
Alex merangkul pundak Jiho, dia menenangkan Jiho yang menangis. Gelak tawa yang semula ada, kini berubah menjadi kesedihan. Semua orang yang ada di dalam ruangan itu merasakan kepedihan yang dialami oleh Jiho. Sang mafia memerintahkan tim penyelidik untuk segera mencari pria yang dimaksud. Rapat segera ditutup, Alex secara pribadi ingin berbicara dengan Jiho. semua memahaminya, Alex dan Jiho kini duduk di kursi yang sama. Sebagai orang yang lebih tua dari Jiho, Alex memberikan petuahnya.
"Kita hidup di dunia mafia yang kejam, jangan terbiasa untuk terbawa perasaan. Kita tidak pernah mengenal kata keluarga di dalam dunia hitam ini. Siapapun bisa menjadi musuh. Mungkin saja sang pelaku, seorang sahabat dari ayahmu, atau memang benar dia kekasih ibumu. Kau adalah pemimpin gengmu, jadilah lebih kuat, aku ingin mendengar kau menjadi pria yang hebat, bukan pria yang mudah menangis. Penderitaanmu juga penderitaanku Jiho. Tetaplah kuat, kami akan membantumu, tenang saja," Sang mafia memeluk tubuh jiho, dia merasakan kesedihan yang mendalam seperti apa yang Jiho rasakan.
Secara sang mafia juga pria yang dekat dengan ibunya. Sang ibu juga dulu bermain di belakang Tuan Fernando. Rasa sakit juga ada di dalam hatinya. Tetapi tidak menyurutkan niatnya untuk menjadi kejam di medan pertempuran. Jika di depan Alex adalah musuh, pilihannya hanya dua, mati atau kritis.
Dia adalah malaikat maut yang sesungguhnya, Dia sangat sadis dan kejam. tapi dia juga penyayang kepada istrinya. Dia tidak pernah melukai hati seorang wanita. Karena dia tahu ibunya telah menderita sebelum menikah dengan ayahnya. Dia belajar dari sang ayah, jika memaafkan adalah hal yang terbaik maka lakukanlah. tapi jika kau tidak bisa memaafkan, lebih baik kau segera akhiri hidup orang itu. Prinsip yang sangat kejam, dia tidak bisa seperti ayahnya. Sang mafia masih memiliki hati yang lembut. Jiho mulai memahami kehidupan yang sedang Alex jalani. Dia meminta bimbingan dari bos Alex.
"Mari kita latihan, aku akan menempa kalian semua selama seminggu ini. Setelah seminggu kemudian, aku berharap kalian siap untuk bertemu dengan Hang Zhi. Meskipun Shadow adalah masalah kecil bagiku, tetapi untukmu, dia adalah lawan yang kuat. Di dalam pertempuran, pasti banyak hal yang akan terjadi. Persiapkan segalanya, mental yang kuat adalah kunci penting untuk memenangkan pertarungan," ucap sama mafia.
Alex mengajak Jiho untuk pergi ke aula latihan, sesampainya di sana, ternyata sudah dipenuhi oleh para senior dan junior. Ada yang sedang berlatih menembak, ada yang berlatih bela diri, dan ada juga yang sedang berlatih hal yang hebat lainnya. Jiho sangat mengagumi kemampuan Death Angel. Secara pribadi bos Alex akan melatih Jiho.
"Terima kasih bos," ucap putra tuan Zhev.
"Tidak masalah Jiho, seminggu lagi kau akan menjadi aktor utama dalam penyerangan itu. Kau sendirilah yang akan melakukannya, kami hanya mendorongmu dan mendukungmu. Nanti kau akan dibantu Erland dan Morgan jika aku tidak ada di tempat," ucap bos Alex.
Bos Alex langsung memulai sesi latihannya, sebelum latihan di mulai, mereka melakukan sesi pemanasan terlebih dahulu. Beberapa menit kemudian, bos Alex meminta Jiho untuk menyerangnya, tetapi cara memukul Jiho mudah terbaca oleh bos Alex, sehingga dengan mudah berhasil ditangkis olehnya.
"Ulangi lagi! lebih cepat," pinta sang mafia.
