
Kedua mata bos mafia itu tak kunjung terpejam, dia masih memikirkan sang isteri yang marah padanya. Dalam angan-angannya, Alex mengingat saat pertama kali bertemu dengan sang isteri.
"Cinta satu malam yang indah, aku tak menyangka jika dia akan menjadi isteriku," ucap bos Alex dalam kesendiriannya.
Ia menjadi lebih sensitif dari sebelumnya, hatinya bergelojak, ada rasa damai saat dia benar-benar menikmati momen kesendirian ini. Alex beranjak dari sofa, dia berjalan perlahan menuju bibir pantai. Sesampainya di sana, Alex melepaskan segala yang mengganjal di dalam hatinya dengan berteriak kepada lautan lepas di depannya itu.
LARAS, CAN YOU FORGIVE ME? I AM A STUPID, DON'T KNOW MY OWN WIFE'S FRAGILE FEELINGS, SORRY!
Kata-kata itu, ia ucapkan berulang-ulang tanpa lelah. Ada rasa lega di dalam hatinya, Alex tersenyum saat menyadari tingkah konyolnya.
Setelah puas berbicara dengan lautan luas, dia berniat ingin kembali ke dalam bangunan megah itu, tetapi saat dia berbalik, alangkah terkejutnya Alex saat melihat sosok sang isteri yang berdiri di belakangnya sembari menyilangkan kedua tangan di dadanya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Laras.
"Kau bisa melihatnya kan? aku sedang berbicara kepada lautan seperti orang gila," celetuk Alex.
"Apa yang kau katakan pada lautan luas?" tanya Laras.
"Mengucap permintaan maaf," jawab Alex.
"Untuk siapa?" tanya Laras.
"Untuk isteriku yang marah padaku," jawab Alex.
"Mengapa isterimu marah?" tanya Laras.
"Dia cemburu dengan seorang gadis dan membuat suaminya merana," jawab Alex yang langsung memeluk tubuh mungil sang isteri, dia menciumi wajah sang isteri, kemudian mengucapkan maaf.
"Sayang maafkan aku, aku yang salah, berhentilah marah, oke?" pinta Alex kembali memeluk erat tubuh isterinya itu.
"Iya ku maafkan, tetapi kau janji, jangan mengurusi Livy ataupun wanita lain, cukup aku saja yang jadi prioritasmu, kau paham?" ucap Laras.
"Janji! sudah bolehkah aku tidur di dalam?" tanya Alex.
"Aku sudah memaafkanmu tetapi hukumanmu masih berlaku sampai besok pagi, mari kita istirahat, aku lelah," ajak Laras.
"Apa? sial! kau membuatku gila sayang!" rengek Alex.
__ADS_1
"Nikmatilah hukumanmu sayang," ucap Laras yang meninggalkan Alex di bibir pantai sendirian.
"Awas kau! besok pagi kau akan ku balas!" pekik Alex.
Bos mafia itu menyusul langkah sang isteri yang lebih dulu masuk ke dalam bangunan, tiba-tiba dia merasa lapar, ia berjalan menuju dapur, saat melihat meja makan itu kosong tanpa makanan, ia sangat kesal, perutnya mulai keroncongan, tetapi tidak ada satupun daging yang tersisa di meja makan.
"Satu keluarga telah merenggut makanan kesukaanku tanpa menyisakan apapun untukku!" gerutu Alex.
Dia memilih untuk kembali merebahkan tubuhnya di atas sofa, bos mafia itu mencoba untuk memejamkan matanya meski sulit, suara nyamuk yang seperti orang marah-marah itu, tergiang di telinganya, membuat Alex pusing. Dia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut untuk mengurangi kebisingan akibat suara nyamuk.
...* * *...
Pagi harinya...
Alex merasa kesal karena di ruang tamu banyak sekali nyamuk, dia tidak bisa tidur. Waktu sudah menunjukkan pukul 04.30 pagi, tetapi bukan tidur nyenyak yang ia dapatkan, justru hanya gigitan nyamuk di tangan dan kakinya.
"Tuan Immanuel terlalu pelit, sampai obat nyamukpun dia tidak menyediakannya," gerutu Alex.
Saat bos Alex meratapi nasibnya, keluarlah tuan Hans dari kamar tamu.
