Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Chapter 155


__ADS_3

Sang mafia masih berada di dalam bar itu bersama tuan Zhev, Richi dan tuan Ramos, sementara yang lain sudah undur diri karena masih banyak pekerjaan.


"Aku berpikir lebih baik kita berunding di sini saja," ucap sang mafia.


"Iya, jika kita pergi ke markas Death Angel, akan memakan waktu yang lumayan lama," tambah Richi.


"Mau dimanapun, pada intinya aku tidak mau malam ini tidur tanpa wanita cantik," celetuk tuan Ramos.


"Insting binatangmu selalu yang terdepan pak tua," ledek Alex.


"Tentu saja, wanita menjadi prioritas utama," jelas tuan Ramos.


Tuan Zhev geleng-geleng kepala mendengar ucapan tuan Ramos yang selalu mementingkan wanita daripada yang lain.


"Terserah kau saja," Alex terlalu muak dengan sikap tuan Ramos yang selalu banyak alasan itu.


Tuan Ramos mendekati Alex dan memeluknya erat," Meskipun kau dingin bagai es batu, tetapi jiwa malaikatmu memang nomor satu," ucap tuan sok lembut.


Alex langsung melepaskan pelukan itu," Apa kau kelainan tuan? aku pria jantan, jangan peluk sembarangan," Sang mafia terlihat kesal.


"Haha, Ramos! hentikan kekonyolanmu itu!" jawab tuan Zhev.


"Mau bagaimana lagi? aku adalah pria malang, aku hanya memiliki pesona," ucap tuan Ramos.


Sang mafia tidak menggubris perkataan tuan Ramos, dia lebih tertarik berbicara dengan tuan Zhev.


"Tuan, Jiho dan Hang Zhi, mereka berusia berapa tahun?" tanya Alex yang masih duduk di tempat yang sama.


"Kedua anakku itu, bulan depan berusia dua puluh tahun, kebetulan mereka kembar," jelas tuan Zhev sembari menghela nafas.


"Apa mereka anak-anak yang sulit di ajak bicara?" Alex sedang mencari informasi detail tentang kedua anak tuan Zhev agar mampu mendekati keduanya.


"Awalnya tidak, mereka itu anak yang penurut, tapi sejak ibunya tewas mengenaskan, mereka jadi pemberontak! seminggu setelah isteriku tiada, mereka kabur dari rumah," jelas tuan Zhev memberikan keterangan.


"Kesukaan Jiho dan Hang Zhie? apakah sama? setahuku meskipun kembar, kadang ada perbedaan meskipun hanya warna kesukaan," Alex memastikan sesuatu yang ia ketahui.


"Jiho lebih lembut daripada Hang Zhie, itu perbedaannya. Meskipun si kembar memiliki wajah yang sama, Hang Zhie lebih tegas dan sadis," jelas tuan Zhev yang sangat memahami sifat kedua anaknya.


"Dimana alamat markas Jiho?" tanya Alex sembari meminum secangkir teh.


"Ada di sebuah desa terpencil, namanya desa bunga karena di sana tumbuh bermacam bunga, ia mengelabui Hang Zhi dengan membangun markas utama di sana," jawab tuan Zhev yang pernah berusaha membujuk Jiho untuk berdamai dengan saudara kembarnya namun tidak berhasil.


"Target pertamaku adalah Jiho," ucap sang mafia.

__ADS_1


"Kapan kau akan kesana?" tanya tuan Zhev penasaran.


"Sekarang, kakek tua dan Richi mengawasi aku dari jauh. Aku akan mengabari anak buahku agar bersiap-siap, aku akan bernegosiasi dengan Jiho. Semoga dia bisa bekerja sama denganku," jawab Alex berwibawa.


"Baiklah, kau segeralah berangkat, di bawah ada mobilku, bawa saja," pinta tuan Zhev sembari melemparkan kunci mobil ke arah sang mafia dan tertangkap sempurna olehnya.


"Baik tuan, terimakasih," jawab Alex.


Karena dia pria berpengaruh nomor dua setelah tuan Fudo, ketiga orang itu membungkukkan badan untuk salam hormat kepada tuan Zhev.


Setelah itu, mereka bertiga keluar dari ruang perjamuan makan untuk menuju lift.


Ting!


