Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Chapter 127


__ADS_3

Di Paradise Land...


Saat bos Alex sedang makan malam bersama sang isteri, dia mendapatkan pesan singkat dari Franklin jika ada dua geng yang sedang berselisih paham di salah satu wilayah kekuasaan sang mafia.


Franklin meminta persetujuan dari bos Alex untuk melakukan penyelidikan tentang kematian mendadak kedua anggota geng itu karena Franklin merasa jika pembunuhan Ini adalah sebuah propaganda yang sengaja di rencanakan untuk suatu tujuan yang sangat tidak baik.


Bos Alex yang sedang menyuapi sang isteri, mengirim pesan balasan dan meminta Franklin tidak menghubunginya terlebih dahulu karena sang bos khawatir jika istrinya akan memikirkan masalah yang terjadi di wilayah kekuasaannya.


"Kau sedang berbalas pesan dengan siapa?" tanya Laras.


"Ada informasi penting yang Franklin sampaikan," jawab Alex.


"Tentang apa?" ucap Laras.


"Ini urusanku sayang, kau tidak perlu ikut memikirkannya, habiskan dulu makanannya," jelas Alex.


Laras tiba-tiba menutup mulutnya, dia enggan memakan sesendok nasi dan sayur yang ada di depan mulutnya itu.


"Ada apa lagi sayang?" Alex benar-benar tidak mempercayai ini, sikap sang isteri membuatnya frustasi, tapi sang mafia tetap harus sabar menghadapi ibu hamil yang sedang merajuk itu.


"Hanya masalah kecil sayang, tidak perlu kau risaukan, berhenti berpikiran hal tidak penting, kau hanya boleh memikirkan masa depan anak kita saja," pinta sang suami yang mencoba berbicara pada isterinya yang terlihat malas untuk menghabiskan makan malamnya yang tersisa sesendok itu.


"Tapi aku sangat mengkhawatirkanmu juga Death Angel, apalagi sekarang aku adalah isterimu, tentu saja apa yang menjadi kewajibanmu, aku harus ikut campur, kelak aku akan menjadi seorang istri yang memiliki peranan penting di dalam hidupmu. Jika dari sekarang kau tidak berkata jujur padaku besok kau akan selalu berbohong, berbohong dan berbohong hanya untuk menutupi tugas berat yang sedang kau pikul. Jujurlah kepada istrimu ini sayang, aku tidak apa-apa, aku tidak akan memikirkan hal yang lebih buruk dari ini jika kau menceritakan segalanya. Tenang saja, anakmu akan aman, aku lebih tenang jika kau jujur tentang kesulitan yang kau alami," ucap Laras.


Alex merasa terharu dengan apa yang dikatakan oleh Laras, hanya saja sang mafia tidak menyangka betapa sang isteri telah menyerahkan jiwa dan raganya dengan sepenuh hati bukan hanya di mulut saja. Janji pernikahan yang pernah Laras ucapkan terealisasikan dengan nyata.


Alex meletakkan sesendok nasi dan sayur itu di atas meja makan, ia segera memeluk tubuh sang istri. Sang mafia membelai rambut Laras dengan lembut, Alex benar-benar tidak ingin kehilangan sang istri karena dia sangat mencintai Laras lebih dari apapun.


Setelah acara makan malam selesai, Alex mengatakan segalanya kepada Laras tentang masalah yang ia hadapi bersama gengnya. Laras sudah memahaminya, ia mengijinkan Alex untuk segera menyelesaikan tugasnya sebagai bos mafia.


"Aku tinggal dulu sebentar," pinta Alex.


"Baik sayang, fighting!" ucap Laras.

__ADS_1


"Fighting? kata itu seperti drama di televisi yang sering kau lihat, cerita tentang seorang dokter dan pasien yang saling jatuh cinta," celetuk Alex.


"Apa kau juga tertarik melihatnya? ayo! nanti malam kita menonton bersama, romantis itu sayang," jelas Laras.


"Tidak sama sekali, pemeran prianya terlalu lembek, lebih cocok aku yang memerankannya, bos Death Angel menjadi artis drama televisi," Alex terlihat sangat percaya diri.


"Bukannya jadi artis, kau akan menghabisi sutradaranya karena dia terlalu mengaturmu," Laras tidak yakin jika suaminya mampu menjadi artis drama televisi yang melow itu.


