteri tercinta.
Setelah itu, mengambil beberapa helai pakaian untuk segera di kenakan, tidak mungkin juga ingin bertemu anak-anak, memakai handuk?
"Sudah siap sayang, mari kita kembali ke kamar anak-anak kita, semoga mereka berlima dalam keadaan baik-baik saja." Laras mengandeng tangan sang mafia mesra, sesekali melingkarkan kedua tangannya di lengan kekar sang suami.
__ADS_1
Alex hanya mampu tersenyum, dia senang jika sang isteri begitu manja kepadanya.
Sang mafia segera membuka pintu rahasia itu dengan menarik salah satu buku yang ada di sana. Dengan ajaib, pintu terbuka. Keduanya, berjalan menuju ruangan luas tempat anak-anak mereka beristirahat.
KLEK!
Pintu ruangan luas itu terbuka, dengan langkah hati-hati, Alex dan Laras masuk dalam ruangan itu. Kelima baby kembar masih terlelap dalam mimpi indahnya. Tanpa mereka berada di sampingnya, si baby kembar, tidak terlalu rewel. Biasanya anak-anak jenius itu akan pernah lepas dari mommynya. Namun kali ini, mereka mampu melewati malam ini tanpa mommy yang sangat mereka sayangi. Ini memberikan efek baik kepada pasangan suami isteri itu. Bagaimana tidak? keduanya bisa segera melampiaskan hasrat masing-masing tanpa ada gangguan sedikitpun.
"Sayang, anak kita sudah beranjak dewasa. Apakah mereka akan menerimaku sebagai daddy terbaik, setelah mengetahui pekerjaan aku yang sebenarnya jadi seorang bos mafia?" Alex mulai merasa khawatir dengan status bos mafianya, tanpa ia sadari rahasia yang bertahun-tahun iya tutup rapat-rapat pada saatnya akan terbuka juga, tabir tentang kenyataan yang sebenarnya. Dia memiliki rencana jika akan mengatakan hal yang sebenarnya setelah kelima baby kembarnya berusia 20 tahun. Di usia itu, peralihan masa remaja menuju dewasa, sang Maaf hanya berharap tidak lebih dari satu dekade, dia akan pensiun dari dunia mafia dalam menjalani kehidupan tanpa gangguan dari para musuh, itu harapannya 15 tahun ke depan.
"Kita lebih baik lanjutkan istirahat, ini sudah tengah malam. Aku besok harus menemui Tuan Carlo untuk membahas beberapa hal." Alex teringat akan rencananya bersama Tuan Carlo untuk membuat sebuah Taman Hiburan serta membahas kedatangan menyusup saat mereka berwisata di Taman Hiburan milik Tuan Carlo. Laras menyetujui apapun keputusan suami, dia juga merasa ngantuk yang tak tertahan. Akhirnya, keduanya pergi dari kamar 5 baby kecil mereka.
"Sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya sang mafia yang melihat Laras seperti terhuyung-huyung saat berjalan.
__ADS_1
"Aku kan sudah bilang, mataku tidak bisa diajak kompromi. Aku sangat mengantuk," ucap Laras sesekali dengan menguap, tanda-tanda rasa kantuknya tak bisa dibendung lagi.
Alex memahami situasi ini, ia segera menggendong tubuh lemah sang isteri. Kali ini Laras untuk melakukan perlawanan, biasanya dia tidak suka di gendong saat berada di luar area kamar. Dia khawatir jika anak-anak mereka melihat, si baby lima pasti akan cemburu. Dia juga yang repot, anak-anaknya agar menangis tanpa henti. Dan obat yang harus ditebus adalah, Laras tidak boleh terlihat bermesraan dengan Alex. Hukuman yang selalu terngiang-ngiang di telinganya. Ide konyol Lexis, si tengil yang selalu jahil dan tidak pernah berhenti melakukan suatu hal yang menarik setiap harinya.
Belum sempat Alex masuk ke dalam kamar utama, dia mendapati sang isteri sudah memejamkan matanya. Terlihat sekali kegelisahan yang ada di wajah Laras. Alex mempercepat langkahnya sebab tubuh sang isteri lama-kelamaan menjadi lebih berat dari sebelumnya.
KLEK!
Pintu kamar utama telah terbuka, dia segera merupakan tubuh sang isteri di peraduannya. Sang mafia duduk di samping Laras. Dia mencium kening wanita yang telah melahirkan 5 baby untuknya, dipandangnya lekat seluruh permukaan wajah sang istri yang semakin lama semakin cantik meskipun berat badannya telah naik.
"Kau adalah kehidupanku, tanpamu aku hanya badan tanpa nyawa. Meskipun kau tiada sekalipun, tak akan pernah aku mencari wanita lain. Jika Tuhan memberikan aku pilihan, aku ingin sekali sehidup semati bersamamu. Namun, aku tidak boleh egois itu. Ada anak-anak yang harus aku jaga, Aku berharap kita panjang umur dan selalu menjalani kehidupan rumah tangga dalam kedamaian dan ketentraman. Jika 'pun ada musuh, sudah menjadi tugasku membasmi mereka. Kau dan anak-anak hanya perlu berdiri di belakangku biarkan diriku yang melawan semua musuh yang akan menghalangi kebahagiaan keluarga kecil kita."
Pesan Alex begitu dalam, dia meyakini jika banyak hal yang tidak pernah terduga di dalam kehidupannya, namun dia yakin mampu melewatinya dengan baik. Tanpa terkecuali merawat kelima babynya agar senantiasa melakukan kebaikan di dunia ini.
__ADS_1
"Bukan keinginanku menjadi seorang bos mafia, aku adalah anak dari Tuan Fernando, tidak akan mungkin semuanya bisa berubah. Tapi aku mampu mengubah nasib kelima anakku tanpa perlu berkutat di dunia hitam yang membesarkan namaku," imbuh sang mafia yang segera beranjak dari tempat tidur, Dia berjalan perlahan keluar dari kamar utama.
Langkahnya terhenti saat terdengar suara aneh dari arah dapur, dia mencoba memeriksanya.