Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Jika tahu, aku seorang mafia!


__ADS_3

Alex dan Laras langsung mengalihkan perhatian kelima anaknya yang terus saja memandanginya. Sang mafia langsung mengendong Lexis, sedangkan sang isteri mengajak ke empat anaknya menuju ruang keluarga.


"Daddy! mengapa selalu seperti ini? berduaan di belakang kami, ada daddy tidak malu? selalu kepergok kami?" Lexis sudah pandai berbicara, Dia memprotes setiap tindakan yang dilakukan oleh sang mafia.


"Sayang, daddy dan mommy sedang merencanakan membuat sebuah pesta ulang tahun untuk kalian berlima. Jika tidak berbicara dari jarak yang dekat, nanti kalian akan mengetahui apa yang kami rencanakan. Semua kejutan yang telah siap akan menjadi sia-sia." Sang mafia memang luar biasa dalam menyampaikan sebuah alasan.


"Benarkah itu daddy?" Lexis masih meragukan ucapan sang mafia yang menurutnya hanya sebuah janji yang tidak akan ditepati.


"Apa jagoan daddy ini sedang meragukan daddy?" Alex tetap membujuk sang baby yang mulai beranjak dewasa itu, wajahnya yang manyun dan tanpa senyum membuat daddy mafia gemas.


"Daddy? aku ingin pergi ke rumah nenek," ucap Lexis, dia berharap sang mafia mau mengabulkannya.


"Nanti, akan ada hadiah untukmu dan saudaramu yang lain, hanya butuh beberapa menit lagi hadiah itu sampai." Sang mafia berharap jika jurusnya kali ini mampu membuat Lexis bisa mempercayainya.


"Benarkah?" Lexis mengembangkan senyum di bibir mungilnya, tiada raut cemburut lagi, yang ada hanya kegembiraan.


"Iya sayang, lebih baik kau segera bergabung dengan saudaramu yang lain, oke?" Sang mafia mampu mengendalikan sang putera dengan baik. Dia sangat senang, saat Lexis mampu menahan emosinya. Jika tidak, dia pasti sudah pusing di buatnya.


Lexis yang sudah merasa bahagia, meminta turun dari gendongan sang daddy. Dia berlari menuju ruang keluarga, Alex merasa lega.


Kini tugasnya adalah menghubungi Tuan Hans dan Nyonya Fira agar tetap menunggu di bandara karena sang mafia akan menjemputnya.


Dia segera kembali ke kamar utama, dia mengambil ponselnya yang lain. Setelah masuk ke dalam kamar, sang mafia langsung menemukan gawainya yang berada di atas nakas.


Daddy mafia membuat sebuah panggilan telepon kepada ayah mertuanya.

__ADS_1


"Iya Lex? apa kau mau menjemputku?" tanya Tuan Hans yang sudah mulai akrab dengan sang menantu.


"Iya ayah, setelah ini aku dan Laras, serta si kembar menuju bandara. Tunggu kami," pinta sang mafia yang akan menjemput Tuan Hans dan Nyonya Fira, dia berpikir lebih baik mengajak mereka berdua ke rumah Guru Fu, karena rumahnya sudah tidak aman lagi.


"Ok, aku tunggu. Aku tutup panggilanmu karena harus ke kamar kecil," pamit sang ayah mertua yang langsung memutuskan panggilan telepon sang mafia.


"Kebiasaan kepala polisi itu," ucap sang mafia dengan senyum yang mengembang di bibirnya, dia teringat akan masa lalu bersama Tuan Hans, pria menyebalkan yang sudah menjadi kakek dari kelima anaknya.


Alex segera menyimpan ponsel miliknya di dalam saku celananya. Dia segera menemui ke lima anaknya, dia membiarkan sang isteri untuk mandi. Setelahnya sang mafia yang menjaga kelima babynya.


Beberapa menit kemudian, sang isteri telah selesai melakukan ritual pembersihan diri, sudah cantik juga karena mengenakan baju couple dengan kelima anaknya.


