
"Terserah kau saja, oh ya kau bilang, ayah dan ibu akan datang ke rumah, tetapi sampai sekarang belum ada kabar." Sang mafia mengkonfirmasi tentang kedatangan Nyonya Fira dan Tuan Hans hari ini.
"Entahlah, saat kau pergi tadi pagi, ponsel mereka sama sekali tidak aktif," jelas Laras tidak mengetahui apa yang terjadi tentang kedua orang tuanya.
"Apa sebelumnya mereka berdua tidak mengatakan apapun?" Alex boleh menghawatirkan keadaan kedua mertuanya. Dia khawatir terjadi sesuatu dengan mereka, namun Laras memastikan jika kedua orang tuanya baik-baik saja. Jika tidak sibuk di kantor, pasti sibuk mengelola usaha sampingan di rumah. Sedangkan sang ayah, sedang menangani banyak kasus.
Sang mafia memahami situasi ini, dia berharap kedua orangtua sang isteri aman dari segala hal.
"Sayang, jika kelima anak kita sudah dewasa, apa mereka akan menempel padaku ya? kadang aku merasa iri saat anak-anak sudah dewasa pasti mereka akan melupakan ibunya." Sang isteri mulai mencemaskan hal yang aneh.
"Sayang, aku dan ibuku sampai kapanpun tidak akan pernah jauh, meskipun dia sudah meninggal. Rasa cintaku kepada ibuku lebih dari segalanya. Aku yakin jika kelima anak kita, tidak jauh beda denganku." Alex memeluk tubuh sang isteri. Dia menenangkannya, sang mafia tahu jika isterinya itu memiliki hati yang rapuh.
"Jangan menangis, apa kau ingin bergabung dengan mereka? tapi sebaiknya jangan buru-buru ya? momen bahagia ini akan segera berakhir. Saat kita tiba di rumah, tidak akan pernah ada momen seromantis ini. biarkan mereka berlima mengekspor rasa ingin tahunya tentang binatang buas yang menjadi tujuan kedatangan mereka kemari. Terkadang kita harus membiarkan mereka mandiri, bertemu dengan orang-orang baru yang pastinya tidak membahayakan keselamatan anak-anak kita."
Lengkap sudah nasihat yang Alex berikan kepada sang isteri. Dia banyak belajar menjadi orangtua yang baik untuk kelima jagoan kembarnya.
Laras dan Alex menikmati momen berdua dengan ketenangan dan penuh canda tawa.
Sedangkan kelima anaknya sangat antusias melihat binatang buas.
"Paman? buaya itu namanya apa? Dia sangat gagah," tanya Adya segala keingintahuannya.
"Aku juga, ini namanya harimau apa?" sahut Adelio tidak kalah antusiasnya.
"Paman? aku juga, ini singa jenis apa? singanya gagah sekali keren!" ucap Lexis si penggemar singa jantan.
__ADS_1
Tuan Carlo mencoba menjawab satu persatu pertanyaan dari putera sang mafia.
"Satu-satu ya sayang? kita mulai dari buaya, tapi kebetulan yang ada di sini adalah Aligator." Tuan Carlo menerangkan tentang satwa yang ada di depannya.
"Bukannya itu buaya? mengapa namanya aligator? apa bedanya paman?" tanya Adya penuh rasa ingin tahu yang besar, dia adalah penggemar buaya.
"Aligator biasanya tinggal di dekat tepi laut. Secara alami, habitat mereka adalah rawa, danau, dan daerah aliran sungai yang rendah. Mereka tidak bisa tinggal di air asin. Sedangkan, buaya umumnya tinggal di rawa-rawa dan lahan basah di sepanjang sungai dan danau. Moncong aligator bentuknya lebih lebar, seperti huruf U. Sementara moncong buaya bentuknya runcing seperti huruf V. Namun ada beberapa pengecualian, seperti buaya rawa (Crocodylus palustris) yang memiliki moncong bulat seperti aligator. Bagaimana penjelasan paman?" jawab Tuan Carlo dengan membungkukkan tubuhnya sembari mengusap rambut putera sang mafia dengan lembut.