"Haha, aku hanya bercanda sayang. Menjadi suamimu saja sudah cukup, tidak ingin yang lain," ucap Alex.


"Itu baru benar, kau juga tidak perlu di kelilingi banyak gadis yang mengidolakanmu, menjadi artis sangat sulit, kau tahu?" jawab Laras.


"Iya, aku mengerti, para gadis juga akan takut karena isteriku telah ikut menjadi mafia sepertiku. Sudah ya sayang? aku ingin menelepon dulu," Alex akhirnya mampu mengakhiri percakapan tanpa harus membuat sang isteri tersinggung.


Alex beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar bangunan.


Dia menelepon Franklin, untuk beberapa saat dia harus menunggu sang anak buah menjawab panggilan teleponnya.


"Kau tenanglah, bawa Zicko dan Erlan bersamamu, akan segera ku minta Morgan bergabung, mereka bertiga akan membantumu, biarkan Richi nanti menyusul," jawab Alex.


"Tapi kau harus turun ke medan pertempuran! jika tidak, mereka akan mengalahkan kita dengan mudah!" ucap Franklin khawatir.


"Death Angel dan para anggota adalah satu kesatuan, kita bersama melawan musuh, tiga orang itu sudah cukup mewakili diriku, jika perlu kau ajak Angela, biar dia yang memimpin!" jawab Alex.


"Tapi bos...," Franklin ragu dengan rencana sang bos.


"Kau sudah bersamaku lebih dari sepuluh tahun dan kau masih meragukanku?" ucap Alex.


"Maaf bos, bukan maksudku seperti itu," jelas Franklin.


"Kau percaya padaku, lakukan saja sesuai perintahku," jawab sang mafia.


"Baik bos! maaf telah meragukanmu," ucap Franklin.

__ADS_1


"Tidak masalah, berjuanglah! suatu saat nanti, aku akan segera turun ke medan pertempuran, tapi tidak saat ini. Tunjukkan kemampuan terbaik kalian," jelas bos mafia.


"Siap bos! laksanakan!" jawab Franklin.


Alex menutup panggilan teleponnya. Ia mengirim pesan kepada Morgan untuk segera meluncur ke markas Death Angel karena ada tugas penting untuknya. Setelah selesai mengirim pesan, sang mafia kembali masuk ke dalam bangunan megah itu. Saat dia kembali menemui sang isteri, ternyata Laras masih berada di sana dan sedang menikmati makan malam keduanya.


"Kau diam-diam menghabiskan banyak makanan ya? bagus sayang," puji bos Alex.


"Hm, ini untuk baby kita sayang," jawab Laras.


Alex mendekati tubuh sang isteri dan mengecup keningnya mesra, beban menjadi bos mafia runtuh seketika saat berada dekat dengan sang isteri.


"Sayang, setelah ini aku ingin menonton drama yang aku suka, kau ikut ya?" pinta sang isteri.


"Tidak, maaf ya? aku ingin membaca buku," ucap Alex.


"Buku apa?" tanya Laras.


"Mendampingi isteri melahirkan, merawat baby baru lahir, dan ada dua buku lagi yang aku lupa judulnya," jawab Alex.


"Bagus, kau memang suami dan daddy idaman!" ucap Laras.


"Kau bisa saja, sudah ya? aku ke kamar dulu, membaca di dalam kamar lebih nyaman," pamit bos mafia.


"Iya," Laras bangkit dari tempat duduknya dan berjalan perlahan menuju ruang tamu, dia menyalakan televisi. Kebetulan acara drama televisinya sudah mulai.


Sang suami masuk ke dalam kamar utama, dia duduk dia atas sofa dan mulai membaca satu judul buku.


"Mendampingi isteri melahirkan," ucap bos Alex mulai membaca judul buku itu.


Lembar demi lembar buku, telah ia buka. Bos mafia mencoba memahami istilah dalam dunia ibu hamil yang menuju persalinan.


"Mengejan? air ketuban? wah ini istilah yang baru untukku, aku harus banyak belajar," Bos mafia sangat antusias belajar mengenai seluk beluk persalinan. Untuk sejenak, ia melupakan masalah yang melanda gengnya.

__ADS_1


__ADS_2