Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Chapter 148


__ADS_3

Di dalam kamar tamu, kedua pasangan pengantin baru akhirnya membuka mata, Angela merasa malu saat Richi memandanginya.


"Ada apa?" tanya Richi sembari membelai wajah Angela.


"Aku belum terbiasa melihat pria tampan berada di sampingku saat aku bangun tidur," Angela tersenyum, dia sangat bahagia.


Kedua mata itu kembali saling memandang, tapi suara ponsel di saku celana Richi mengganggu keintiman pandangan Angela dan Richi.


"Sial! siapa yang menghubungiku di saat seperti ini," umpat sang suami.


"Kau jawab saja, daripada nanti kau repot sendiri saat bos yang meneleponmu ternyata," pinta Angela mengingatkan.


"Kepalaku sakit sekali, obat macam apa yang bos campurkan di segelas wine itu?" Richard beranjak dari ranjang sembari memegang kepalanya, ia meraih celana panjang yang berada di lantai.


Richi mengambil ponsel tersebut di dalam saku celananya dan melihat private number di sana, " Hallo, ini siapa?" tanya Richi penasaran.


"Aku Fudo," ucap sang penelepon.


"Tu-an Fudo?" Richi begitu terkejut saat tetua meneleponnya.


"Mana Alex? mengapa dia tidak menjawab teleponku?" tanya sang tetua heran.


"Oh, mungkin saja dia sedang ada di kamar mandi," jawab Richi. Ia tidak memikirkan apapun selain kamar mandi, jadi dia menjawab apa yang ada di pikirannya.


"Kau gedor pintu kamar mandinya karena ada hal penting yang akan aku bicarakan dengannya," pinta sang tetua dengan nada tegas.


"Baik tuan, aku akan menggedor pintu kamar mandinya dan memberitahukan jika tuan Fudo menelepon," jelas Richi menuruti permintaan sang tetua.


"Bagus, segera kau beritahu ini pada bosmu," pinta sang tetua.


"Baik tetua," jawab Richi. Saat panggilan telepon itu di tutup, ia beranjak dari ranjang dan mengenakan kembali kemeja dan celananya.


"Sayang, tuan Fudo kira-kira ingin membicarakan apa ya dengan kakak?" tanya Angela penasaran.


"Aku juga kurang tahu, aku keluar sebentar, kita lanjutkan perbincangan nanti," Richi mencium kening Angela, ia melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Saat pintu kamar tamu di buka, nampak sosok sang bos yang sedang tidur di atas sofa dengan wajah tertutup bantal. Richi kemudian menghampirinya," Bos! tuan Fudo menelepon," ucap Richi. Ia menggoyangkan badan sang mafia, berharap Alex segera bangun. Namun usahanya gagal, saat dia merubah suaranya menjadi lembut dan di bumbui kata-kata romantis, sang mafia langsung terbangun. "Astaga! sial! aku kira kau isteriku," Alex kecewa karena yang ada di depannya adalah Richi bukan tubuh molek nan sexy sang isteri.


"Haha, kau bangunlah! tuan Fudo menelepon," Richi mengambil ponsel milik sang mafia yang ada di meja kecil di sebelah sofa.


"Ini, kau jawablah," Richi menyerahkan ponsel itu kepada bosnya.


Alex menjawab telepon itu," Halo tuan, maaf aku sedang tidur jadi tidak mendengar kau menelepon," ucap sang mafia dengan mulut menguap.


"Kau begadangkah? aku hanya ingin bilang, besok kau datanglah ke perjamuan makan para tetua geng mewakili aku, bawa Richi juga kesana untuk menemanimu," ucap sang tetua.

__ADS_1


"Apa? perjamuan penting? mengapa tuan menyuruhku? ini terlalu mendadak," Alex merasa belum hebat untuk menghadiri acara khusus para tetua geng yang bersahabat dengan tuan Fudo itu.


"Haha, aku tahu kau akan menolakku, dengarkan aku, mereka ingin bertemu denganmu, itu alasanku menyuruh kau datang," Tuan Fu menegaskan jika semua ini bukan keinginannya.


"Jam berapa tuan?" tanya sang mafia.


"Jam delapan pagi, kau datanglah ke bar di kota timur, nanti aku kirim alamatnya," jawab tuan Fu.


"Baik tuan," jawab sang mafia. Ia meletakkan ponselnya kembali di atas meja saat tuan Fudo mengakhiri panggilan teleponnya.


Ia mengacak rambutnya kasar, "Gagal Richi," sambung sang mafia, matanya memerah karena masih mengantuk. Ia meminta Richi untuk menemaninya mengobrol.


"Gagal menengok atau gagal apa?" ledek sang sahabat, ia duduk di samping sang mafia dan merangkul pundaknya," Kau harus lebih giat berusaha Lex," pinta sang sahabat mendukung penuh usahanya untuk bisa menengok babynya.


"Aku sudah pasrah, terserah Laras saja. Oh iya, tadi ada penelepon misterius yang mengaku kenal dengan ayahku," ucap sang mafia, dia kembali meraih ponsel di atas meja dan menyerahkannya kepada Richi.


"Ini adalah Vale Zhu, salah satu anggota Death Angel juga, tapi dia sudah hidup normal di luar sana sebagai pemilik sebuah hotel bintang lima di kota utara, dia lebih tua darimu Lex, pria yang selalu membawamu pergi ke gunung dan berlatih bela diri di sana, padahal ayahmu telah melarangnya, usianya terpaut 6 tahun dari kita, dia sangat menyayangimu," jelas Richi detail.


"Astaga, aku lupa! dia pamit dari geng dua tahun sebelum perang Blue Sea dan Naga Api terjadi, waktu itu aku masih bocah. Aku sangat sedih karena Vale harus pergi," ucap sang mafia merasa sedih saat mengingat kejadian masa lampau, dia sering melupakan beberapa hal karena banyaknya masalah yang harus ia selesaikan.


