
Alex menaiki tangga menuju ruangan yang di gunakan oleh anak-anaknya untuk bermain. Setelah berada tepat di depan pintu ruangan tersebut, sang mafia mengetuk pintu.
Tok..tok..tok..
Suara ketukan pintu mengiringi harapan Alex agar istri mau membuka pintu tersebut.
"Sayang? maaf!"
Berulang kali Alex meminta maaf kepada istri atas sikapnya yang keterlaluan. Namun, kali ini dia belum beruntung. Sang istri tak kunjung membuka pintu kamarnya. Alhasil sang mafia gigit jari, dia mencoba menenangkan dirinya agar tetap sabar dan menghindari amarah.
Dia duduk pintu tersebut sembari mengeluarkan rayuan mautnya.
"Aku memang bodoh! maka dari itu maafkan aku, aku berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi, sayang! aku terlalu merindukanmu. Jika rindu ini salah, maafkan aku. Kau tahu betul, orang seperti apa diri ku ini. Tidak ada seorang wanita pun yang mampu mengerti selain dirimu, hanya kau yang ada di hatiku selamanya. Laras, aku mohon maafkan kesalahanku yang tadi. Aku tidak akan mengulanginya, buka pintunya mari kita berdamai!"
Rayuan maut sang mafia belum mampu meluluhkan hati istrinya. Tetapi soal Alex berakting kesakitan, lain lagi ceritanya. Sang istri goyah, dan...
KLEK!
__ADS_1
Pintu ruangan itu terbuka, Alex yang masih bersandar di pintu tersebut, harus jatuh karena sang istri membuka pintu dengan tiba-tiba.
"Sial!"
Kepalanya terbentur lantai, dia mengumpat sembari mengusap kepala yang sakit.
"Uh, bohong lagi!" ucap sang istri santai meskipun suaminya benar-benar kesakitan.
"Ini sakit, sakit sekali kepalaku!" jawab sang mafia dengan manjanya.
"Mana yang sakit?" tanya sang istri yang kini berjongkok tepat di samping sang suami.
"Haha, kau ini aneh-aneh saja. Jika minta maaf, lakukan dengan benar." Laras merasa kasihan dengan sang suami, tapi dia ingin sang suami mendapatkan balasan karena melakukan hal yang salah.
"Hari ini kau harus diam di rumah, jangan memikirkan anak buah, musuh ataupun segala hal tentang pekerjaanmu. Temani aku anak-anak bermain, apa kau bisa?" Sang istri memberikan syarat yang mudah, tanpa terduga Alex menarik tubuh sang istri dan terjatuh tepat di dada bidangnya. Meskipun masih terasa nyeri di bagian sana, Alex tidak menghiraukannya, yang penting adalah bisa bermesraan dengan Laras.
Namun, nasib berkata lain. Dia harus lebih bersabar karena adegan berpelukan telah dilihat oleh kelima anaknya.
__ADS_1
"Dadddy! mengapa menyakiti mommy lagi? lepaskan mommy! daddy harus banyak istirahat, bukannya nakal terus!" Alexis si pria tengil ahli protes selalu terdepan untuk mengerjai sang daddy.
"Sayang, sebelum anak-anak kita mengomel, lebih baik lepaskan aku," bisik Laras kepada sang suami.
Alex tidak ingin ambil pusing, segera saja dia melepaskan sang istri.
Laras kini telah berada di sekeliling anak-anaknya, dia mencoba mengalihkan perhatian baby A. Laras berjanji akan menemani mereka bermain, yang lebih istimewa lagi Alex juga ikut serta.
"Hore! daddy akan bermain bersama kita!"
Seperti biasa, kelima anak sang mafia berjingkrak karena bahagia. Laras, Alex bahagia melihat Baby A mereka tumbuh besar dan sehat.
"Sayang, mereka menggemaskan seperti dirimu," ucap Alex berada di samping sang istri, Alex tidak pernah melewatkan kesempatan. Dia mencium pipi istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Hey? ada anak-anak!" Laras melarang keras Alex untuk memperlihatkan adegan seperti itu di depan kelima anaknya.
"Mereka sedang sibuk merancang permainan yang akan mereka mainkan, tidak terlalu memperhatikanku!" Sang mafia selalu terdepan dalam hal rayuan maut dan serangan mendadak.
__ADS_1
"Kau ini! nakal!" Laras mencubit pipi sang suami yang selalu nakal dan tidak tahu aturan itu.