"Hey mafia? apa kau benar-benar tidur di sini tadi malam?" tanya tuan Hans.
"Haha, rasakan itu!" ucap tuan Hans.
"Kau jahat sekali ayah, sekarang aku tahu, sifat kejam isteriku menurun dari siapa," jawab Alex ketus.
"Haha, kau juga kurang ajar!" ucap tuan Hans tak henti tertawa.
Tuan Hans mendekati bos mafia, dia ingin membicarakan hal penting padanya.
"Lex, aku ingin bertanya sesuatu padamu," ucap tuan Hans.
"Tanyakan saja," jawab Alex.
"Dua hari ini aku mendapatkan laporan jika ada dua kematian misterius di kota utara, korbannya rata-rata para pemuda berusia 20-25 tahun, sang pelaku tak meninggalkan jejak apapun setelah melakukan aksinya," jelas tuan Hans sembari duduk di samping menantunya.
"Dulu aku pernah mengalaminya, dua anggotaku juga tewas secara misterius, setelah beberapa tahun kemudian, hal itu tidak pernah terjadi lagi, aku sudah pernah menyelidikinya bersama Richi, tetapi hasilnya nihil," ucap sang mafia.
__ADS_1
"Tuan apa kau yang mengambil makanan favoritku?" tanya Alex.
"Kita sedang membahas apa dan kau bertanya apa, " jawab tuan Hans heran.
"Haha, aku lapar," ucap Alex.
"Setelah ini, tuan pilot akan datang, dia akan membawakanmu banyak makanan," jawab tuan Hans.
"Wah! selain kejam, kau juga memiliki sisi lembut bak malaikat," puji Alex.
"Diamlah, aku harus menyelesaikan tugasku, hari ini aku kembali ke kota, sekalian aku pesankan makanan yang banyak untukmu, kapan kau kembali?" ucap tuan Hans.
"Iya, kau harus segera kembali, terlalu enak tugasmu kalau hanya tidur dan menggodaku setiap hari, kau makan gaji buta ayah mertua," jawab Alex.
"Sial! aku bekerja keras untuk tugasku sebagai polisi, aku pamit kepada Roger untuk berlibur di pulaumu, tapi dia memasukkan laptop di koperku, dia bilang, kau harus tetap berkerja tuan Hans, tanpa kepala polisi, aku hanya butiran debu," ucap tuan Hans sembari menirukan ucapan wakilnya.
"Haha, dia menyebalkan sekali, tuan Roger pernah memukulku sekali, aku ingin sekali membunuhnya, tapi saat aku mengetahui dia memiliki dua anak yang menggemaskan, aku mengurungkan niatku," Cerita bos mafia.
Tuan Hans menelan salivanya, hanya memukul saja sudah ingin di bunuh, apa lagi menyakiti bos Alex, bisa hancur hidup orang tersebut. Kepala polisi itu geleng-geleng kepala saat mendengar penjelasan bos Alex. Dia memilih untuk tidak berkomentar, meskipun dia polisi, akan sangat berisiko jika mengatakan banyak hal.
"Mengapa kau diam?" tanya Alex.
"Ingin saja," jawab tuan Hans sok cool.
"Kau takut padaku yang kejam ini?" tanya Alex.
"Aku sudah tahu jika kau kejam, jadi tidak ada rasa takut sama sekali, jadilah pria yang baik, tinggalkan dunia hitam itu jika kau bisa," saran tuan Hans.
"Nanti akan ku pikirkan," jawab Alex.
"Segera kau pikirkan, Laras butuh kau untuk melindunginya," pinta tuan Hans.
"Iya aku tahu," jawab Alex.
"Aku masuk ke kamar dulu, ingin bersiap," ucap tuan Hans.
"Baik," jawab Alex.
__ADS_1
Setelah tuan Hans pergi, dia merenungkan ucapan sang ayah mertua, tapi dia tidak bisa semudah itu lepas dari dunianya. Banyak hal yang harus dia pertimbangkan, secara dia sudah menjadi penguasa di kota itu.
'Hidup normal seperti pria biasa, apa aku bisa? hidupku memang tidak normal, ini takdir yang maha kuasa, ku jalani saja seperti biasa, sisanya akan ku pikirkan nanti," batin Alex.