Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Kembali menghibur diri!


__ADS_3

Di dapur...


"Sayang? kau tidak ingin pergi ke dokter?"


"Tidak, memangnya aku sakit apa?"


"Sakit cinta."


"Haha, kau ini nakal ya?"


Laras mencubit mesra pipi Alex tanpa menyadari maksud dari perkataan sang suami. Alex ingin mengajak Laras memeriksakan kesehatannya.


"Kau merasa pening? kepalamu sakit?"


"Tidak, kau ini aneh ya? ada apa?"


"Aku hanya bertanya, tinggal jawab apa susahnya?"


"Haha, oke."


Laras memeluk tubuh Alex, kemudian ia berkata...


"Lex, aku baik-baik saja. Aku sehat, kau terlalu mengkhawatirkanku!"


Laras mengalami trauma di masa lalu saat dirinya di khianati, di campakkan serta mendapatkan pelecehan seksual.


Pikiran Alex melayang kemana-mana, dia merasa bersalah atas apa yang di alami oleh istrinya. Secara tidak langsung, Alex dan Justin adalah penyebab trauma itu.


Laras heran saat sang suami tak mengindahkan apa yang sang istri katakan.


"Lex! mengapa kau diam?"


Mendengar suara sang istri, Alex segera sadar dari lamunannya.


"Oh ya, aku sedang membayangkan wajah cantikmu, itu saja."


"Hm, apakah benar?"


"Iya!"

__ADS_1


Laras melepaskan pelukannya, kemudian dia meneruskan acara memasak makanan untuk sang ayah.


"Aku mau membantumu."


"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri. Kau duduklah."


Alex mendengarkan sang istri, sebelum pergi dari dapur, dia mengigit telinga Laras, membuat wanita itu berteriak kecil.


"Aw! Lex!"


"Love you!"


"Dasar nakal!"


Laras hampir saja menimpuk kepada Alex dengan spatula miliknya, tetapi Alex telah menghindar.


Raut wajah sang mafia kembali murung.


Langkah kakinya mendekat ke arah mertuanya.


"Tidak mau," ucap Alex.


"Aku sudah menduganya, pasti dia tidak mau datang ke dokter. Dari kecil, Laras tidak suka rumah sakit ataupun yang berhubungan dengan alat-alat medis, tapi untung saja dia jarang sakit, jadi tidak terlalu bermasalah."


"Dia telah mengorbankan banyak hal untukku tetapi aku tidak pernah mengetahui tentang hal ini."


Alex marah kepada dirinya sendiri saat menjadi pria tak berguna.


"Lex, lebih baik kau segera mengurus Raf, Laras biar aku yang menanganinya. Raf sudah terlalu meresahkan, dia bahkan mengancamku. Besok atasanku ingin berbicara denganku masalah pengedar narkoba yang kabur itu, si Dio. Raf mungkin saja mengatakan kepada ayahnya jika kau adalah seorang mafia yang terlibat dalam bisnis obat terlarang, dia menjebakku atas dasar ini." Tuan Hans terkena imbas dari status Alex sebagai bos mafia.


"Aku ingin sekali membantumu, tetapi aku tidak mau salah langkah. Setelah ini, aku akan mengadakan pertemuan dengan para anggota untuk membahas Raf yang mulai menunjukkan kekuatannya." Sang mafia sangat kesal dan marah atas ulah Raf. Dia akan pembasmi pria itu tanpa perlu mengeluarkan senjata.


"Pergilah Lex, segera tuntaskan masalah Raf, aku akan menjaga istrimu."


Alex beranjak dari tempat duduknya kemudian berjalanan menuju utama.


KLEK!


Pintu itu terbuka sempurna, dia melangkahkan kakinya menuju para anggota yang sedang berjaga di depan rumahnya.

__ADS_1


"Kalian berkumpul 'lah!" pinta Alex kepada para anggotanya.


Semua anggota berkumpul, kemudian ia memberikan perintah.


"Anak buah Raf mungkin saja akan segera kemari, kau hubungi Willy untuk segera mencari dimana posisi Raf berada, kita tidak boleh kecolongan lagi." Alex meminta salah satu anak buahnya untuk menghubungi wakil kedua setelah Richi dan Angela.


"Baik bos!" jawab sang anak buah.


Dia bisa memberikan perintah cadangan, sebenarnya dia ingin sekali meringkus si Raf, tetapi saat memikirkan sang istri, niat itu segera musnah.


"Istriku jangan sampai bertemu dengan pria itu, aku tidak rela!"


"Apa dia teman kuliah istrimu bos?"


"Iya, aku tidak tahu seberapa dekat mereka, tapi dari cerita yang aku dengar, mereka tidak terlalu dekat."


"Kau juga tahu hubungan antara Raf dan Laras?"


"Tentu saja, aku pernah mengetahui jika istrimu mendapatkan telepon dari seorang pria bernama Raf, tetapi istri bos tidak menggubrisnya meskipun Raf banyak bicara. Ponsel milik Nyonya Laras, ia biarkan tergeletak di atas meja, sedangkan istri bos tidak memperdulikannya. Waktu itu saat si kembar lima berusia dua tahun, kau pernah mengajak anak dan istrimu ke markas utama, 'nah saat itu."


"Haha, setelah itu apa yang terjadi?"


"Baterai ponsel milik istrimu habis, alhasil suara yang tadi aku dengar tiba-tiba menghilang. Dari pengakuan sang pria, bahwa dia dan Nyonya Laras hanya sebatas teman tetapi Raf menganggap lebih. Intinya itu."


Gelak tawa menghiasi percakapan antara sang bos dan anak buahnya, sejenak melupakan pergulatan batin yang ia rasakan.


"Oke, aku sekarang paham mengapa kau selalu menyindirku. Kau bilang bos, harusnya kau jadi anggota kepolisian agar bisa bertemu dengan orang gila itu."


Tawa mereka kembali pecah, membuat suasana tegang menjadi cair.


"Iya bos, aku mengatakannya karena itu. Haha, kau jangan menghukumku, aku masih lajang dan belum memiliki seorang kekasih. Jika kau menyuruhku untuk tidak bertemu dengan anak dan istriku, aku merasa sedih karena tidak memiliki keduanya."


Tawa lagi, sekali lagi mereka semua tertawa akibat salah satu anggota yang jomblo sepanjang masa.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2