"Sudahlah Lex, kau bisa menghubunginya nanti, oh iya Lex, terima kasih, kau telah memasukkan obat itu di dalam segelas wine yang aku minum, aku merasa menjadi pria sejati," Richi tidak marah kepada sang mafia, karena tragedi itu berujung kebahagiaan.


"Haha, sial! kau ini sedang mengejekku atau apa?" Alex merasa di ledek oleh Richi karena bernasib sial, tidak bisa mempraktekkan saran dokter dengan segera.


"Aku serius Lex, aku sebenarnya tidak terlalu berani menyentuh Angela, aku adalah pria yang sopan menurutnya, imageku akan berubah jika tahu ada sisi brutal di dalam diriku," jelas sang sahabat yang masih belum percaya diri.


Mereka berdua berbincang cukup lama, membicarakan banyak hal tentang menjadi suami yang terbaik untuk isteri, menjadi suami siaga dan lain sebagainya.


Di saat keduanya terlibat perbincangan hangat, Alex baru menyadari jika leher Richi banyak tanda kepemilikan.


"Richi? apa kau baik-baik saja?" tanya Alex heran melihat banyak warna merah di leher Richi.


"Aku? baik-baik saja, memangnya ada apa?" ucap sang sahabat yang juga heran melihat ekspresi wajah Alex, sang bos seperti menahan tawa.


"Lehermu banyak tanda merah, Angela memang luar biasa," puji sang mafia yang masih saja ingin menggoda Richi.


"Sial! matamu jeli juga, padahal aku sudah menutupinya dengan kerah bajuku," Richi merasa canggung, dia merasa sang bos benar-benar membuatnya menjadi binatang buas seperti dirinya.


"Haha, kau dulu menyebutku binatang buas, kini isterimu sendiri juga beringas," Alex tersenyum puas. Dia akhirnya mampu membalas rasa iri kepada sang sahabat dengan meledeknya.


"Iya Lex, kau yang menang," Richi pasrah dengan apa yang di ucapkan oleh sang mafia.


"Setelah ini kau mandilah Richi, ajak isterimu juga," saran terbaik dari Alex untuk sang sahabat.

__ADS_1


"Iya aku tahu," Richi beranjak dari tempat duduknya, ia berjalan menuju kamar tamu.


Alex yang bosan tidur di luar, juga mengikuti jejak Richi, ia bangkit dari sofa menuju kamar utama.


...* * *...


Di tempat lain, kebahagiaan juga menyelimuti hati Gerald, pasalnya Livy Garcia sang kekasih juga telah sembuh total. Perlahan dia mengetahui jika Gerald bukanlah Alex. Apalagi ayah Livy, Yin Wei juga tengah menyiapkan resepsi pernikahan Livy dan Gerald dalam waktu dekat.


Siang ini Livy sedang bersama Gerald di ruang tamu, mereka berdua terlihat sangat mesra, Gerald tidur di pangkuan sang kekasih sambil terus menggenggam tangan Livy.


"I love you Ge," Livy menciumi tangan kekar Gerald, dengan mata terus berpandangan, membuat kebersamaan itu semakin indah.


"I love you too baby, terima kasih telah mencintaiku sebagai Gerald," ucap Gerald tersenyum bahagia.


"Itu karena cinta dan ketulusanmu, kau sangat baik Ge, maafkan aku sempat tak mengenalimu, aku terlalu sakit hati dengan masa laluku, Ge maaf..." Belum sempat Livy melanjutkannya, Gerald bangkit dari pangkuan sang kekasih.


"Stop baby, sebut namaku saja, jangan ingat-ingat masa lalu, kau paham!" Gerald membelai wajah Livy mesra.


"Terima kasih Ge," Livy memeluk erat tubuh Gerald, air matanya tak bisa di bendung lagi, ia tumpah begitu saja. Jatuh membasahi pundak Gerald.


"Luapkan segalanya sayang, aku akan selalu bersamamu sampai kapanpun," Gerald mengelus pundak Livy dengan lembut, pria tampan itu sedang menenangkan sang gadis yang akan menjadi isterinya kelak.


Air mata Livy semakin deras mengalir, dia merasa bersalah pada Gerald. Ia menjadi gadis paling bodoh karena tergila-gila pada pria yang salah.


Livy melepas pelukannya, Gerald menghapus airmata sang kekasih.


"Aku bukan pria yang baik, tapi untukmu, aku akan belajar menjadi yang terbaik,"


Cup...


Kecupan itu mendarat di bibir Livy, Gerald menarik tubuh Livy menjadi lebih dekat dengannya. Semakin dekat hingga tak berjarak, Livy membalas kecupan itu. Mereka terlibat pertautan bibir yang dalam, Livy dan Gerald akhirnya mampu menjadi dua insan yang saling mencintai, bukan sebagai Alex, kini ciuman dan segala kasih sayang Livy hanya tercurah untuk Gerald bukan Alex Fernando lagi.


NB :


Maaf gaes, visual memang othor udah pikirkan tetapi karena karakter pemain cukup unik, jadi agak susah gitu nyari visualnya, setelah ada beberapa reader yang inginkan visual tokoh, akhirnya othor bersemedi dan mendapat wangsit,


Jeng...Jeng...Jeng...


...Bonus Visual...



...Laras Nugraheni...

__ADS_1


Bang Alex Fernando nyusul ya gaes, soalnya doi lagi bobok, ntar kalau udah bangun, aku foto deh wajah mempesonanya...😂😂😂😂🥲🥲🥲🤗🤗


#Salam_halu_dari_author 😋😋😋


__ADS_2