"Aku memahami penjelasan paman karena aku punya banyak koleksi buku tentang spesies buaya serta film dokumenternya. Daddy yang membelikanku saat ulang tahunku yang ke 4 tahun." Adya menjelaskan apa yang ada di ingatannya saat pertama kali mendapatkan hadiah anti-mainstream dari daddy tercintanya.
"Aku! harimau!" pekik Adelio dengan kedua kaki melompat-lompat, sedangkan jari telunjuknya mengarah ke atas.
"Aku juga! singa!" sahut Lexis antusias, dia menghampiri Tuan Carlo dan memegang kaki si pemilik Taman Hiburan dengan pandangan mata kucing penuh keluguan.
Adelio tak kalah memberikan rayuan mautnya, dia bahkan bernyanyi lagu yang ayahnya ajarkan agar Tuan Carlo mau menunjukkan harimau kepadanya.
"Aku kesana dulu sayang, aku mencium bau-bau perkelahian. Lexis dan Adelio, sangat senang baku hantam sepertiku. Aku harus turun tangan, kau di sini dulu ya?" pinta sang mafia yang kini telah beranjak dari tempat duduk.
Sang isteri menggangguk pertanda memberikan izin.
Alex melangkahkan kedua kakinya menuju kelima puteranya yang kini berada di depan sebuah kandang aligator. Ada sedikit keributan di sana, saat Alex mendekat, Adelio dan Adya sedang berkelahi. Para bodyguard segera melerai keduanya.
"Aku dulu, aku yang harus melihat harimau! bukannya kau!" pekik Adya yang merasa anak bungsu.
"Tapi aku juga ingin melihat singa, pokoknya aku dulu! pokoknya aku dulu!" sahut Lexis tak mau kalah.
__ADS_1
Alex mendiamkan kedua anaknya sejenak, setelah itu memberi penawaran menarik.
"Siapa mau ikut daddy makan eskrim?" tanya sang mafia, dia mengetahui kudapan manis nan dingin yg sangat di sukai oleh ke lima anaknya, terutama Lexis dan Adya.
Keduanya masih bersitegang di dalam dekapan para bodyguard yang menggendongnya, sedangkan ketiga anak sang mafia telah berlarian menuju mommy mereka. Kelihatannya mereka lebih menyukai bersama Laras daripada melihat satwa yang sukai.
Di tempat yang santai dan menenangkan, Laras di peluk oleh tiga jagoan supernya.
"Sayang mommy!" ucap Aarav, dia mencium pipi sang mommy tercinta.
"Huhu, aku juga sayang mommy!" jawab kakak kedua dan Adelio.
Laras merengkuh ketiga jagoannya dalam satu pelukan.
"Mommy juga sayang Aarav, Adelio dan Arsen. Kalian yang akur, nanti daddy akan belikan eskrim yang super jumbo." Laras membujuk ketiga anaknya yang lain agar tetap anteng, karena dua lainnya masih saja adu mulut.
Kudapan manis nan dingin kesukaan si kembar lima pun tidak menjadi obat terbaik untuk rasa kesal mereka.
Lima belas menit berlalu, Lexis dan Adya berhasil di jinakkan oleh sang daddy.
Alih-alih menggendong keduanya di pundak sang daddy, keduanya sukses tertawa terbahak-bahak saat Alex pura-pura terhuyung-huyung dan menjatuhkan keduanya di sebuah wahana permainan, mandi bola.
"Daddy loyo, letoy! kenapa baru sepuluh langkah berjalan sudah lelah!" celetuk Lexis menahan senyum manisnya.
"Iya dad! daddy tidak pernah ngegim ya? Adya lihat di iklan televisi, kalau ngegim bisa buat sehat dan kuat!" Adya bahkan mengetahui istilah itu, membuat Alex geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Anak-anak daddy memang luar biasa pandai, ayah sudah tua sayang. Wajarlah kalau loyo, letoy!" goda sang daddy sembari bermain di wahana mandi bola yang menyenangkan.
Mereka bertiga tidak berhenti tertawa, terlihat raut kebahagiaan terpancar di senyum ketiganya. Momen bahagia di Taman Hiburan menjadi saksi bahwa kehidupan sang mafia memiliki sisi lain yang lebih terbuka dan manis.