
Selepas pertarungan yang menguras tenaga, semua anggota Death Angel membawa dua tawanan utama ke dalam mobil. Tuan Shin dan Key, dua orang yang menyebalkan kini telah berada dalam kuasa Death Angel.
Angela berjalan bersama Richi keluar dari markas itu, mereka sesekali saling bertatapan. Kedua orang yang saling jatuh cinta itu mulai berani terang-terangan menunjukkan kasih sayang untuk satu sama lain. Banyak anggota Death Angel yang menggoda mereka berdua.
"Kau adalah pria luar biasa Richi, Angela itu gadis yang tidak mudah! kau tahu? jaga dia baik-baik," ucap Franklin yang ikut dalam pertarungan itu. Dia sempat mendekati Angela, tetapi gadis itu tidak pernah bisa lepas dari bayang-bayang Richard. Alhasil, Frank hanya mampu menjadi sahabat bagi Angela.
"Aku tahu, apa kau masih menyukainya?" tanya Richi. Pria itu terlihat cemburu, tapi enggan untuk menunjukkannya. Namun ekspresi wajah dan bahasa tubuhnya menunjukkan jika dia tak ingin ada pria lain berada di samping Angela selain dirinya.
Angela merasa sang kekasih sangatlah kesal, dia menarik tangan Richi dan mengatakan jika Frank dan dirinya hanya sahabat. Frank lebih dewasa daripada Richi, dia memahami situasi ini.
"Its okay Richi, kita adalah satu geng. Mana mungkin aku berbuat curang. Jadilah pria yang selalu bersama Angela, jaga dia," Frank memutuskan untuk masuk ke dalam mobil.
Sedangkan Richi masih terdiam, entah apa maksud dari ucapan Frank, dia terlalu memikirkan hal tidak penting.
"Kak? kau baik-baik saja?" Angela menepuk pundak Richi lembut untuk menyadarkannya dari lamunannya.
"Oh, iya. Apa kau tidak ingin segera menyiksa si tua dan pengkhianat itu?" tanya Richi dengan senyum manis di bibirnya.
"Kau melamun dari tadi, ada apa?" tanya Angela curiga.
"Bukan apa-apa, ayo kita masuk mobil," ajak Angela, dia melingkarkan tangan ke lengan Richi. Richi semakin mempererat genggaman tangannya kepada tangan sang kekasih.
Kedua pasangan petarung tangguh itu berjalan bersama menuju mobil. Saat Angela ingin masuk ke dalam mobilnya, Richi melarang.
"Biar Frank yang mengemudikan mobilmu, kau ikut mobilku saja," Richi menatap wajah Frank lekat, pria itu tersenyum kepada Richi, namun Richi enggan terlalu beramah tamah dengan saingannya.
"Ada apa Richi?" tanya Frank heran.
"Tidak ada, kau jalan dulu. Nanti kami menyusul," pinta Richi.
Dua mobil Death Angel terlebih dahulu pergi menuju markas utama. Meninggalkan dua insan yang saling jatuh cinta yang masih berdiri terpaku melihat kepergian dua mobil itu.
"Kau melihat apa?" tanya Angela yang bingung dengan sikap Richi.
"Menikahlah denganku," Richi menoleh ke arah wajah Angela yang juga menatapnya.
"Are you serious?" tanya Angela terkejut.
"Iya, menikahlah denganku, setelah semua ini usai," jawab Richi menegaskan keinginan terbesar dalam hidupnya.
"Kau tanya kak Alex, dia yang akan menjawabnya," Angela tersenyum mengetahui niat baik Richi. Tapi segala keputusan ada di sang mafia karena Angela telah mengganggap bos Alex orang yang sangat ia hormati selama ini.
"Baik, aku akan datang menemuinya dan meminta izin Alex," Richi tersenyum, dia yakin akan mendapatkan restu itu dengan mudah, secara dia dan Alex adalah sahabatnya.
Richi mengajak Angela masuk ke dalam mobilnya karena masih ada tugas menanti, yaitu...
__ADS_1
MENYIKSA PENGKHIANAT!
...* * *...
Sesampainya di Markas Death Angel...
Satu mobil yang membawa kedua penjahat dan satu mobil lagi yang membawa anggota lainnya, berhenti tepat di depan markas Death Angel. Anggota yang terluka segara mendapatkan pengobatan. Mereka saling membantu mengobati luka para rekan.
Frank keluar dari mobilnya menuju jok belakang mobil di ikuti oleh dua rekannya, tanpa ragu dia membuka pintu mobil dan memberikan bogem mentah kepada Key untuk menyadarkannya.
"Argh! siapa itu!" Key meringis kesakitan saat wajahnya terkena pukulan Frank.
"Cih! anak buah Alex bodoh! lepaskan kami!" pinta tuan Shin yang duduk di samping Key.
Frank tidak menghiraukan ucapan tua bangka itu, dia lebih fokus kepada Key yang menatap dirinya dengan penuh kebencian.
"Apa?" tanya Frank kepada Key yang masih menatapnya.
"Bunuh aku, dan urusan selesai," pinta Key.
"Tidak semudah itu, kematian yang cepat tidak akan membuat kami puas," tukas Frank.
Saat akan di amankan, kedua penjahat itu melawan. Alhasil, Frank segera menyuruh kedua rekannya untuk mengikat tangan dan kaki keduanya agar berhenti memberontak.
"Lepaskan aku!" pinta Key saat dua anak buah bos Alex mulai mengikatkan tali di kedua tangan dan kakinya.
"Bawa mereka berdua ke dalam ruang peradilan," perintah Frank yang di iyakan oleh dua rekannya.
