
Tuan Hans meminta kelima cucunya untuk menunggu di ruang keluarga. Dia tidak mau jika cucunya mengetahui ada masalah pelik yang di alami oleh sang daddy.
Untung saja, kelima cucunya mau mendengarkan dirinya, sang kakek beranjak dari ruang keluarga dan menyusul Alex.
Dia melangkahkan kedua kakinya menuju kamar utama.
Setelah sampai di kamar utama, Tuan Hans mengetuk pintu.
Tok ... tok ... tok ...
Suara ketukan pintu mendapatkan sambutan dari pria gagah yang ada di dalam kamar utama.
KLEK!
Pintu sudah terbuka, Tuan Hans menatap wajah sang menantu yang muram. Lantas kepala polisi itu mengajukan beberapa pertanyaan.
"Lex? kau baik-baik saja?"
"Ayah mertua, aku sedang tidak baik, aku harus pergi mencari Dama! dia berbuat masalah denganku!" Mata Alex berapi-api.
"Dia? apa lagi?" ucap Tuan Hans dengan tatapan bingung.
"Dia melakukan hal yang kurang ajar, Dama mengirimkan video percintaan antara seorang pria dengan wanita yang mirip dengan istriku. Si brengsek itu mengancam akan menghancurkan keluargaku!" jawab sang mafia penuh kekesalan.
Tuan Hans menepuk pundak sang mafia lembut.
Dia tersenyum kepada menantunya seraya berucap," Lex, kau urus Dama! kau pamit kepada anak-anakmu."
"Tapi ayah?" Alex masih tidak tega meninggalkan anak-anaknya.
"Lex, percayalah! kau akan bermain bersama mereka esok hari. Lebih penting adalah kau melindungi anak dan istrimu. Ayo, pamitlah kepada anak-anakmu," saran sang ayah mertua.
Alex masih bimbang, tapi akhirnya dengan membawa kotak ular tangga, Alex mantap melangkahkan kedua kakinya menuju ruang keluarga untuk berpamitan dengan kelima jagoannya di dampingi oleh sang ayah mertua.
Langkahnya terasa berat, saat menatap kelima jagoannya yang menginginkan dirinya tetap bersamanya.
Tuan Hans yang mengetahui hal ini, sebisa mungkin membantu sang menantu untuk berpamitan dengan kelima putranya.
"Daddy akan pergi keluar sebentar, kalian bersama kakek dulu ya?" ucap Tuan Hans dengan senyum bahagia.
Kelima anak sang mafia terlihat cemberut, mereka seperti tidak rela jika sang daddy pergi meninggalkannya.
Sang kakek sekali lagi membujuk mereka.
__ADS_1
"Baby A kesayangan kakek, kakek akan menemani kalian bermain ular tangga sampai pagi, setelah itu kita bermain video game, bagaimana? apakah kalian setuju?" ucap sang kakek sembari mendekati kelima jagoan sang mafia.
Alex yang masih dalam posisi berdiri kemudian duduk diantara kelima baby A kemudian memberikan cerita yang akan membuat anak-anaknya mengerti.
"Sayang, daddy memiliki satu cerita yang bagus. Apakah kalian mau mendengarkannya?" tanya sang mafia yang berusaha merengkuh ke lima baby-nya dalam satu pelukan.
Awalnya mereka berlima tidak mau mendengarkan apapun yang dikatakan oleh sang daddy. Tetapi saat Aarav memberikan kesempatan kepada Alex untuk bercerita, keempat adiknya langsung memberikan persetujuan kepada daddynya untuk menceritakan hal yang luar biasa kepada mereka.
"Daddy, karena Kak Aarav, kami mengizinkan daddy untuk bercerita, tapi daddy harus memberikan kisah yang bagus, jangan seperti dongeng yang selalu mommy ceritakan setiap harinya." Alexis, pria yang selalu saja protes, dia adalah anak paling kritis diantara yang lainnya. Jadi, saat sang kakak memberikan persetujuan apapun, dia aku tetap mendapat dan memastikan agar tidak terjadi sesuatu yang membuatnya kesal.
"Iya, Lexis! tenang saja, daddy akan memberikan kisah yang lain daripada yang lain," ucap Alex sembari mengajak kalimat jagoannya duduk bersama.
"Oke, kita mulai ceritanya. Ada lima jagoan yang ada di hutan, mereka adalah para pria yang tangguh. Tetapi saat ada orang yang ingin meminta tolong, kelima jagoan itu tidak bisa menolong karena ada salah satu dari anggota keluarga yang lain tidak memberikan izin, alhasil orang tersebut tidak tertolong. Nah, ini sama dengan kasus daddy, daddy ingin pergi keluar karena ada seseorang yang butuh bantuan daddy, kalian jagoan kan? sikap jagoan bagaimana?" tanya sang mafia.
