
"Mengapa para gadis itu menyebalkan? memandangku begitu intens seperti narapidana." Alex tidak nyaman dengan pandangan aneh para penggunjung toko mainan.
Sang mafia segera masuk ke dalam mobil sembari membawa mainan untuk kelima anaknya.
Jarak rumah Alex dengan toko mainan, lumayan jauh. Kira-kira membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam.
Alex merasa bahagia karena setelah sekian lama, dia bisa bercengkrama dengan Laras meskipun harus menghabiskan banyak uang untuk membalikan ke lima anaknya mainan.
Dia tersenyum kala mengingat tahun lalu, sang mafia harus memendam rindu yang teramat dalam kepada Laras karena ulah si kembar 5 nya. Bagaimana tidak? dia harus berpisah dengan Laras selama beberapa hari karena si kembar ingin mengunjungi kakek dan neneknya. Pada saat itu, si kembar lima meminta Alex tidak menghubungi Laras. Alasannya sangat sederhana, si kembar tidak ingin Alex mendominasi pembicaraan dengan ibu mereka.
Alhasil dalam waktu beberapa hari itu dia harus benar-benar menahan rindu. Dia bisa ikut bersama mereka, karena sedang menemui seseorang yang penting.
Kenangan tentang hal itu membekas di dalam hatinya. Ini tahun keduanya memberikan hadiah kepada kelima anaknya, sebagai jaminan agar Laras diperbolehkan berbicara dengannya. Dia mengira saat kelima anaknya lahir, sang mafia akan mendapatkan kasih sayang yang lebih yang lebih dari Laras. Tapi yang terjadi sungguh di luar dugaan, anak-anaknya sendiri justru menjadi penghalang rasa cinta yang hanya tercurah kepada Laras seorang.
"Mereka kembar yang imut dan menggemaskan. Tetapi mereka juga menyebalkan, apalagi suka Laras. Mereka menganggapku seperti orang yang jahat, si kembar lima memang lucu sekali." Tak terasa sang mafia telah sampai di depan rumah. Dia memarkirkan mobilnya di garasi. Setelah itu, Alex turun dari mobil dan membawa bungkusan berisi mainan.
Sang mafia mendekap bungkusan itu dengan senyum bahagia dan wajah berbinar-binar.
"Akhirnya, setelah sekian lama aku bisa memeluk isteriku sendiri tanpa ada gangguan si kecil rusuh." Kebahagiaan menyelimuti hati sang mafia. Dia seperti mendapatkan hadiah yang tak terkira.
Langkah kakinya perlahan menuju pintu utama. Dia segera membuka pintu utama. Saat pintu itu terbuka, kelima anaknya sudah standby di ruang keluarga.
Mendengar suara orang membuka pintu, si kembar 5 berlari menuju daddynya.
"Daddy!!!" pekik si kembar lima serentak.
Laras berada di belakang mereka, menatap lurus ke pada wajah Alex yang semakin hari semakin mempesona.
Pasangan suami istri itu saling bertatapan, akhirnya mereka bisa mendapatkan kebebasan untuk berbicara.
"Sayang? ayah dan ibu sudah datang?" tanya sang mafia.
"Belum sayang, mungkin besok. Ayah tiba-tiba saja mendapatkan tugas, selesai esok hari. Ibu juga, dia terlalu sibuk bekerja." Laras menjelaskan kepada sang suami bahwa kedua orang tuanya belum datang karena kesibukan masing-masing.
Si kembar lima mulai rusuh lagi, kini adalah memperebutkan mainan. Aarav yang saya lebih tua, berusaha melerai adik-adiknya. Tetapi Lexis justru mendorong Adya. Membuat keduanya semakin menjadi, aksi cakar-cakaran pun dimulai, membuat Alex dan Laras pusing.
Laras menggendong Alexis, sedangkan Alex menggendong Adya.
Mereka berdua berusaha membujuk Lexis dan Adya agar mendengarkannya.
"Sayang, dia adikmu. Jangan bertengkar oke?" ucap Laras kepada Lexis, si kakak ke tiga yang tengil dan menyukai keributan.
"Iya, mommy benar, kalian harus akur. Daddy sudah membeli lima mainan sesuai dengan kesukaan kalian." Daddy mafia mencoba membujuk Adya dan Lexis agar berhenti bertengkar.
__ADS_1
"Tapi aku ingin robot yang dibawa oleh Adya." Lexis memaksa untuk turun dari gendongan mommynya.
