
"Kau membuat ayah mertuamu lari terbirit-birit," ucap nyonya Fira.
"Iya sayang, kau membuat ayahku mati gaya," timpal Laras.
"Ayah mertua selalu memandangku sebagai pria brutal dan bengis, ternyata dia memiliki sisi itu juga, tapi bedanya dia lebih rapi. Kesalahan tuan Hans adalah bermain di wilayah Alex Fernando, impas sudah tuduhan itu, kita sama-sama brutal di ranjang," jelas Alex.
Nyonya Fira dan Laras ingin sekali tertawa karena ulah anak menantu dan ayah mertua itu, akan tetapi apa yang Alex ucapkan memang benar, mereka akan malu sendiri jika tidak mengakuinya.
"Lex, bagaimana dengan Dounghun Farmasi?" tanya nyonya Fira.
"Masih dalam proses pengalihan berkas kepemilikan, aku akan menuntaskannya segera ibu mertua, kau tidak perlu khawatir," jawab Alex.
"Ibu sudah tidak sabar untuk bekerja lagi rupanya," celetuk Laras.
"Bukan begitu, aku hanya bosan menjadi wanita karier, kau dan Alex saja yang mengelola Dounghun Farmasi, aku ingin tinggal di sini dan menjadi ibu rumah tangga saja," pinta nyonya Fira.
Alex dan Laras saling pandang, mereka tidak menyangka jika nyonya Fira yang notabene adalah wanita karier yang gila kerja mau menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya.
"Apa keputusan yang ibu ambil ini sudah ibu pikirkan dengan matang" tanya Laras.
"Sudah Laras, semalam, aku berbincang dengan ayahmu, aku meminta pendapatnya tentang hal ini. Ayahmu bilang jika lebih baik aku berhenti bekerja saja dan menyerahkan Dounghun Farmasi untuk di kelola olehmu dan Alex," jelas nyonya Fira.
"Aku masih belum memahami seluk-beluk bekerja di dunia Farmasi bu, aku perlu belajar lebih banyak lagi mengenai pekerjaanku nanti. Apalagi aku masih mahasiswi, banyak tugas yang tertinggal saat aku melewati masa-masa sulit, kuliahku menjadi terbengkalai," ucap Laras.
"Tentang Dounghun Farmasi, biar aku yang mengurusnya, biarpun aku bukan orang yang berpendidikan tinggi, namun aku bisa melakukan apa saja, ayahku mengajari banyak hal padaku," jawab Alex.
"Ayahmu hebat Lex, dia mampu mendidikmu menjadi sekuat dan secerdas ini, kau memang pantas menjadi pemimpin gengmu," puji nyonya Fira.
"Kalau boleh memilih, aku ingin menjadi pria biasa saja, menjalani peranku yang seperti ini tidak cocok untuk memiliki keluarga bahagia karena perkerjaanku yang penuh resiko ini akan membahayakan keluargaku kelak," jelas Alex.
__ADS_1
"Kau tidak perlu menyesali peranmu itu, kau tetap anak menantu kesayanganku," ucap nyonya Laras.
'Kalian berdua manis sekali,' batin Laras.
"Terima kasih ibu mertua karena kau telah memberikanku kepercayaan untuk menjadi pelindung Laras," ucap bos Alex.
"Aku juga berterimakasih padamu Lex, karena dirimu, aku sadar jika peran pria di hidup kita memang sangat besar, sebagai seorang isteri, aku merasa terlalu mengabaikan suamiku," jawab nyonya Fira penuh penyesalan.
"Saat kau mengatakan hal itu kepada ayah mertua, pasti kepalanya akan semakin membesar dan kadar kesombongannya pasti akan meningkat drastis, tapi meski begitu, dia adalah pria beruntung yang memiliki isteri pengertian seperti ibu mertua," jelas Alex.
"Kau bisa saja Lex, dia memang lebih mirip Laras yang cuek, mungkin itu bisa saja terjadi tapi dia akan sok cool di depanku, dia tidak akan memperlihatkan perasaan yang sebenarnya," ucap nyonya Fira.
"Dia lebih mirip kau sayang," jawab Laras sambil menatap wajah Alex.
"Aku tidak mirip seperti dia, aku lebih lembut sayang, dia terlalu ugal-ugalan," jelas Alex.
