
"Mas, kamu sudah sarapan?" tanya Anggita kepada sang suami yang terlihat terburu-buru sambil terus memandangi layar ponselnya.
"Hm." Jawaban itu adalah yang paling mentok. Tidak ada hal lain yang bisa diharapkan dari pria bernama Raksa Dirgantara itu.
"Mas?" tanya Anggita lagi.
Sang istri terus saja bicara, karena sang suami sama sekali tidak menyentuh sepiring nasi dan sayur sop serta sambal tomat kesukaan sang suami. Dia mendapatkan resep ini dari ibu mertuanya yang sangat ingin Anggita menjadi istri Raksa.
Sang ibu mertua selalu memberikan banyak tips dan trik agar Raksa mau menerima Anggita sebagai istrinya.
Sejak pertama kali bertemu, lamaran hingga menikah, Raksa sama sekali tidak bersuara, malam pertama mereka juga sangat hampa.
Keduanya tidur dengan posisi saling membelakangi. Anggita sangat sedih, dia mencoba tetap tegar demi kedua orang tuanya, semua rasa sesak dan tangis itu, dia pendam agar tidak menyakiti hati kedua orang tuanya yang telah menjodohkan dirinya dengan pria mapan seperti Raksa.
Harusnya Anggita tidak boleh mengeluh, itu kata hatinya yang selalu saja menghentakkan nurani jiwanya yang terkoyak oleh sebab sikap sang suami.
Hari ini memang pertama kalinya dia menjadi seorang istri bagi Raksa. Akan tetapi, dia sudah melakukan tugasnya layaknya ibu rumah tangga pada umumnya.
Seperti, bangun pagi, masak, bersih-bersih, semuanya dia lakukan dengan baik dan tanpa beban karena dulu saat dia masih single dan hidup dengan kedua orang tuanya, Anggita sudah terbiasa hidup mandiri.
Dia pun rela untuk berhenti bekerja, otomatis dia sudah menghentikan segalanya ambisinya menjadi wanita karier seperti mimpinya kala masih bujang.
Banyak hal yang sudah Anggita korbankan untuk menikah dengan Raksa, dia tidak pernah protes karena pilihan orang tua juga pilihan Tuhan.
__ADS_1
Setidaknya itu yang menjadi pegangan bagi Anggita menjalani biduk rumah tangga bersama sang suami yang sejak awal tidak peduli padanya.
Tuhan dan orang tua, menjadi pilar penting dalam kehidupannya.
..
Anggita menghentikan langkah Raksa," Mas sarapan dulu?" ucap Anggita lembut.
"Hm," jawab Raksa.
Anggita tersenyum, dia mencari segala cara agar sang suami bisa sarapan pagi ini," Mas? aku suapi kamu ya?" tanya dia lagi.
"Ya." Jawaban lain akhirnya keluar dari mulut Raksa, membuat Anggita tersenyum simpul.
Anggita merasa senang karena sang suami mau ia suapi, tapi saat satu sendok nasi akan mendarat di mulut Raksa, tiba-tiba saja Raksa bangkit, otomatis satu sendok nasi itu jatuh dan berserakan di lantai.
Sang suami tidak ada pedulinya, dia justru asik berbicara di panggilan telepon entah dengan siapa.
'Astaga! baru juga merasa senang, sudah dihempaskan begitu saja! Huft! oke, ini baru hari pertamaku, masih ada hari-hari lain. Semoga mas Raksa mau menerima kebaikanku,' gumam sang istri tetap mengekor langkah sang suami.
Dia masih terus berdiri di depan pintu sambil berbicara sendiri.
"Aku pamit kerja dulu ya?" ucap Anggita menirukan suara berat sang suami.
__ADS_1
"Oh ya, oke. Hati-hati di jalan," jawab Anggita, kini dia menggunakan suaranya sendiri.
Dia tersenyum dan melambaikan tangannya kala melihat mobil sang suami yang perlahan meninggalkan dirinya yang kadang merasa menjadi orang aneh sedunia.
Anggita selalu menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya. Dia jarang sekali menangis di luar kamar, Anggita khawatir saat dia menangis karena deritanya menghadapi suami balok esnya.
"Hari ini cukup Anggita, lebih baik sarapan dulu saja, sejak pagi tadi perutmu belum kau isi karena otakmu hanya memikirkan perut suamimu," celetuknya berbicara sendiri.
Anggita segera masuk ke dalam lalu mengunci pintu karena dia tidak ada kegiatan apapun di luar rumah.
Dia hanya menunggu suami pulang kerumah dengan mencuci baju atau menyetrika beberapa kemeja yang biasa sang suami pakai.
Ini kebiasaannya di kala libur saat masih bekerja.
"Nikmatnya menjadi ibu rumah tangga, hanya di rumah, tidak perlu memikirkan pekerjaan kantor, aku bersyukur menuruti apa yang ayah dan ibu inginkan. Meskipun suamiku belum bisa menerimaku apa adanya, setidaknya dia bisa berkata hm atau iya." Anggita tersenyum geli saat membayangkan sang suami yang seperti balok es itu, mencair dengan sendirinya.
Memang interaksi antara Raksa dan Anggita masih sangat terbatas, ini namun dia yakin, semakin berjalannya waktu semuanya pasti akan baik-baik saja.
Tidak ada kata menyerah bagi Anggita, dia akan membuat sang suami menambah kosakata baru dalam interaksi keduanya agar lebih berwarna dan tidak monoton.
"Dia suamiku, aku pasti bisa mendapatkan cintanya." Anggita semangat sekali, seketika itu juga, dia menelpon sang ibu mertua untuk bertanya segalanya tentang sang suami agar dia bisa lebih dekat dengan Raksa
*****
__ADS_1