"Harus menolong orang yang membutuhkan bantuan kita!" jawab kelima anaknya dengan serentak.
"Nah, kalian kan jagoan daddy yang sangat cerdas! pasti tidak akan membiarkan orang lain terluka, atau 'pun menderita karena tertindas. Kelak, daddy juga akan mengajari kalian banyak keahlian, selain bela diri dan bermain katana. Untuk kali ini, daddy harus menolong banyak orang agar mendapatkan kehidupan yang lebih baik, dengan kekuatan yang daddy miliki," ucap sang mafia cara membujuk kelima jagoannya dengan cara yang lebih halus agar tidak menyakiti hati mereka yang selalu ingin berdekatan dengan sang mafia.
Lexis yang semula marah karena sang daddy akan pergi meninggalkannya, menjadi yang pertama memberikan izin kepadanya.
Tubuh mungilnya mendekat ke arah sang mafia, dia memeluk pinggang Alex dan berkata," Daddy, silakan menolong orang yang membutuhkan. Kami akan mendoakan agar daddy bisa kembali bersama kami dan bermain. Kami tidak ingin daddy terluka, daddy harus menang ya?"
Ucapan Lexis membuatnya terharu sampai menitihkan air mata, dia tidak sanggup mendengar kata-kata manis dari Lexis yang biasanya kaku dan suka protes itu.
Tuan Hans yang sedari tadi mengabadikan momen ini dengan membuat video, harus rela menumpahkan air matanya karena sikap Lexis yang sangat bijaksana.
"Kau hebat Nak," ucap Tuan Hans sembari memberikan satu jempol kepada cucunya itu.
Lexis terlihat malu, dia meringsut dibalik tubuh kekar sang mafia.
"Sayang, daddy pergi dulu ya? ingat pesan daddy, menurutlah kepada kakek, karena daddy tidak tahu akan kembali kapan. Doakan daddy ya?"
"Baik daddy, segeralah kembali dan membawa mommy pulang, kakek bilang, mommy sedang berada di rumah kakek Fu untuk merawat baby B. Aku senang sekali dad! akhirnya memiliki adik!" Raut wajah Lexis sangat cerah dan penuh kebahagiaan, membuat sang mafia suka merasakan kebahagiaan itu.
Tapi dia menyayangkan jika Tuan Hans langsung memberikan kabar itu.
Alex melirik ke arah Tuan Hans, si tua merasa jika dia bersalah, akhirnya dia mengatakan segalanya.
"Iya, aku yang salah, aku membocorkan rahasia ini. Tapi Fira mengatakan padaku, lima jagoan harus mengetahui berita bahagia ini." Pembelaan sang ayah mertua membuat sang mafia tersenyum.
"Kakek, tidak masalah untuk mengatakan hal ini. Tetapi, lain kali harus menyembunyikan sesuatu yang menjadi kejutan, meskipun nenek yang menyuruhnya." Sang mafia menatap sang kepala polisi dengan tatapan hangat. Dia tidak marah, hanya saja menyayangkan.
Setelah mendapatkan izin dari kelima jagoannya, Alex bergegas pergi dari rumahnya, untuk kembali ke markas utama
__ADS_1
"Daddy berangkat dulu ya?"
"Oke!" jawab Aarav mewakili.
"Ayah, aku titip anak-anak."
"Ya Lex. Kalahkan mereka dan cepatlah kembali."
"Baik ayah!"
Sebelum pergi, sang mafia memeluk Tuan Hans, dan memeluk anak-anaknya, tak lupa mencium kening mereka sebagai salam perpisahan.
Alex beranjak dari ruang keluarga kemudian berjalan meninggalkan 5 jagoannya, mereka semua melambaikan tangan kepada sang mafia, setelah sang daddy menghilang dari balik pintu utama, kelima anak sang mafia kembali bermain dengan sang kakek.
Mereka harus terbiasa dengan sang daddy yang memang seorang pria yang bertanggung jawab untuk melindungi semua anggota keluarganya.
Meskipun, mereka saja tidak mengetahui apa sebenarnya pekerjaan sang daddy yang mereka banggakan itu.
.
.
Bersambung...
.
.
.
.
Mampir novel teman aku kak!
Jangan lupa like, komen fav ya?
Love you All!
❤️❤️❤️
__ADS_1