Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Belum siap bertemu!


__ADS_3

Di markas Death Angel sendiri, sang mafia masih berada di kamarnya yang di sulap menjadi ruang perawatan.


Kondisi sang mafia masih begitu mengenaskan. Leher harus menggunakan penyangga, wajah babak belur, tangan dan kaki harus di gips. Tubuh sang mafia remuk akibat ulah Asley.


Dia berada di kamarnya bersama Guru Fu. Sang Guru membantu Alex menelepon nomor ibu mertuanya karena dia tidak bisa melakukan apapun selain berbaring. Tapi saat dia ingin berbicara dengan anaknya, tiba-tiba saja suara mereka tidak terdengar. Setelah itu, ada panggilan masuk dari Tuan Hans. Sang ayah mertua mengabarkan jika ponsel istrinya hancur karena dibanting oleh salah satu jagoannya, akhirnya dia berinisiatif untuk menelepon sang mafia agar kelima jagoannya bisa mendengar suara Alex dengan jelas.


"Dadddy!!!" Berulang sang mafia mendengar anak-anaknya memanggilnya. Suara mereka terdengar bersahut-sahutan, namun berhasil diredam oleh sang kakek.


"Lex, anakmu ingin bicara, tapi kau katakan sesuatu kepada mereka jika ingin bicara denganmu harus antri jangan berebut," bisik Tuan Hans, dia ingin sang mafia sendiri yang memberikan petuah kepada anak-anaknya.


"Baiklah! berikan ponsel ini kepada Aarav," pinta sang mafia tegas.


"Dad? ini aku, Aarav," ucap putra sang mafia, dia adalah anak yang paling dewasa dan lebih mudah untuk mengerti ucapan Alex.


"Aarav, kau bujuk adik-adikmu agar tidak berebut berbicara dengan daddy. Daddy, sedang tidak enak badan, jika kalian bertengkar nanti daddy akan semakin sakit, kau paham kan?" Sang mafia mencoba memberikan pengertian kepada Aarav.


"Baik dad, aku akan membuat adik-adikku mengerti, sebentar ya? aku akan berbicara dengan mereka berempat." Aarav, pria kecil sang mafia yang mampu menjadi kakak dari keempat adiknya.

__ADS_1


Alex menunggu beberapa menit untuk mendengar suara sang putra.


Akhirnya, setelah 5 menit berlalu, Aarav mengatakan sesuatu yang membuat Alex bahagia.


"Jika daddy segera pulang, mereka tidak akan berebut untuk berbicara dengan daddy, hanya itu permintaan mereka." Aarav mengatakan hal yang yang sulit bagi sang mafia, untuk dua hari kedepan bahkan satu bulan kedepan dia belum siap untuk bertemu dengan anak dan istrinya karena keadaannya yang belum pulih sempurna. Alex paling tidak suka melihat istrinya menangis, apalagi kondisinya saat ini sangat mengenaskan.


"Bagaimana kalau diganti dengan, berjalan-jalan ke luar negeri? misal kita pergi ke Italia? mau?" Tawaran menggiurkan dari sang mafia tidak digubris oleh Aarav, karena permintaan saudaranya hanya ingin bertemu dengan daddy mereka.


Alex memutar otak, dia tidak bisa menjanjikan sesuatu yang belum pasti. Kesembuhan dirinya membutuhkan waktu yang lumayan lama, dia benar-benar remuk seluruh badannya, sang mafia baru kali ini merasakan sakit yang teramat, selain badannya juga raganya karena tidak bisa bertemu dengan istri tercinta dan anak-anaknya.


"Tidak ada, kami hanya ingin daddy seorang!" rengek Aarav, membuat sang mafia tidak tega dengan anaknya.


Sang mafia meminta tolong kepada Guru Fu agar memencet tombol mute, karena dia ingin berbicara sesuatu dengan sang Guru.


Setelah sang Guru menekan tombol mute di layar ponselnya, sang mafia mengatakan apa yang ada di dalam hatinya.


"Guru, kapan aku bisa sembuh? tidak bisakah kau mengobati aku dengan ramuan herbal yang kau miliki?" tanya sang mafia, dia teringat akan Justin yang dahulu pernah dirawat oleh sang Guru.

__ADS_1


"Bisa, paling lama 2 minggu. Tapi aku harus pergi ke hutan untuk mencari bahan-bahan untuk ramuan tersebut, bagaimana? apa anak-anakmu bisa menunggu?" ucap Guru Fu yang akan mengusahakan kesembuhan sang mafia.


"Sebentar, aku minta tolong tekan lagi tombol mute," pinta sang mafia.


Setelah Guru Fu menekan tombol mute, kini terdengar kembali riuh suara kelima anaknya.


"Daddy? daddy? apakah daddy masih ada di situ?" ucap Lexis yang sangat antusias berbicara dengan Alex.


"Iya, daddy di sini sayang, kalau daddy pulang dua minggu lagi bagaimana? apa kalian masih menunggu? ini diskon dua minggu karena sebelumnya daddy harus berubah selama 1 bulan," jawab Alex yang selalu pandai ngeles.


"Tidak salah daddy, yang penting tidak sampai 1 bulan, kami semua sudah sepakat tadi." Diam-diam kelima anaknya telah membuat kesepakatan tentang kapan Alex kembali ke rumah.


"Dimana mommymu?" tanya sang mafia yang masih merasa rindu dengan sang istri.


"Mommy sedang ada di kamar mandi, katanya matanya sakit." Lexis begitu polos hingga tidak tahu apa yang dirasakan oleh sang mommy.


'Cih! wanita itu, dari awal bertemu aku sudah mampu menduga jika dia tidak akan pernah bisa berhenti menangis. Dia hanya akan berhenti menangis saat aku berada di sisinya,' batin Alex penuh rasa bersalah karena belum mampu bertemu dengan anak dan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2