
Mobil dan peti mati telah siap, jasad Juna di masukkan ke dalamnya. Alex menuliskan sebuah pesan di ponsel milik Juna.
"Hentikan kegilaanmu untuk mengusik Laras dan keluarganya jika kau tidak ingin bernasib sama seperti putramu"
-Alex Fernando-
Ponsel tersebut Ia masukkan ke dalam peti mati. Setelah itu Alex meminta anak buahnya untuk mengantarkan peti mati berisi jasad Juna ke kediaman Tuan Albram Zein.
"Semoga kau jera, Tuan Albram Zein. Untuk selanjutnya, Wang Zhie, anggota Lucifer dan Tuan Xiauling. Tunggu kehancuran kalian." Batin Alex.
Alex puas karena satu persatu orang yang ingin Laras dan keluarganya hancur, berhasil Ia atasi. Bos mafia itu menelpon Richi, dia ingin mengetahui perkembangan penyelidikan tentang Tuan Xiauling.
"Bagaimana?" Tanya Alex.
"Berhasil, Lex. Kami menemukan titik terang keberadaan Tuan Xiauling." Jawab Richi.
"Ada dimana dia?" Tanya Alex.
"Di dalam pintu itu, setelah kami telusuri, ternyata ada delapan titik lorong. Aku dan Tuan Hans memilih masuk ke dalam salah satu lorong yang kami curigai menjadi tempat terakhir Tuan Xiauling singgah. Di sana ada beberapa bekas botol minuman, bau alkoholnya masih menyengat. Kemudian kami menemukan ada pintu, di pintu itu lagi-lagi ada kata sandi, aku mencoba menggunakan kode 8821 untuk membukanya, ternyata pintu itu dapat terbuka. Setelah pintu itu terbuka, kami masuk ke dalamnya, kami terkejut saat mendapati diri kami berada di sebuah kamar. Markas utama Toxic itu ternyata terhubung dengan sebuah rumah yang aku curigai sebagai tempat persembunyian Tuan Xiauling. Di kamar itu ada banyak sketsa wajah seorang gadis tertempel di sembarang tempat. Aku bisa menebak jika pemilik sketsa wajah itu adalah nyonya Raihana, karena wajahnya mirip denganmu, Lex. Di sana juga ada beberapa koleksi katana, namun ada satu yang ku lihat kosong. Mungkin katana itu hilang atau di curi oleh musuh Tuan Xiauling. Aku juga menemukan sketsa wajah bayi laki-laki, entah siapa dia." Jelas Richi.
"Kau selidiki tempat itu, pastikan kau segera temukan Tuan Xiauling." Perintah Alex.
"Siap!!! Lex." Jawab Richi.
Sebelum Alex menutup panggilan ponselnya, Richi mengatakan jika Tuan Hans ingin berbicara dengannya.
"Ada apa Tuan Hans?" Tanya Alex.
"Bisa kau bantu aku merebut kembali Dounghun Farmasi?" Pinta Tuan Hans.
"Bisa, apa lagi yang kau inginkan?" Tanya Alex.
"Jaga anak dan istriku. Tolong kau bawa pergi istriku dari rumah, aku memintanya untuk tidak pergi kemana-mana karena aku mengatakan jika kau akan segera menjemputnya. Aku percayakan mereka berdua padamu." Ucap Tuan Hans penuh harap.
"Baik, kau tidak perlu khawatir tentang keselamatan mereka berdua." Jawab Alex.
"Terima kasih, Lex." Ucap Tuan Hans lirih.
"Terima kasih saja tidak cukup, kau harus berlutut di hadapanku dan mengatakan jika aku yang paling hebat." Canda Alex.
"Kau berani menyuruhku melakukan hal itu? apa kau tidak punya sopan santun? ha? kalau bukan karena terdesak, aku juga tidak akan sudi meminta kau melindungi anak dan istriku, mafia sialan!!!!?" Jawab Tuan Hans penuh emosi.
__ADS_1
"Hey? kepala polisi Hans? sejak kapan kau tahu aku punya sopan santun?" Timpal Alex masih saja mengerjai Tuan Hans.
"Kau???! awas kau Alex, setelah ini akan aku beri kau pelajaran." Jawab Tuan Hans.
"Beri saja aku pelajaran, semisal menjadi calon menantu idaman untuk anak gadismu." Ucap Alex santai.
Tutttttt .. tuuttt.. tuuuutt..
Panggilan itu terputus, tanpa menjawab perkataan Alex, Tuan Hans menutup panggilan telepon itu.
"Kepala polisi Hans yang angkuh, semakin lama seperti bocah saja tingkahnya." Batin Alex.
Drrrrt...drtt..drrtt..