Frank tidak menggubris apapun umpatan yang keluar dari mulut busuk dua penjahat itu.
Mata Frank menatap jauh ke depan, dia menunggu sosok yang sangat ingin ia temui. Sosok gadis yang sangat ingin ia bahagiakan namun terhalang kesetiaan terhadap sang mafia.
"Sudahlah! untuk apa berharap hal yang tidak mungkin, toh Richi akan membahagiakannya," tukas Frank. Kini pria itu memilih untuk masuk ke dalam markas dan menunggu kedatangan mobil Richi yang masih dalam perjalanan.
Saat Frank membalikkan badan, tiba-tiba mobil Richi telah sampai di depan markas. Frank menoleh ke arah gadis yang ia idamkan itu, tapi mata Richi yang terlalu tajam memergoki Frank. Ia mendekap tubuh sang kekasih erat. Membuat Frank tersenyum geli.
'Richi,' batin Frank.
Franklin lebih tertarik mengobati luka rekan-rekannya daripada mendapatkan tatapan tajam tanda kecemburuan dari Richi.
"Frank, dimana dua orang brengsek itu?" tanya anggota yang juga sedang membantu mengobati rekan yang terluka.
"Ada di ruang peradilan," jawab Frank. Dia membantu mengobati luka para anggota Death Angel. Saat Frank sedang fokus mengikat perban di kaki seorang anggota yang terluka, ia terkejut mendapati Angela ada di hadapannya.
"Kak! maafkan kak Richi, dia hanya..." Belum sempat Angela meneruskan ucapannya, Frank sudah memotong kata-katanya.
__ADS_1
"Aku tahu, Richi kadang memang kekanak-kanakan, tapi dia baik. Oh ya, jangan lupa hubungi bos Alex, aku sudah tidak sabar membunuh Key!" Seketika wajah Frank merah padam menyebutkan nama sang pengkhianat.
"Sudah lima menit, waktumu sudah habis. Masuklah ke dalam markas, akan ku obati luka di tanganmu," pinta Richi yang tiba-tiba datang menganggu pembicaraan Frank dan Angela.
"Iya aku tahu, maaf kak. Aku pergi dulu," gerutu Angela.
"Tidak masalah, kau menurutlah padanya," pinta Frank yang langsung berakting sok sibuk mengobati sepuluh orang yang terluka di depannya.
Richi menarik lengan Angela pergi menjauhi Franklin. Pria itu hanya bisa menghela nafas, ia mengerti betapa Richi sangat mencintai gadis yang juga ada di hatinya itu.
Di satu sisi, Richi merasa sangat cemburu. Angela membiarkan sang kekasih merana karena perasaannya sendiri sebab dia sedang tidak ingin membahas rasa cemburu itu. Dia lebih ingin mengabari bos Alex tentang tertangkapnya Key beserta tuan Shin.
"Bos! Key sudah berhasil kami temukan, dia bersama dengan tuan Shin. Aku menduga jika keduanya ingin bekerjasama, namun kami sudah mencegahnya," Lapor Angela lewat sambungan telepon.
"Pelankan suaramu, isteriku sedang istirahat," bisik bos Alex.
"Oh, maaf bos! aku terlalu bersemangat," jawab Angela dengan suara lebih lirih.
"Ya ini suara yang pas, kau bisa berkata lemah lembut," ledek sang mafia.
"Aku kan seorang gadis sudah sepantasnya lemah lembut," jawab Angela dengan nada sok manis.
"Cih! dasar bocah ingusan! cepat katakan yang ingin kau laporkan padaku," jawab sang mafia.
"Key sudah di temukan, dia bersama tuan Shin!" ucap Angela menjelaskan.
"Tuan Shin? ayah Jasmin? gadis malam yang aku tolong waktu itu?" Alex mengingat tentang Jasmin, putri tuan Shin.
"Iya," ucap Angela, nada suaranya terdengar sendu.
"Ada apa denganmu? tadi kau bersemangat, sekarang nada suaramu berubah menyedihkan," tanya Alex penasaran.
Angela menceritakan tentang kecemburuan Richi kepada Frank, sikap Richi terlalu berlebihan menurutnya. Bos mafia langsung bertindak, dia ingin berbicara dengan Richi, Angela menyerahkan ponsel kepada sang kekasih yang sedari tadi berada di sampingnya, ia bertindak bak bodyguard.
"Ada apa Lex?" tanya Richi.
"Hentikan curigamu terhadap Franklin, kembalilah menjadi waras! Frank lebih tua darimu, tidak perlu mengkhawatirkannya, dia patuh padaku. Dia bukan pria kurang ajar sepertimu," jawab bos Alex.
"Tapi bos, aku kesal jika dia mencuri pandang dengan Angela," Alasan tidak masuk akal yang keluar dari mulut Richi memicu tawa sang mafia.
Dia tidak habis pikir jika hanya memandang Angela saja bisa menjadi masalah, tapi memang Alex akui, saat ini dia juga berada di posisi yang sama dengan dirinya. Dua sahabat yang menjadi budak cinta.
"Aku tahu perasaanmu, tapi lebih baik kau urus Key, ingatlah jika kau adalah anggota Death Angel. Para pengkhianat adalah musuh terbesar kita. Setelah selesai, baru pikirkan apa yang harus kau lakukan selanjutnya," ucap Alex ambigu.
"Maksudmu?" tanya Richi penasaran.
__ADS_1
"Menikahi Angela," jawab Alex berbisik.
Sontak Richi terkejut saat mendengar perkataan sang mafia yang seolah-olah mengetahui apa isi hatinya.