
Guru Fu mulai gelisah dengan sembuhnya Justin, bukan tanpa alasan, jika kakak dari Alex Fernando itu benar-benar ingin kembali ke kota, akan menjadi masalah besar bagi bos Death Angel.
"Guru Fu?" tanya Justin.
"Ya, ada apa tuan?" jawab guru Fu.
"Aku merasa tubuhku sudah pulih, aku ingin segera kembali," pinta Justin.
Hal yang di takutkan oleh guru Fu akhirnya terjadi, Justin ingin segera kembali ke kota.
"Apa tidak sebaiknya kau di sini lebih dulu? beristirahat beberapa hari saja," pinta guru Fu.
"Tidak, aku sudah tidak sabar untuk kembali bertarung," jelas Justin.
"Tuan, apa tidak sebaiknya, kau tinggal beberapa hari lagi di sini?" tanya guru Fu.
"Tidak, jika Lin tidak ingin pergi denganku, tidak masalah, aku akan kembali sendirian," ucap Justin keras kepala.
"Aku antar kau ke tuan Fu lebih dulu, kau akan di bekali banyak hal," saran guru Fu.
"Cih! aku tidak sudi pergi ke sana! dia hanya akan menghalangiku untuk merebut tahta Death Angel," jawab Justin.
"Tuan? dengarkan aku, jangan memusuhi saudaramu," pinta guru Fu.
"Apa maksudmu?" tanya Justin.
"Berdamailah dengan adikmu," jawab guru Fu.
"Cih! tidak akan, dia sudah membuat hidupku menderita!" tukas Justin.
"Tapi tuan?" ucap guru Fu.
"Aku jadi curiga kepadamu guru Fu, kau berada di pihakku atau dia?" tegas Justin.
"Aku tidak memihak siapapun, kau harus tahu jika aku adalah orang kepercayaan tuan Fernando, anak-anak dari tuanku adalah tanggung jawabku, tidak ada pengecualian untuk kalian berdua," jelas guru Fu.
"Jika itu benar, pastinya kau akan mendukungku untuk berkuasa kan?" tanya Justin.
"Iya tuan, tapi tunggu kau benar-benar pulih terlebih dahulu," jawab guru Fu.
"Tidak, aku akan kembali hari ini juga," ucap Justin keras kepala.
"Terserah kau saja, berhati-hatilah, jangan sungkan untuk kembali ke tempatku jika kau merindukanku," pinta guru Fu.
"Tenang saja," jawab Justin.
Justin mempersiapkan segalanya untuk pergi kembali ke kota, di bantu guru Fu Renzo.
Di sela persiapan itu, guru Fu menanyakan rencana Justin setelah sampai di kota.
"Aku akan menemui tuan Xiauling dan kembali bergabung dengan Toxic," jelas Justin.
"Dengan gadis bernama Laras? apa yang akan kau lakukan padanya?" tanya guru Fu.
__ADS_1
"Menikahinya dan membawa dia pergi jauh," jelas Justin.
Guru Fu terkejut dengan keputusan Justin yang mengundang peperangan itu.
"Apa kau benar ingin menikahinya?" tanya Guru Fu.
"Tentu saja, apanya yang salah?" jawab Justin.
"Tidak ada tuan, hanya saja kau harus bersaing dengan adikmu," jelas guru Fu.
"Alex, Alex dan Alex, selalu saja dia yang kau pikirkan guru!" bentak Justin.
"Tenanglah, kau tidak perlu emosi, lebih baik kau segera selesaikan ini semua agar kau bisa kembali ke kota," pinta guru Fu.
Dengan masih memendam amarah, Justin mengemasi perlengkapan yang akan dia bawa.
...* * *...
Di kamar bos Alex, Laras merasa sakit di sekujur tubuhnya saat pertama kali membuka matanya.
"Sial! pinggangku!" umpat Laras.
Saat gadis itu akan beranjak dari tempat tidurnya, dia mendapati tubuhnya masih polos dengan baju miliknya yang telah berserakan dimana-mana.
"Aku hampir lupa jika aku dan bos mafia itu terlibat permainan panas, hingga membuat tubuhku sakit, luar biasa memang dia, ini juga karena salahku, membangunkan hewan buas yang tertidur," ucap Laras tersenyum.
