
Perkara baju telah usai, kini giliran Tzuyu berbicara.
"Maaf Tuan, aku tidak bisa memapahmu lagi, sepertinya kau harus duduk di kursi roda." Tzuyu ingin menghindar dari perasaan yang bergemuruh di dadanya.
"Oke, mengapa tidak dari tadi saja kau mengambil kursi roda untukku?" tanya Yovan memperhatikan wajah Tzuyu yang tak mau memandang matanya.
"Aku lupa, sebentar aku akan mengambilkan kursi roda itu. Setelah ini, kita ke rumah temanku ya? dia juga teman Han Bin, namanya Calvin."
Si gadis langsung mengambil kursi roda yang ada di mobil milik MK, dia berjalan menuju mobil itu dengan senyum yang mengembang.
"Sial! perhatiannya sangat luar biasa terhadap seorang wanita, tetapi aku tidak bisa mengkhianati Han Bin, dia adalah yang pertama dan terakhir untukku."
Tzuyu terus saja memikirkan perasaan aneh yang ada di dalam hatinya sembari mengambil kursi roda yang ada di bagasi mobil MK.
Kursi roda sudah siap, dia segera menjemput Yovan.
Dia kursi roda itu menuju Yovan berada.
Tak terasa, kini dia berada tepat di depan pria itu.
__ADS_1
"Duduklah di sini, kita harus bergerak cepat menuju rumah temanku," pinta Tzuyu.
"Iya," jawab Yovan yang berusaha keras untuk duduk di atas kursi roda tanpa bantuan si gadis.
Yovan tidak akan terlihat lemah di depan Tzuyu, dia mengerahkan seluruh kekuatannya hingga dia benar-benar bisa duduk di atas kursi roda dengan usahanya sendiri.
"Kau bisa, mengapa tadi meminta bantuan? kau sepertinya modus ya?" tanya Tzuyu yang curiga jika pria di depannya ini sedang mengelabuinya dan mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Mana ada? aku sudah berusaha dengan keras tapi kau meragukanku, ini tidak bisa dibiarkan! jika aku sudah sembuh, jangan harap kau lepas dari jitakan jariku!" Yovan mulai terlihat akrab dengan Tzuyu.
Sang gadis pun sama, mereka sangat kompak jika saling melempar candaan.
"Iya, pria tua cerewet!" jawab Tzuyu masih dengan senyum manis yang mengembang di bibirnya.
Sejatinya, kedua orang itu memiliki perasaan yang sama tetapi masih belum memahaminya.
Sebuah misi balas dendam mungkin saja akan menyatukan cinta keduanya tetapi, Tzuyu masih belum yakin jika sang kekasih sudah tewas. Dia akan tetap mencari kebenaran yang sesungguhnya, agar cintanya terhadap sang kekasih tetap terjaga meskipun ada orang lain yang lebih memperhatikan yang saat ini.
Tzuyu mulai mendorong kursi roda itu dan berjalan perlahan meninggalkan rumah yang telah rusak dengan koper di tangannya.
__ADS_1
Dia kembali memasukkan Yovan kedalam mobil dan memasukkan kursi roda serta koper berisi pakaian ke dalam bagasi mobil MK.
Tanpa basa-basi, Tzuyu langsung tancap gas menuju rumah Calvin yang berada tak jauh dari rumahnya.
Yovan kagum dengan sosok gadis yang tak perlu banyak bicara tetapi sudah pandai menyetir.
Dia kepergok melirik ke arah wajah Tzuyu dan ketahuan oleh gadis itu.
"Hayo? kau sedang melihatku pasti?" Kata-kata Tzuyu membuatnya terkejut dan berusaha mengelak.
"Mana ada? aku tidak melihatmu, tetapi melihat caramu menyetir, jika kau salah injak rem atau gas, bisa kecelakaan kita nanti!" ucap Yovan beralasan.
"Iya, aku tahu kau sedang memperhatikanku, tetapi aku tidak memperdulikannya. Kau memiliki mata dan menatap apapun yang kau inginkan, itu yang sering Han Bin katakan kepadaku!"
Terlihat raut menyedihkan dari wajah sang gadis, Yovan sedikit kesal karena sang gadis mengatakan sesuatu tentang pria lain di depan.
Sialan! mengapa orang lain yang dibahas? lalu aku siapa di sini?
....
__ADS_1