Jiho mulai menendang kaki bos Alex, namun tendangannya terlalu lemah. Sang bos memintanya untuk mengulangi pukulan karena masih sangat lemah. Jiho menghela nafasnya, dia menutup mata, di dalam pikirannya, ada sang pria bertopeng, dia ingin sekali memukul pria itu, saat ia membuka mata, ia mengarahkan pukulannya ke arah wajah bos Alex dengan sangat keras, bos Alex masih bisa menangkisnya, namun Alex mengapresiasi usaha Jiho yang sangat keras.
__ADS_1
"Kau berhasil Jiho, ulangi lagi," pinta sang mafia.
Jiho mengulangi pukulannya dengan tempo yang cepat dari wajah kaki hingga tangan, pukulan jiho kini mulai kuat dan bersemangat. Alex merasa sangat bangga. dia mampu memberikan sugesti kepada Jiho.
"Bos aku ingin berkelahi denganmu," pinta sang mafia.
"Boleh, lakukanlah!" jawab sang mafia.
Jiho mulai menyerang seluruh bagian tubuh sang mafia. Meskipun berhasil dihalau olehnya, pukulan itu mampu membuat Alex puas. Ternyata Jiho mudah sekali diajari. Kali ini giliran Alex yang menyerang. Dia melakukan pukulan tipuan kepada Jiho, karena Jiho belum berpengalaman, dia mudah sekali dikalahkan. Tetapi karena tekadnya yang kuat untuk membalas dendam kepada pria bertopeng, Jiho bangkit kembali, dia kembali bertarung dengan bos Alex meskipun akhirnya kalah dan babak belur.
Semua anggota senior dan junior menghentikan segala aktivitasnya, mereka melihat pertunjukan itu. Mereka bangga dengan Jiho yang memiliki mental yang bagus untuk menjadi seorang pemimpin geng yang hebat.
"Hey bocah! apa motivasimu untuk bertarung? dalam beberapa detik saja kau mampu membuat dirimu hebat," tanya sang mafia.
"Aku membayangkan penjahat itu dan ibuku, aku sangat marah dan aku ingin melampiaskan kemarahanku kepada orang yang ada di depanku. Maaf tuan Alex, aku telah membuatmu kecewa,harusnya aku tidak melakukan ini. Aku harus bertarung dengan hati bukan dengan emosi," ucap Jiho merasa bersalah.
"Tidak masalah Jiho, kau harus lebih belajar lagi tentang mengendalikan emosi. Hal ini penting karena orang-orang yang kau hadapi adalah orang-orang yang menyebalkan dan mengakibatkan emosi kita memuncak. Kita akan mudah kalah jika kita marah," jawab bos Alex.
"Baik tuan, aku akan belajar lebih giat lagi tentang hal ini. Terimakasih aku ucapkan atas segala bimbingan yang kau berikan padaku. Ayahku pasti bangga jika aku mampu bertarung menjadi sehebat kau. Aku tidak sabar untuk bertemu dengan adikku. Aku sangat merindukannya," ucap Jiho.
"Beristirahatlah jika kau lelah, kau tidurlah di kamarku. Aku akan tidur di luar bersama anggotanya lain." pinta sang mafia.
__ADS_1
"Aku tidak mau tuan, itu adalah tempatmu. Setelah ini, aku akan berlatih lagi," jawab Jiho.
"Kau akan menjadi seorang petarung yang hebat Jiho, tetaplah rendah hati. Jangan pernah menyakiti wanita, bunuh musuhmu. Jika musuh meminta pengampunan, ampunilah. Tetapi jika musuh tidak tahu malu, bunuhlah. Kau pantas menjadi pemenang, berjuanglah lebih keras Jiho!" jelas sang mafia.
"Tuan Alex, aku ingin meminta sesuatu kepadamu, berikan aku nomor ponsel ayahku. Aku ingin sekali berbicara dengannya. Aku sangat merindukannya," ucap Jiho memelas.
Alex memberikan ponsel miliknya. Jiho mengambil ponsel yang ada ditangan sang mafia, kemudian segera menghubungi ayahnya.
"Halo ayah? apa kabar," tanya Jiho.
"Bos Alex? ada apa?" jawab tuan Zhev.
"Aku bukan bos Alex, tetapi aku anakmu, Jiho!" ucap sang putera.
NB :
Lanjut besok lagi ya gaes, othor sudah lelahππ€...
Jangan lupa dukung selalu othor ya gaes! tinggalkan vote, like, komen kalian...
Kalau banyak dukungan, othor akan semakin semangat dalam update!πͺπͺπͺπππ
__ADS_1