Laras membayangkan kembali hal yang gila dari yang pernah di lakukannya selama hidupnya, dia tidak menyangka akan menjadi sebringas itu di atas ranjang bersama sang mafia.
Gadis itu perlahan bangkit dengan melingkarkan selimut di dadanya dan berjalan menuju kamar mandi.
"Laras! ya ampun! ini apa-apaan!" pekik nyonya Fira.
Laras tidak mendengar sang ibu bicara, dia masih asyik dengan sesi pembersihan diri.
Nyonya Fira mengedor-gedor pintu kamar mandi, tapi tak kunjung ada jawaban.
"Laras! cepat keluar!" teriak nyonya Fira.
Laras yang terkejut dengan teriakkan sang ibu langsung membuka sedikit pintu kamar mandi.
"Ada apa? berisik sekali!" tanya Laras yang masih penuh sampo di rambutnya.
"Bisa jelaskan? bagaimana bajumu berserakan dimana-mana?" tanya nyonya Fira.
"Oh itu, tadi bos mafia itu mengajariku olahraga ranjang, itu saja." jawab Laras.
"Apa katamu? apa kau kira ibu tidak tahu?" tanya nyonya Fira.
"Jika ibu tahu, mengapa masih bertanya?" tanya Laras.
"Anak ini! cepat selesaikan acara mandimu, ibu ingin bicara denganmu!" perintah nyonya Fira.
"Baik bos!" jawab Laras sembari menutup pintu dan meneruskan sesi pembersihan diri lagi.
__ADS_1
Setengah jam kemudian, Laras keluar dari kamar mandi dan melihat kamar bos Alex telah bersih.
"Wah, ibu baik sekali, semuanya jadi bersih," puji Laras.
"Segera pakai bajumu, ibu sudah buatkan teh hangat untukmu," pinta nyonya Fira.
"Baik," jawab Laras.
Setelah selesai memakai baju, nyonya Fira mengajak sang putri duduk di sofa dekat ranjang bos Alex.
"Duduklah," pinta sang ibu.
"Iya bu," jawab Laras.
"Nak, kau dan bos mafia itu pasti sudah saling mencintai, aku dan ayahmu sudah merancang pesta pernikahan kalian," jelas nyonya Fira.
"Benarkah ibu?" jawab Laras tidak percaya.
"Iya, ibu sudah menyiapkan segalanya, kau dan Alex hanya perlu menjadi mempelai," ucap nyonya Fira.
"Terimakasih ibu," ucap Laras sambil memeluk tubuh sang ibu.
"Sama-sama Laras," jawab sang ibu.
"Dimana tuan Alex bu? dia juga harus tahu kabar bahagia ini," ucap Laras.
"Dia pergi bersama Richi," jawab nyonya Fira.
"Oh ya sudah, nanti saja aku beri tahu saat dia kembali," tukas Laras.
"Kau bisa memberitahunya lewat sambungan telepon," saran sang ibu.
"Aku ingin mengatakannya secara langsung," jawab Laras.
"Terserah kau saja. Laras, kapan kita akan terus bersembunyi di sini?" tanya sang ibu.
"Aku juga tidak tahu pasti bu," jawab Laras.
"Semoga saja mafia itu segera menumpas semua musuhnya," ucap nyonya Fira.
"Semoga saja, lebih baik kau minum teh dulu," tambah nyonya Fira.
"Oke, terima kasih ibu, kau selalu ingat saat aku lelah, kau selalu membuatkanku secangkir teh," jawab Laras.
"Lelahmu kali ini bukan lelah yang biasa, kau tahu?" ledek sang ibu.
Laras tersedak saat mendengar ucapan sang ibu.
"Ada apa? apa teh buatanku tidak enak?" tanya nyonya Fira.
"Bukan itu, saat ibu bilang bukan lelah biasa membuatku salah fokus, " jawab Laras.
"Kau ini! dasar anak nakal!" ucap sang ibu.
__ADS_1
"Aku belajar darimu kan?" jawab Laras.
Mereka berdua tertawa bersama-sama, anak dan ibu yang semakin dekat tiap detiknya.