
Keesokan paginya...
Hari masih sangat pagi, namun dua insan yang terlalu bersemangat itu telah siap mengendarai mobilnya menuju pulau sang mafia. Di dalam mobil, mereka berbincang ringan tentang bagaimana perasaan masing-masing. Kali ini Angela lebih pendiam, entah apa yang ia pikirkan sehingga begitu cepatnya berubah.
Richi sesekali mencuri pandang kepada gadis tangguh itu yang hanya memandang ke arah luar jendela.
"Ehm," Richi berdehem, seketika Angela terkejut dan menatap calon suaminya.
"Ada apa kak?" tanya Angela cemas. Ia mengalihkan pandangannya ke arah sang kekasih.
"Tidak, hanya saja kau terlihat aneh hari ini," ucap Richi sembari tersenyum melihat wajah Angela yang tiba-tiba bersemu merah.
"Oh itu, Ehm...,aku gugup," jelas Angela berterus terang.
"Kenapa harus gugup? sebentar lagi kita akan menikah, kau akan jadi isteriku," ucap Richard penuh kasih, pria itu mengusap rambut Angela mesra.
"Iya, tetap saja kak. Aku belum terbiasa dengan hubungan yang secepat ini bisa menikah, tapi bukan aku tidak ingin menikah, hanya saja...aku gugup," Angela mengelap keringat dingin yang mengalir pelipisnya menggunakan tangannya, ia benar-benar canggung.
Richi meraih tangan Angela, ia mencium tangan sang kekasih penuh cinta.
"Sayang, kau tenanglah! pada akhirnya kita juga akan menikah, kita hanya perlu menjalani ini semua dengan bahagia," ucap Richi menenangkan Angela, tangannya masih menggenggam tangan gadis itu.
Ponsel Richi berdering, Angela melepas genggaman tangan itu agar sang kekasih bisa meraih ponsel di saku celananya.
Sambil menyetir, Richi memandangi layar ponsel, di sana terpampang nomor sang bos. Ia langsung menjawab panggilan itu.
"Ada apa bos?" tanya Richi.
"Posisimu dimana?" ucap sang mafia memastikan.
"Aku menuju pangkalan helipad di kawasan perumahan elit tuan Immanuel, ada apa?" tanya Richi.
"Oh, baiklah. Kau segera kemari, pendeta bosan menunggu," jawab Alex santai.
"Ha? dia itu pendeta atau apa? pagi sekali sudah datang," gerutu Richi yang merasa sang mafia benar-benar mengerjainya.
__ADS_1
"Haha, dia itu bukan pendeta tetapi ninja malam. Dia adalah temanku dari luar negeri, khusus aku hadirkan untuk menikahkanmu dengan Angela. Semua telah siap, kalau sampai lima jam kau tidak datang, pernikahan batal. Biarkan aku saja yang menikah lagi dengan isteriku," bisik Alex menggoda anak buahnya.
"Sial! bilang saja kau mau menikah lagi," Richi berbalik mengerjai bosnya.
"Ssstt! aku tidak ingin bertengkar dengan Laras pagi ini, sejak kemarin dia menurut padaku," ucap sang mafia kembali berbisik.
"Baiklah bos, kau jangan menduakan isterimu, bisa habis kau nanti," jawab Richi dengan berbisik pula.
"Tidak akan mendua, tidak ada wanita lain yang lebih garang seperti isteriku, dia yang terbaik," jawab sang mafia memuji sang isteri.
"Garang di ranjang maksudmu?" ucap Richi menahan tawanya.
"Haha, sial! ya begitulah kurang lebih," jawab sang mafia mengakuinya.
Alex kemudian menutup panggilan itu dengan mengatakan agar keduanya segera datang karena semua sudah siap.
Angela yang mendengar percakapan antara anak buah dan bos di sambungan telepon tak habis pikir dengan Alex. Sang mafia selalu bertindak semena-mena pada mereka. Baru kemarin mengatakan ingin menikahkan, di pagi buta sudah di tunggu pendeta, sungguh totalitas sekali bos mafia itu ingin membahagiakan adik dan sahabatnya.
