
Meskipun ragu, Alex mengiyakan permintaan sang ayah mertua. Dia berpamitan untuk menemui para anggotanya dan segera menyusun rencana.
"Lex, kau hati-hati."
"Pasti, ayah akan datang ke kantor polisi jam berapa?"
"Nanti siang sekitar jam satu."
"Ayah, apa kau yakin? dia pasti akan menyiksamu terlebih dahulu."
"Kau akan membalaskan dendam untukku, aku tidak perlu takut. Intinya kau dan anggotamu cari bukti kejahatannya, bongkar ke media. Jika aku menjadi umpan, dia hanya akan fokus denganku, kau bisa leluasa bergerak."
"Kau juga berhati-hati ayah mertua, aku khawatir dia akan menghabisimu!"
"Tidak akan, apa aku akan diam saja saat dia memukulku? tentu saja tidak."
"Oke, aku pergi."
"Ya."
Alex keluar dari kamar tamu kemudian melangkahkan kakinya menuju keluar rumah.
Dia membuka pintu utama, kemudian meminta semua anggotanya kembali berkumpul.
"Kita harus segera mendapatkan informasi tentang segala kejahatan yang dilakukan oleh Raf, kita tidak memiliki banyak waktu."
Alex berada di tengah-tengah para anggotanya kembali dan mulai menjalankan misi.
"Bos, aku mendapatkan informasi jika Raf hari ini akan melakukan wawancara di sebuah stasiun televisi swasta, rumornya dia akan menjadi polisi teladan tahun ini karena telah menyelamatkan seorang gadis saat bencana kebakaran. Pada waktu itu, Raf pas masuk ke dalam bara api dan menolong Gadis itu, dia menjadi polisi yang mampu mencuri perhatian."
"Kita mata-matai dia, dalam waktu 2 hari kita harus bisa menyelamatkan ayah Hans dari jeruji besi."
"Tuan Hans masuk penjara?" ucap salah satu anggota terkejut.
Alex menjelaskan jika dirinya memiliki misi bersama ayah mertuanya, setelah semua anggotanya mengerti, dia dan beberapa orang pergi menemui Willy dan Zicko di markas utama. Sedangkan yang lain sisanya menjaga rumahnya agar tetap aman dari para musuh.
__ADS_1
Alex dan anggota pilihan menaiki mobil mewah miliknya menuju markas utama, cerita berpamitan kepada Laras karena situasinya sudah semakin genting. Dia akan memberitahukan jika sudah sampai di markas saja.
Kini Alex dan anggotanya sudah berada di dalam mobil, selanjutnya sang mafia tancap gas.
Di sepanjang perjalanan, sang bos menyuruh salah satu anggotanya untuk tetap memantau apapun yang dilakukan oleh Raf, entah itu acara televisi ataupun radio, serta media yang lain.
Dia tidak mau kehilangan momen satupun untuk mengungkap kejahatan Raf.
Dua puluh menit kemudian, dengan mode ngebut, sang mafia setelah sampai di markas utamanya.
Kedatangannya disambut langsung oleh para anggota terutama Willy dan Zicko.
"Bos, kami dengar Tuan Hans..." Belum sempat Zicko mengatakan apa yang ia ketahui, Alex langsung mengajaknya masuk ke dalam ruang rapat untuk membahas hal tersebut. Zicko dan lainnya mengekor langkah sang mafia.
Sesampainya di ruang rapat...
Semua anggota inti berkumpul di sana, Alex langsung menyampaikan arahannya.
"Ayah mendapatkan kesulitan karena Raf, kalian aku tugaskan untuk mencari informasi tentang kejahatan itu secepatnya, karena ayahku sudah mengatakan jika dirinya akan menjadi umpan, sebenarnya aku tidak setuju tetapi, hanya ini satu-satunya cara untuk membuat Raf jera."
"Iya, dia memfitnah ayah dan diriku. Kalian segera laksanakan tugas, aku juga akan membantu, karena Tuan Fudo juga terganggu akan kehadiran Raf. Zicko, kau bersama lima anggota, datanglah ke acara talkshow yang menghadirkan Raf sebagai bintang tamu di salah satu stasiun swasta, aku akan membeli tiket untuk kalian berlima agar bisa menjadi peserta acara di sana, karena setahuku, pihak stasiun TV hanya menyediakan 50 peserta saja."
"Baik bos!"
Alex terlihat menelepon seseorang.
"Nella? ini aku Alex, tolong kau sediakan 5 tiket untuk anggotaku agar bisa menjadi peserta di acara talkshow yang menghadirkan bintang tamu Raf, si kepala polisi kurang ajar itu."
"Siap Lex, dalam 10 menit aku akan mengirimkannya via post."
"Thanks Nella."
"Siap Lex."
Panggilan telepon berakhir, semua anggota sedang sibuk mencari informasi tentang Raf, sedangkan Willy fokus dengan nama Nella yang baru saja berbicara dengan sang bos lewat sambungan telepon.
__ADS_1
"Bos, Nella itu siapa?"
"Temannya Laras yang bekerja di stasiun televisi itu."
"Haha, Aku kira..."
"Hus! Aku bukan pria seperti itu, awas kau Wil!"
"Maaf bos, sebentar aku masih banyak pekerjaan!"
Willy kabur dari pandangan sang bos dan menghampiri Zicko yang sedang bersiap untuk pergi menuju stasiun televisi swasta. Tetapi menunggu tiket datang terlebih dahulu.
"Kau jangan menggoda bos, ini bukan saatnya bercanda!" bisik Zicko kepada Willy.
"Aku tidak sengaja mengatakannya, sudahlah! kita mencari informasi tentang Raf saja daripada kena hukuman." Willy kapok karena salah berbicara dia kena mental bos mafia.
Zicko langsung memberikan dokumen rahasia milik Raf yang baru saja ia dapatkan dari anggota lain yang menantang maut saat mendapatkannya
"Coba kau lihat!"
Willy menatap layar ponsel Zicko, pria itu terkejut saat melihat fakta lain tentang Raf.
"Ini gila Zick, jika media mengetahui hal ini, dia akan langsung turun tahta! bagus!"
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1