Saat hendak memasukkan ponsel kedalam saku celananya, ponsel milik Alex kembali bergetar, dia menatap layar ponsel miliknya, di sana tertera nama "Jacob" anggota Death Angel yang di tugaskan Alex untuk mengirim jasad Juna ke ke kediaman Tuan Albram Zein.
"Bos, misi berhasil. Setelah ini apa?" Lapor Jacob.
"Bagus, kau tetap berjaga di sana, kau laporkan apapun yang terjadi di tempat itu." Perintah Alex.
"Siap bos!!"
Alex menutup panggilan itu dan segera melangkahkan kakinya menuju markas utama Death Angel. Di depan markas, sudah berjejer para anggota yang mengkhawatirkan keadaan bosnya.
"Aku baik, bagaimana keadaan Erland? Tuan Zhen Ming, apa dia memberontak?" Tanya Alex memastikan.
"Erland sedang beristirahat, sedangkan Tuan Zhen Ming, dia baru saja kami beri makan, tapi dia malah meludahi makanan itu." Lapor Willy.
"Siapa yang berjaga di depan pintu ruang peradilan?" Tanya Alex.
"Chris, bos!!!" Jawab Willy.
"Kalian tetap berjaga di sini, tetap waspada. Biarkan aku yang mengurus Tuan Zhen Ming." Perintah Alex.
"Siap bos!!!" Jawab semua anggota Death Angel yang berjejer tadi.
Kemudian Alex masuk ke dalam markas utamanya dan melangkahkan kedua kakinya menuju ruang peradilan.
"Chris, kau beristirahatlah." Ucap Alex.
"Tidak bos, aku akan tetep di sini." Jawab Chris.
__ADS_1
"Kau ingin aku hukum atau beristirahat?" Perintah Alex, nada suaranya mulai meninggi.
"Beristirahat bos!!!" Jawab Chris.
Setelah Chris pergi, Alex perlahan membuka pintu ruang peradilan. Di bawah sinar lampu yang temaram terlihat sorot mata dengan amarah yang membara.
"Kau sama seperti ayahmu!!! pria sialan yang hanya bisa menindasku!!!" Pekik Tuan Zhen.
"Apa? apa kau bilang? menindas? jika di bandingkan perbuatan keji mu terhadap keluargaku dan seluruh anggota Blue Sea, apa dengan menyekapmu dan memberimu makan adalah sebuah tindakan penindasan?" Jawab Alex tenang.
"Tutup mulutmu, Lex. Apapun yang berhubungan dengan Blue Sea harus ku hancurkan." Ucap Tuan Zhen.
"Apa kau tidak bisa berpikir dengan jernih? anak buahku berbaik hati melepaskan seluruh ikatan tali yang melilit tubuhmu dan juga memberimu makan, tetapi apa balasanmu? kau memang pria tua brengsek yang tidak tahu terima kasih!!!" Jawab Alex.
Seketika itu juga, Tuan Zhen menyerang Alex dengan beberapa pukulan dan tendangan yang mengarah kepada bekas luka tembak di dada Alex.
Alex berusaha menahan rasa sakit di bekas lukanya itu dan membalas setiap pukulan yang di berikan oleh Tuan Zhen.
BRUAAKKKK...
Alex tersungkur karena tendangan Tuan Zhen. Kini Tuan Zhen merasa di atas angin.
Dia menginjak luka Alex, bos mafia itu meringis kesakitan.
"Ini adalah balasan karena kau telah menyekapku!!!" Pekik Tuan Zhen.
"Lakukan apapun yang kau mau sebelum aku melenyapkanmu!!!"
Ucapan Alex memicu amarah Tuan Zhen, dia kembali ingin menginjak Alex, kali ini wajah tampan Alex yang menjadi sasaran, tetapi dengan sigap, Alex menahan kaki Tuan Zhen menggunakan kedua tangannya. Bos mafia itu kemudian mendorong kaki Tuan Zhen hingga tubuh musuh bebuyutan ayahnya itu tersungkur.
Alex tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dia menodongkan senjata api miliknya kearah Tuan Zhen.
"Sudah cukup aku memberikan kesempatan untukmu hidup."
DORR..!!?
DORR..!!!
DORR..!!!
Akhirnya, nasib sial Juna Albram menular kepada Tuan Zhen Ming. Pria tua itu roboh dengan tiga timah panas yang bersarang di tubuhnya, pria tua itu kini bersimbah darah, dia tewas di tangan putra Tuan Fernando.
__ADS_1
"Blue Sea, ayah, ibu, aku berhasil melenyapkan Zhen Ming. Damailah kalian di surga." Ucap Alex dengan senyum penuh kemenangan.