Setelah menempuh jarak lumayan jauh, mereka sempai di pangkalan helipad. Dia memarkirkan mobilnya. Angela dan Richi keluar dari mobil secara bersamaan.
"Sepagi ini kau sudah ada di sini? hebat," puji Richi sembari menepuk pundak sang pilot.
"Bosmu yang menyuruhku, apalagi ini memang tugasku, ayo kita berangkat," jawab sang pilot.
Sedari tadi Angela hanya diam saja, tuan pilot kemudian menegurnya.
"Kau sakit?" tanya pilot kepada Angela.
"Oh, tidak. Hanya ingin diam saja," ucap Angela salah tingkah.
"Dia sedang gugup, lebih baik kita berangkat," bisik Richi sembari menyikut lengan sang pilot.
"Oke tuan, aku paham," jawab sang pilot mengerti.
Ketiga orang itu berjalan menuju pangkalan helipad, di sana sudah siap satu helikopter untuk mengantar pasangan itu ke pulau surga milik sang mafia.
__ADS_1
Suara bising baling-baling helikopter mengingatkan kepadanya saat Alex ingin melamar Laras di paradise Land. Kini gilirannya, menaiki helikopter itu untuk menikahi Angela di pulau yang sama.
Sang pilot naik ke helikopter, di susul oleh Angela dan Richi. Mereka kini ada di dalam helikopter dan siap terbang menuju pulau sang mafia.
...* * *...
Di Paradise Land...
Alex dan Laras berada di bibir pantai, mereka sedang menunggu kedatangan pasangan mafia yang akan menikah di tempat itu. Alex mengandeng tangan sang isteri sembari mengajaknya berjalan kaki menyusuri pantai yang indah itu. Suara ombak menggelegar, memecah kesunyian pagi ini.
"Sayang, aku tidak sabar menunggu, aku ingin anakku segera lahir di dunia ini," ucap sang mafia.
"Sama, aku juga sayang, tetapi semua ada prosesnya," jawab sang isteri lembut.
"Hanya tinggal beberapa minggu tapi aku merasa lama sekali," keluh sang mafia yang ingin segera bertemu kembarannya.
Laras menghentikan langkah kakinya, ia menelangkupkan kedua tangan di wajah tampan sang suami. "Setelah anak ini lahir, kau boleh kembali bertarung! aku bisa mengurus buah hati kita," ucap Laras yang merasa waktu sang mafia terbuang sia-sia karena harus mengurusnya.
"Tapi sayang?" Alex ragu untuk meninggalkan sang isteri sendiri.
"Tenanglah, setiap wanita memiliki insting seorang ibu. Mereka akan mampu menjaga dan merawat anak-anak dengan baik," Laras meyakinkan sang suami agar tidak terlalu mengkhawatirkannya.
Sang mafia menggenggam kedua tangan sang isteri, ia menciumi tangan itu kemudian memeluk tubuh Laras.
"Terima kasih sayang, kau sangat baik dan pengertian, aku akan datang kemari seminggu sekali, karena banyak pekerjaan yang aku tinggalkan," ucap sang mafia yang mendaratkan ciuman di kening sang isteri.
"Tidak masalah, selama itu tidak mengganggu pekerjaanmu, jika kau tidak bisa datang sekalipun kau bisa meneleponku," jawab Laras lembut.
Kedua mata mereka saling berpandangan, Alex merasa sangat bahagia. Dalam hidupnya, menikah dan memiliki keluarga adalah hal yang semu. Namun, semua berjalan begitu saja. Cinta datang ke dalam hidupnya tanpa permisi. Peristiwa satu malam yang mengesankan baginya karena bisa bertemu dengan jodohnya, cinta sejatinya.
"Sayang, kau adalah satu-satunya di hidupku, jangan pernah pergi dariku," ucap sang mafia sembari membelai wajah sang isteri.
"Kita akan bahagia bersama sayang, apalagi ada anak kita, semua akan baik-baik saja," Laras tersenyum membuat sang mafia gemas.
"Sial! mengapa kau begitu menggoda sayang!" Alex berusaha menahan diri, gejolak di jiwanya begitu menggebu.
__ADS_1
"Bersabarlah, masih beberapa minggu lagi," ledek Laras, sang isteri memeluk dan mencium dada bidang sang suami.