Nyonya Fira dan Laras tertawa mendengar Alex berucap, mereka berdua merasa jika bos Alex adalah bos paling unik di seluruh dunia.
Alex berjalan menuju ruang kerja, Richi dan Angela mengekor langkah sang bos. Laras ingin mengikuti Alex, tapi dia mengurungkan niatnya, Laras lebih memilih untuk membantu ibunya beres-beres.
Ruang Kerja bos Alex...
Bos Alex duduk di singgasananya dan kedua anak buahnya duduk berhadapan dengannya.
"Richi, apa yang kau temukan?" tanya Alex.
"Aku dan Angela tidak menemukan hal yang mencurigakan di antara dua musuh kita itu, mereka sepertinya masih belum ingin muncul kepermukaan," jelas Richi.
"Bagus! kalau begitu, kau katakan kepada tuan Immanuel, aku akan berangkat ke pulau itu pukul sepuluh pagi, aku harap kau membantuku mempersiapkan segalanya," perintah bos Alex.
__ADS_1
"Siap bos, laksanakan! oh ya Lex, apa kau yakin ingin mengajak nona Laras menjenguk Livy Garcia?" tanya Richi.
"Aku yakin, karena memang aku mengatakan hal yang sebenarnya," jawab Alex.
"Bukan itu maksudku Lex, tetapi apa kau yakin nona Laras tidak akan cemburu saat Livy memperlakukanmu layaknya seorang pasangan? aku khawatir calon istrimu akan kabur karena terbakar api cemburu," tukas Richi.
"Dengar Richi, aku sudah berjalan sejauh ini, tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi. Aku dan Laras telah melewati banyak hal dan itu semua tidak mudah, aku tidak akan membiarkannya pergi dariku begitu saja," jawab bos Alex.
Richi merasa senang saat melihat kedewasaan seorang Alex Fernando, dia akan selalu melakukan hal yang terbaik untuk bosnya itu meskipun nyawa taruhannya, karena dia sudah bersumpah setia kepada Alex untuk membantunya mempertahankan tahtanya.
Pembicaraan itu berakhir dengan senyum geli karena melihat Angela yang semula hanya melihat ponsel, tiba-tiba saja meletakkan kepala di atas meja, dia memejamkan mata dan tidur, lucunya lagi, tanpa Angela sadari, mengalir air liur dari sudut bibirnya.
"Kau bawa dia ke kamar, dia akan membuat meja kerjaku banjir air liur," perintah bos Alex.
"Haha, baiklah, dia memang seperti ini sejak dulu, kebiasaan tidurnya tidak juga berubah," ucap Richi.
Richi mengendong Angela dan keluar dari ruang kerja bos Alex.
Kini hanya ada bos Alex yang di dalam ruangan itu, dia memutuskan merangkai kata-kata untuk melamar sang kekasih, Alex mengambil secarik kertas di meja kerjanya dan sebuah bolpoin bertinta hitam, dia mulai menulis di atas kertas itu.
'Laras, sebelumnya hidupku sangat kaku dan tidak berwarna. Aku mendedikasikan seluruh hidupku untuk Death Angel, tidak ada waktu untukku sekedar membahagiakan diriku sendiri. Hidupku penuh tantangan setiap harinya, banyak musuh yang mengincar nyawaku. Tapi saat aku mengenalmu duniaku yang semula hitam kini lebih terang dengan cahaya harapan, aku akan sangat bahagia jika kau mau menjadi istriku, Laras, apakah kau mau menikah denganku?
"Ini terlalu berlebihan," ucap bos Alex sambil menyobek kertas itu dan membuangnya di tempat sampah besi di samping meja kerjanya.
Dia mencoba menulis kembali, kali ini dia akan berusaha lebih keras.
Laras, mau kah kau menikah denganku? Laras... aku...
'Sial! aku menjadi sangat gugup,' batin Alex.
__ADS_1
Alex berpikir, dia memang tidak pandai merangkai kata-kata indah lewat tulisan, namun saat dia mengatakan langsung kepada Laras tentang segalanya dari lubuk hatinya yang paling dalam, entah itu romantis atau tidak, dia yakin jika Laras akan mengetahui jika dia serius dan tulus mencintainya.
"Laras, tetaplah di sana, jangan goyah, aku akan menjadikanmu istri yang paling bahagia di seluruh dunia," ucap bos Alex mengucap janji pada dirinya sendiri.