
Alex segera membuat rencana penyelidikan tentang hal ini. Dia menelepon Willy untuk membantunya membuat tim penyelidikan tentang kejadian pembunuhan isteri tuan Zhev. Sang mafia juga meminta bantuan ayah mertuanya agar membantunya menyergap sang pelaku.
Jiho sangat terharu dengan apa yang di lakukan oleh Alex untuknya. Pada akhirnya, Jiho dan para anggotanya mengikrarkan diri ingin bersumpah setia kepada sang mafia.
Alex sangat senang saat mengetahui bahwa Jiho mau membuka hati dan pikirannya untuk kembali ke jalan yang benar. Tapi sebelum menjadi anggota Death Angel, mereka semua harus di tempa pendidikan bela diri, keahlian menembak, strategi dalam bertarung dan lain sebagainya. Jiho dan semua anggota setuju. Kini para pemuda itu bagian dari Death Angel.
"Kalian cukup berani untuk menjadi bagian dari gengku. Aku hanya berpesan, jika Death Angel tidak mentolerir pengkhianat. Siapapun itu, jika dia berkhianat, pantas mati!" Sang mafia menegaskan kepada para anggota barunya agar selalu setia.
"Baik tuan!" jawab semua anggota Jiho serentak.
Jiho merasa jika rapat darurat telah usai, dia meminta para anggotanya untuk beristirahat terlebih dahulu. Setelah semua anggota telah pergi, kini hanya ada Alex, Richi, tuan Ramos dan Jiho yang masih bertahan di ruangan tersebut.
"Lex, aku lapar!" ucap tuan Ramos sembari memegangi perutnya yang keroncongan.
"Tenang tuan Ramos, kau bisa meminta anak buahku memasakkan sesuatu untukmu, mereka bukan hanya ahli bertarung, tetapi ahli juga dalam urusan dapur, " ucap Jiho.
"Baguslah, Lex! aku makan dulu ya?" pamit tuan Ramos.
"Pergilah kakek tua, kau di sini hanya akan merepotkanku saja," jawab sang mafia tanpa ekspresi.
Tuan Ramos hanya tersenyum, ia senang saat melihat Alex kesal.
"Tuan Alex, aku kagum padamu. Kau adalah bos Death Angel, tetapi juga seorang pria yang humoris," ucap Jiho yang merasa lebih dekat dengan sang mafia saat mengetahui kepribadian aslinya.
"Tidak juga, aku hanya kesal dengan tingkah si kakek tua. Sejak aku kecil, dia selalu menggangguku," jelas sang mafia, masih dengan sifat dinginnya.
Jiho menahan tawa saat mendengar cerita dari sang mafia. Pemuda itu merasa jika bos mafia itu, tidak terlihat garang sama sekali saat berada di sisi orang-orang terdekatnya.
"Apa kau sudah menikah tuan?" tanya Jiho penasaran.
"Sudah dan akan segera memiliki lima anak," jelas sang mafia bangga.
"Wow! lima sekaligus? luar biasa. Benihmu unggul juga tuan," canda Jiho, ia merasa sang mafia bukan hanya hebat dalam pertarungan, tapi juga hebat dalam permainan.
__ADS_1
Putera tuan Zhev itu senyum-senyum sendiri saat membayangkan hal itu, Alex menatap lekat mata Jiho, "Apa yang membuatmu tersenyum? apa kau meledekku?" tanya sang mafia yang heran dengan sikap Jiho.
"Tidak tuan, aku tidak berani melakukannya. Aku lebih sayang nyawaku," jawab Jiho merasa ngeri sendiri.
"Haha, aku tidak akan memakanmu, hanya saja kau harus berhati-hati dengan apa yang ada di hati dan pikiranmu," Sang mafia mengingatkan Jiho.
Jiho gelisah, dia meminta maaf kepada Alex. "Maaf tuan, aku merasa terlalu lancang mengatakannya tadi, meskipun di dalam hati," ucap Jiho menyesali perbuatannya.
"Nanti kau akan tahu artinya permainan yang hebat selain bertarung dengan musuh saat sudah menikah," jelas sang mafia tegas.
Jiho menelan ludahnya, dia benar-benar dalam kesulitan karena sang mafia mengetahui apa yang tadi ia bicarakan di dalam hati.
