
Markas Death Angel...
Sang mafia tersenyum saat mengingat wajah sang istri, entah mengapa, hari ini, dia ingin sekali bertemu dengan Laras. Di sela kesibukannya mencari bukti kejahatan Raf, ia meraih ponsel yang ada di samping laptopnya.
Setelah itu, sang mafia membuat panggilan telepon.
Lama sekali panggilan itu tersambung, membuat sangat khawatir. Dia kembali mengurang panggilan itu sampai 11 kali.
Willy menangkap keresahan yang ada di raut wajah sang mafia, meskipun masih merasa takut, dia memberanikan diri untuk mendekati bos mafia.
"Bos? kau kenapa?" tanya Willy kini berdiri tepat di samping sang bos.
"Istriku, aku khawatir dengan keadaan istriku."
"Memang istrimu sedang sakit bos?"
"Tidak, hanya saja dia tidak menjawab panggilan telepon dariku."
"Mungkin sibuk atau anak-anak memiliki keinginan yang harus terpenuhi, biasanya mereka akan merenggek kepada mommy. Alhasil istri bos pasti kerepotan."
"Maybe.Tetapi, aku harap tidak terjadi sesuatu kepadanya." ucap sang mafia penuh pengharapan agar sang istri baik-baik saja.
Willy hanya bisa menghibur sang bos semampunya, dia juga merasa sedih saat melihat Alex begitu murung.
"Bos, lebih baik kau fokus dengan misi dari Tuan Fudo dan Tuan Hans, masalah Nyonya Laras yang tidak menjawab panggilan telepon darimu, jangan terlalu kau pikirkan. Kasihan Tuan Hans jika harus mendekam di jeruji besi lebih dari 2 hari."
"Kau benar juga, aku juga merasa tidak baik hanya memikirkan ego sendiri, padahal aku adalah seorang bos mafia yang harus adil terhadap semuanya. Termasuk soal misi ini, terimakasih ya Will, karenamu aku bisa berpikiran jernih."
Willy merasa senang karena apa yang ia ucapkan berguna untuk sang bos. Namun, yang terpenting dari semua itu adalah dia tidak kena hukuman lagi.
Senyum sang mafia kembali, dia kembali mencari bukti kejahatan Raf yang kini ditemani oleh Willy di sampingnya.
"Bos, kau lihat ini!" ucap Willy sembari memperlihatkan video asusila Raf dengan seorang wanita malam.
"Haha, apa ini?"
"Astaga? apa kau tidak bisa melihat bos? ini adalah singa liar yang sedang mencengkram mangsa."
Alex melirik ke arah Willy yang lagi-lagi asal bicara.
__ADS_1
"Kau mau aku hukum?"
"Tidak bos, lebih baik kita melihat video ini. Gadisnya cantik sekali, mirip dengan Nyonya Laras."
Alex kembali melirik ke arah Willy kembali, di depannya, Willy terlalu berani untuk menyebut si gadis pemeran video tersebut adalah Laras.
"Mengapa kau menyamakan istriku dengan murahan ini? tiada ampun bagimu Will!"
Willy mengira jika sang bos akan menghukumnya, tetapi sang bos hanya diam tanpa suara sembari mata fokus ke layar laptop dengan tangan menari diatas keyboard.
"Sama dengan ini," tunjuk Willy ke arah layar laptop.
,
Keduanya saling bertatapan.
"Aku tidak memungkiri jika wajah murahan itu, mirip dengan istriku."
"Apa dia menggunakan uangnya untuk menduplikat wajah istrimu bos?"
"Bisa jadi, Cih! dasar pria psikopat! bagaimana bisa wajah istriku mirip dengan murahan ini, cari mati !"
"Tidak semudah itu Will, masih banyak hal yang harus kita pelajari."
"Contoh?"
"Mengelabui musuh, kau harus belajar ilmu mengelabui musuh."
"Kita tunggu momen saat Raf berada di acara televisi itu, setelahnya kita permalukan dia disana."
"Zicko yang akan menjelaskan ini kepadamu, Will," imbuh Alex sembari menepuk pundak Willy.
"Aku loading lama sejak menikah bos, yang ada di pikiranku hanya tubuh seksi Jeni," bisik Willy, ini rahasianya yang belum semua orang tahu dan hanya bos Alex yang mengetahuinya.
Alex geleng-geleng kepala saat mengetahui alasan Willy tidak secerdas biasanya, ternyata dia telah terkontaminasi racun cinta Jeni.
Saat keduanya berbincang panjang lebar, Zicko mendekati keduanya.
"Bos, aku mendengar jika ada yang menyebut namaku," ucap Zicko.
__ADS_1
"Iya, aku tadi membicarakan dirimu. Oh iya, nanti saat tukang pos kepercayaan Nella kemari, kau temui dia dan segera menuju tempat Raf," pinta Alex.
"Baik bos!"
....
Beberapa menit kemudian...
Dering ponsel sang mafia terdengar nyaring, Alex langsung meraih ponsel yang ada di samping laptopnya.
"Lex, tiket sudah ada di depan markasmu, segera kau ambil. Tukang pos kepercayaanku tak akan membocorkan dimana markasmu berada, setelah mengantar paket berisi tiket, aku meminta dia menitipkannya di penjaga gerbang."
"Thanks Nella."
"Oke."
Zicko sudah memahami jika waktunya mempermalukan Raf sudah tiba.
"Bos kami pamit dulu, kembalikan ponsel Will. Aku akan membuat psikopat itu dipermalukan seantero kota New York."
Willy menyerahkan ponsel Zicko yang sedari tadi ia pinjam karena ingin menunjukkan video tersebut kepada bos Alex.
Setelah mendapatkan izin dari bos mafia, Zicko dan anggota pilihannya, segera keluar dari ruangan tersebut untuk melaksanakan tugas penting.
Semoga kalian berhasil!
Bos Alex berharap jika ucapan selamat datang untuk Raf bisa membuat kepala polisi itu berpikir jika sang mafia tak semudah itu kalah.
Haha, dia akan malu dan berpikir ulang untuk melawanku, pria sialan!
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1