Pintu lift terbuka, ia terkejut saat sosok Livy dan Gerald keluar dari dalam lift itu. Tapi Alex tidak mempedulikannya, urusannya hanyalah segera pergi ke markas Jiho. Tidak ada urusan dengan mereka berdua. Meskipun Livy dan Gerald menatap wajah dingin sang mafia yang semakin garang dan sangar itu.


Pintu lift telah tertutup, Alex menekan tombol nomor satu untuk sampai di lantai dasar.


Sambil menunggu lift menuju lantai satu, Richi heran dengan sikap Livy.


"Lex, tadi itu Livy dan si Ge kan?" tanya Richi.


"Iya," jawab Alex melipatkan tangan di dada.


Alex enggan membahas gadis itu, masa bodoh baginya, gadis itu mau lupa atau ingat dengannya. Pada intinya Alex hanya menjaga perasaan sang isteri.


Ting!


Pintu lift terbuka, mereka bertiga keluar dari lift dan berjalan menuju tempat parkir mobil. Saat ingin keluar dari gedung itu, Alex berpapasan dengan Liu Earl.


"Bos Alex, beruntung sekali aku bertemu malaikat maut di sini," ucap Liu.


"Kau bisa saja, maaf Liu, aku masih banyak urusan, aku pergi dulu," Alex, Richi dan tuan Ramos berjalan melewati sekumpulan pria anak buah Liu Earl.


Wajah Liu menatap sang mafia dengan pandangan heran, salah satu anak buahnya menegurnya.


"Bos? ada apa?" tanya sang anak buah.


"Aku merasa ada hal luar biasa yang akan dia kerjakan, dia bersama tuan Ramos, salah satu dari dua puluh tetua yang bersahabat dengan tuan Fudo, aku penasaran dengan apa yang ia lakukan," jawab Liu.


"Biarkan saja bos, lebih baik kita segera menemui tuan Zhev, aku khawatir dia akan segera pergi," pinta salah satu anak buah.


"Kau benar juga," Liu mengalihkan pandangannya dan segera menuju lift dan masuk ke dalamnya.

__ADS_1


...* * *...


Di tempat parkir gedung...


"Lex, mengapa ada dua pemimpin geng di hotel ini? apa kau merasa ada yang aneh?" tanya Richi.


"Masuk mobil, kau yang menyetir," jawab Alex yang enggan membicarakan hal tidak penting.


"Kau yakin ini mobilnya?" tanya tuan Ramos.


"Yakin, aku pernah meminjam mobil tuan Zhev untuk mengantar tuan Fudo menghadiri pertemuan para tetua, dia suka mobil mewah yang antik, meskipun sudah bertahun-tahun, tuan Zhev akan tetap merawatnya," jelas sang mafia.


"Iya, aku percaya, ayo kita lets go!" ucap tuan Ramos yang duduk di jok belakang, sedangkan Alex berada di jok depan menemani Richi.


Richi menghidupkan mesin mobil itu dan segera mengendarainya menuju markas Jiho.


"Lex, tadi itu bukannya anak dari tuan Yin Wei?" tanya tuan Ramos.


"Siapa?" ucap Alex.


"Yang gadis bersama seorang pria?" tanya tuan Ramos.


"Aku tidak tahu, dan tidak mau tahu," Alex malas membahas Livy, dia memilih untuk menelepon sang isteri.


"Halo sayang?" Raut wajah dan suara Alex berubah seketika saat berbicara dengan sang isteri.


"Hm...budak cinta," celetuk tuan Ramos.


Richi menahan tawanya, saat melihat tingkah sang sahabat yang sok garang dan dingin di luar, tetapi lembut saat berbicara dengan Laras.


Alex tidak perduli dengan apapun, di dalam pikirannya hanya ada Laras.


"Halo juga sayang, kau sedang apa? apa urusanmu sudah selesai?" tanya Laras dengan suara yang menenangkan.


"Belum sayang, aku sedang ada misi dari tetua, kau tidak perlu memikirkan hal selain anak kita," pinta Alex.


"Iya, Lex, anak kita kembar lima...dan mereka anak laki-laki," ucap Laras.


Alex terdiam, dia mencoba memahami situasi ini.


"Apa? apakah itu benar?" tanya Alex sangat antusias.


"Iya," jawab Laras lembut.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2