Untuk mencairkan suasana yang mulai tegang, Alex menelepon Zicko. Sang mafia ingin memperlihatkan uang-uangnya kepada Jiho.
"Kau dimana?" tanya Alex di sambungan telepon.
"Sudah mulai dekat bos, tapi aku merasa heran, biasanya akan ada banyak bandit yang menghadangku, apa kau sudah melenyapkan mereka semua?" tanya Zicko.
"Tidak, mereka sudah menjadi bagian dari Death Angel, kau akan aman sampai tujuan," jawab sang mafia menjelaskan.
"Kau berlebihan! aku bukan apa-apa tanpa anggotaku, jadi jangan menganggapku yang paling unggul. Lebih baik kau segera datang, aku malas menunggu terlalu lama," jelas sang mafia.
"Siap bos!" jawab Zicko.
Alex telah mengakhiri panggilannya, dia menyimpan kembali ponsel di saku celananya.
"Tuan, apa yang akan kita lakukan setelah ini?" tanya Jiho.
"Kau dan anak buahmu harus datang ke markasku, di sana kalian akan di tempa menjadi anggota yang kuat dan tangguh," jawab sang mafia.
"Terimakasih tuan, atas belas kasihmu dan kebaikan yang kau miliki," Jiho bersimpuh di hadapan sang mafia, ia merasa senang atas semua hal yang telah Alex lakukan untuknya.
"Bangkitlah! peluklah aku!" pinta sang mafia.
__ADS_1
Kedua pemuda dari generasi yang berbeda kita sudah tidak berjarak. Alex sudah menganggap Jiho adiknya.
"Kau adalah bagian dari gengku sekarang, jangan sungkan untuk meminta bantuan," pinta Alex sembari melepas pelukannya.
"Baik bos!" Jiho tak kuasa menahan tangisnya.
Alex mengatakan kepada Jiho, dia berjanji akan membantu menyelesaikan masalah keluarga tuan Zhev.
Di saat momen haru itu berlangsung, seorang pria datang membawa koper besar berisi uang 200M.
"Kau cepat sekali?" tanya Alex.
"Jalanan lancar, bebas hambatan bos! oh ya, ini uang yang kau minta, 200M," Zicko menyerahkan koper itu kepada Jiho.
"Ini untukmu, terimalah! jangan cengeng! bos mafia harus kuat!" ucap sang mafia.
"Terbawa perasaan bos! pada akhirnya aku mendapatkan keadilan atas kematian ibuku, yang paling istimewa, aku bisa berdamai dengan adik kesayanganku," jawab Jiho.
Jiho menerima uang itu dan menyimpannya di dalam brankas khusus.
"Kau dan anggotamu, ikut aku ke markas Death Angel, aku ingin segera memulai sesi latihan karena kita tidak punya banyak waktu," pinta Alex.
"Baik, mari kita pergi ke markasmu bos,"
Jiho, Richi, Alex dan Zicko keluar dari ruangan itu. Putera tuan Zhev meminta para anggotanya untuk bersiap-siap pergi ke markas sang mafia.
Beberapa menit kemudian, segalanya telah siap, mereka semua naik ke dalam mobil. Alex dan Richi berada di dalam satu mobil, sedangkan tuan Ramos serta Jiho berada di satu mobil yang lain.
"Kau sendiri saja ya?" ledek tuan Ramos kepada Zicko.
"Tidak masalah tuan," jawab Zicko yang lebih dahulu pergi mengendarai mobilnya.
Kini giliran Alex dan kawan-kawan yang mulai tancap gas untuk segera sampai di markas utama Death Angel. Di sepanjang perjalanan, Richi bercerita banyak hal, membahas tentang Jiho dan Hang Zhi.
__ADS_1
"Lex, langkah pertama telah berhasil, untuk selanjutnya tinggal menempa mereka agar menjadi anggota yang hebat," ucap Richi sembari menyetir.
"Iya, syukurlah jika semuanya berjalan dengan baik, aku sangat berharap Jiho memiliki mental yang bagus saat menemui pelaku pembunuhan ibunya, aku tidak ingin dia melakukan pembalasan dengan emosi, karena menurutku, sang pelaku bukan orang yang sembarangan," jawab Alex sembari melipatkan tangan di dadanya.