
Beberapa jam kemudian, pesawat itu landing di bandara internasional Macau. Para penumpang mengantri untuk turun dari pesawat termasuk sama mafia dan anak buahnya.
Saat semuanya telah berada di bawah kini saatnya keduanya turun, Frank yang sudah lama tidak datang ke Macau mencoba untuk menghirup udara segar yang menerpa wajahnya.
"Macau! the city of gamble! I'm coming!" pekik Frank, semua orang yang berada di bawah menatap heran. Alex langsung menarik tangan anak buah dan pergi dari tempat itu.
Setelah keduanya sampai di Garbarata [ Garbarata adalah jembatan yang berdinding dan beratap yang menghubungkan ruang tunggu penumpang ke pintu pesawat terbang untuk memudahkan penumpang masuk ke dalam dan keluar dari pesawat.]
Alex memperlambat langkah kakinya.
"Kau bisa tidak diam? kamu mempermalukanku sebagai bosmu!" ucap sang mafia. Dia terlihat kesal.
"Wkkwkw ... namanya juga baru sekali ini bos ke luar negeri, lama sekali kau tidak mengajakku kemari! aku juga sudah lama tidak bermain judi, kau terlalu sering menyuruh untuk bertarung jadi aku lupa caranya mengundi nasib di meja judi!" jawab Frank yang sebenarnya memang kurang piknik, dia harus mengurus segalanya di markas.
Willy adalah orang yang paling diuntungkan Karena dia selalu pergi ke mana pun, sang mafia selalu menyuruhnya pergi.
Tapi untuk Frank, dia harus stay di markas. Dia termasuk yang paling berpengalaman dari yang lain.
"Iya, tapi kan kau yang paling berpengalaman, aku selalu mengandalkan dirimu." Sang mafia memang sangat bergantung kepada Frank saat harus meninggalkan markas.
"Maka dari itu bos, aku tidak bermaksud mempermainkan atau mempermalukanmu tadi. Aku hanya ingin ekspresikan apa yang ada di hatiku. Rasanya senang bisa datang lagi ke Macau," jelas Frank.
__ADS_1
"Oke, kali ini aku memaafkanmu! ayo kita cari taksi, kita harus sampai ke Bar milik Tuan Win dengan segera," pinta sang bos.
"Tidak ada mobil jemputan untuk kita?" tanya Frank.
"Mereka lupa jika bos mafia butuh jemputan mobil mungkin, aku tidak membutuhkannya! naik taksi sudah beres," jawab Alex yang kini sudah mendapatkan taksi.
Saat sang mafia masuk ke dalam taksi tersebut, Frank mengekor langkahnya.
Keduanya kini telah berada di dalam taksi.
"Pak sopir, turun di depan bar Tuan Win," pinta Alex.
"Baik, Tuan."
Sepanjang perjalanan, keduanya tidak saling berbincang karena ada orang lain di antara Frank dan Alex.
Butuh waktu setengah jam untuk sampai di depan bar, setelah waktu itu terlewati, keduanya segera membayar biaya taksi dan turun dari kendaraan roda empat itu.
"Tuan Win, sangat menjunjung tinggi nilai estetika, apa yang kita inginkan ada di sini, semuanya terlihat sangat modern dan epic!" puji Alex terhadap Tuan Win yang pandai mengelola bar.
Tap ... tap ... tap ...
__ADS_1
Langkah sang mafia sangat tegap dan gagah, sehingga membuat seorang gadis cantik mendekat padanya.
"Tampan? mau minum denganku?" tanya si gadis memberi mendekat ke arah sang mafia.
"Aku tidak ikutan ya bos! kau urus dia sendiri," ucap Frank yang kabur terlebih dahulu.
Alex tersenyum sinis, dia menatap ke arah si gadis yang tersenyum nakal kepadanya.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Alex, dia sangat dingin bahkan tidak bergerak meskipun sang gadis mulai mendekat dan meraba dada bidangnya, hingga mencium punggungnya.
"Bisa kau hentikan semua itu? Aku tidak suka kasar dengan wanita apalagi kau seorang gadis!" jelas sang mafia, namun penjelasannya tak digubris.
Sang gadis masih saja menggodanya.
"Baby, kau sangat kekar dan kuat! ayo tidurlah denganku malam ini, kau tidak perlu membayarku! aku sudah puas hanya dengan semalaman memeluk tubuhmu," ucap si gadis semakin berani menggodanya.
"Sampai matipun aku tidak akan tidur denganmu! menyingkirlah atau pisau ini akan merusak wajahmu yang kotor itu!" Dengan santainya sang mafia mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya.
"Aku tidak suka orang lain mencium bahkan menyentuh anggota tubuh selain istriku sendiri! aku sangat mencintai istriku dan kau jangan pernah berharap aku mau tidur denganmu! kau akan mati di tanganku jika masih menampakkan wajah itu selama aku ada di sini, kau paham!" ancaman ini cukup manjur.
Si gadis mundur teratur, tapi dia belum menyerah.
__ADS_1
Siapa dia? aku ingin pria itu.
....