Kemudian giliran dirinya yang melakukan ritual pembersihan diri di kamar utama. Setelah semuanya selesai, dia mengenakan baju kerjanya, dia beranggapan penampilannya sudah paripurna, sang mafia keluar dari balik pintu utama dan berjalan menuju ke lima anak serta isterinya.


"Harusnya daddy juga mengenakan baju dengan warna yang sama dengan kami, biar lebih kompak," ucap Adelio yang sudah siap di pelukan sang mafia.


"Ehm, daddy ada urusan jadi harus mengenakan pakaian ini," jawab sang mafia yang memakai baju kerjanya.


"Tak perlu meributkan pakaian apa yang di kenakan, yang terpenting adalah kita harus segera pergi! ada kejutan yang menunggu! let's go!" ucap Laras penuh semangat, dia mengajak para jagoan berjalan menuju garasi mobil, di sana mereka masuk ke dalam mobil dengan tertib. Kali ini Lexis yang ingin duduk di samping sang daddy.


Tak ada hal yang bisa menghalangi keinginan Lexis, sang mafia membiarkan si tengil melakukan apa yang dia inginkan.


"Kita akan kemana dad?" tanya Arsen penasaran, sejak awal dia dan kelima saudaranya sangat antusias dengan tujuan jalan-jalan mereka bertujuh.


"Menjemput kakek Hans dan nenek Fira, tetapi sebelumnya, kalian daddy antar ke rumah teman daddy yang sangat bagus, kalian setuju?" Sang mafia akhirnya mengatakan tujuan utama mereka, tak di ragukan lagi, kelima jagoannya sangat bahagia.

__ADS_1


"Hore! ketemu kakek Hans! yey," ucap Adya, yang sangat dekat dengan Tuan Hans, setiap tahun, mereka berdua akan bermain game bersama. Tidak seperti 4 saudara lainnya, yang lebih suka bermain polisi vs penjahat.


Alex mengetahui permainan ini, meskipun dia khawatir jika kelima anaknya suatu saat bertanya hal yang aneh, dia tetap akan mengatakan jika penjahat adalah orang yang harus di hukum, tidak bisa di pungkiri jika sang ayah mertua adalah seorang kepala polisi yang menangkap para penjahat. Di dalam pelajaran yang di berikan di home schooling nya 'pun sama.


Tapi anak-anaknya tidak sampai menanyakan jika status mafia itu apa? dia akan sangat kesulitan menjawab hal ini. Karena sejatinya, mafia adalah kebalikan dari kebaikan.


'Aku seorang bos mafia, ayah mertuaku adalah seorang kepala polisi yang menangkap para mafia. Semoga kelak, anak-anak tidak akan menanyakan pekerjaanku selain menjadi CEO Dounghun Farmasi, aku harus lebih berhati-hati tentang hal ini kalau tidak ingin mendapatkan masalah,' batin sang mafia bergejolak, dia tidak akan menyalahkan dirinya sendiri tentang statusnya tetapi dia harus bersiap dengan segala hal akan terjadi di hidupnya, termasuk di benci oleh anak-anaknya karena status penjahat yang di sandangnya.


Laras heran melihat sang suami yang diam terpaku, padahal Lexis dan anak-anaknya sudah berisik, inginkan sang daddy segera mengemudikan mobilnya.


"Sayang?" apa kau baik-baik saja?" Laras mendekat ke arah jok kemudi, memastikan jika sang suami tidak memikirkan sesuatu yang memberatkannya.


Mendengar suara sang isteri, dia terkejut dan tersadar dari lamunannya.


"Oh, bukan apa-apa sayang, hanya lelah mungkin." Alex menutupi segala kekhawatirannya dari sang isteri.


"Oh, oke baiklah! segera kemudikan mobilnya kalau begitu," pinta sang isteri yang kembali duduk di jok belakang.


"Kalian sudah siapkan? kita akan bertemu kakek dan nenek tersayang kalian!" pekik sang mafia membuat keadaan semakin kondusif!


1...2...3


Wuuussh!


Tepat di hitungan ketiga, dia menghidupkan mesin mobilnya dan bergegas menuju bandara.

__ADS_1


__ADS_2