"Mommy punya sesuatu untuk Lexis." Laras mencoba untuk mengalihkan perhatian si tengil.
Tanpa terduga, Lexis mau mendengarkan Laras.
"Apa itu mom?" Si tengil penasaran dengan apa yang ingin Laras perlihatkan kepadanya.
Laras membawa Lexis masuk ke dalam kamar. Sedangkan Alex sedang asyik bermain dengan Adya yang tadinya juga ingin ikut bersama mommy mereka.
Alex dan keempat anaknya bermain di ruang keluarga. Aarav menegur daddy mafia yang pakaiannya kotor.
"Dad? daddy habis berkelahi ya?" tanya Aarav penasaran.
"Tidak sayang," jawab sang mafia sembari mencium kening Aarav.
"Tetapi mengapa pakaian daddy kotor?" Aarav masih belum yakin dengan jawaban daddy mafia.
"Ini karena daddy tadi jatuh saat tersandung batu." Alex menjawab asal pertanyaan Aarav.
Namun, Aarav masih belum percaya. Dia kembali mengulang pertanyaannya.
"Daddy bohong?" tanya Aarav yang merasa Alex membohonginya.
"Ini bukan trik daddy kan?" Aarav mirip dengan Alex, sangat detail dalam bertanya.
Sang mafia memberikan pengertian, untuk beberapa menit Aarav memahami semua ucapan daddynya.
Sang mafia merasa lega, dia akan lebih hati-hati ke depannya agar tidak terlalu kelihatan jika dia habis berkelahi.
Aarav kembali bermain bersama adik-adiknya. Alex merasa lega karena satu masalah telah terselesaikan.
"Rav? daddy mandi dulu ya? jaga adik-adikmu." Aarav menggelengkan kepalanya tanda tidak menyetujui ucapan daddy mafia.
Alex terpaksa ikut bermain dengan Aarav dan adik-adiknya, meskipun dengan tubuh berkeringat.
Cukup lama sang mafia bermain dengan anak-anaknya. Pada akhirnya setelah dua jam berlalu, ketiga puteranya mengeluh lelah bermain dan merasakan kantuk yang tak tertahankan.
Alex meminta ke lima anaknya untuk tidur di kamar si kembar. Tetapi tidak mau, mereka berempat ingin tidur bersama sang mommy.
Keinginan mereka tidak mampu di bendung lagi. Aarav dan adik-adiknya berlari menuju kamar utama, tempat Laras dan Lexis sedang bernegosiasi.
KLEK!
__ADS_1
Saat pintu itu terbuka, ke empat putera sang mafia berhamburan memeluk mommy mereka.
"Mari mommy dongengkan cerita Pinokio," ucap Laras sembari membuka buku dongeng.
Si kembar mendengarkan cerita dengan seksama. Tidak terasa setelah setengah jam berlalu, Alex masih berada di samping sang isteri, menunggu anak-anak terlelap terlebih dahulu.
"Aku mandi dulu, nanti kita eksekusi," bisik sang mafia sembari mencium pipi Laras.
"Kau makin nakal ya?" Sang istri merasa jika sang suami selalu memiliki banyak cara untuk menggodanya.
Setelah sang mafia masuk ke dalam kamar mandi, Laras turun dari ranjang, dia membiarkan kelima anaknya tidur di kamar utama dengan ukuran big size itu.
Dia menyelimuti tubuh mungil sang baby yang sudah berusia lima tahun itu.
Saat Laras ingin keluar kamar, ada tangan yang menarik tubuhnya masuk ke dalam kamar mandi.
"Astaga! apa yang ingin kau lakukan di sini?" tanya Laras penasaran.
"Mengeksekusi mu!
Tanpa basa-basi, Alex menarik pinggang Laras, kemudian mendekatkan bibirnya ke arah bibir sang isteri.
"Ini pasti terasa manis."
Cup!
Alex memakan habis bibir ranum Laras dengan lembut, tak di sangka Laras mampu mengimbangi permainan bibir sang mafia. Keduanya terlibat ciuman hangat dan menuntut.
Bersambung...
NB :
Hay Hay...
Pembaca setia cinta satu malam bos mafia...
Maaf kak, akhir-akhir ini telat up!
Di karenakan anakku flu, alhasil harus nunggu doi tidur dulu baru bisa up!
Semoga kalian tidak kecewa ya❤️❤️
Love you all
__ADS_1
❤️❤️❤️