
Acara pernikahan yang sederhana namun sangat intim, meski hanya di hadiri Alex,Laras, seorang perias, dan pendeta, tidak mengurangi kebahagiaan kedua pasangan. Sang pendeta sudah berada di samping Alex untuk membicarakan beberapa hal, sedangkan Richi dan Angela masih saja bercumbu, membuat Alex tak kuasa untuk berkomentar.
"Richi, stop! lanjut nanti saja sekarang aku lapar," Alex benar-benar mengganggu kesenangan sahabatnya.
"Biarkan saja sobat, kau seperti belum pernah merasakan hal yang sama saja," ucap sang pendeta.
"Iya aku tahu, tapi tetap saja, dia membuatku iri," Alasan utamanya mengejek Richi.
"Mengapa harus iri? kita bisa melakukannya nanti," Laras menyenggol lengan sang suami, dia mencium pipi Alex, " Lakukan dengan lembut ya?" bisik sang isteri membuat Alex bersemangat.
"Sial! malamnya lama sekali, tidak sekarang saja kah?" Alex kurang sabar, dia ingin segera mempraktekkan saran dokter.
"Haha, kita nikmati dulu apa yang ada, kau ini! maunya itu saja," Laras menjewer telinga sang suami yang nakal itu.
Pendeta meminta sang sahabat untuk lebih bersabar, daripada mood sang isteri berubah, bisa gagal total prakteknya.
Mendengar komentar Alex, Richi langsung menghentikan aksinya.
"Kau dengarkan? kakakmu itu berisik," ucap Richi kesal.
"Aku tahu kau ingin segera melakukannya, tetapi saran kakakku benar juga, kita makan dulu. Bos sudah mempersiapkan banyak makanan tapi hanya akan di nikmati oleh beberapa orang saja, dia sangat boros!" Angela tersenyum saat melihat sang bos memakan sushi, Alex sangat lahap memakannya.
"Biarkan saja, dia tidak akan miskin, lebih baik kita makan, dia akan lebih berisik lagi jika kita tidak segera menuruti keinginannya," bisik Richi di telinga Angela.
"Geli kak," ucap Angela menjauh dari Richi.
Richi menarik lengan Angela, dia berbisik, "Kau harus terbiasa,"
Jantung sang isteri berdegup tidak karuan, dia merasa malu dengan perlakuan manis sang suami. Angela beralasan jika dirinya haus, sang isteri berjalan perlahan menuju meja prasmanan, tempat berkumpulnya Alex, Laras,pendeta dan sang perias. Ia mengambil segelas jus stroberi, tanpa basa-basi ia langsung menghabiskannya.
"Apa kau gugup adik ipar?" tanya Laras, ia menepuk lembut pundak Angela.
"Iya nona, eh kakak ipar. Aku tidak terbiasa bermesraan dengan pria karena aku lebih suka bertarung," ucap Angela yang membuat Laras tertawa.
"Kau memang petarung sejati," jawab Laras bangga.
__ADS_1
Alex menghentikan pembicaraan dengan pendeta dan menghampiri Angela dan Laras.
"Kalian pasti sedang membicarakan aku," ucap sang mafia penuh percaya diri.
"Tidak, kami sedang membicarakan pria yang sedang berjalan kemari," Laras menatap Richi yang sedang berjalan ke arah mereka. Dengan tersenyum bahagia, dia memeluk tubuh Angela.
"Bos! kau membuat Angela malu kau tahu?" ledek Richi.
"Haha, bukan itu maksudku. Kau juga harus merasakan hal yang sama denganku, bagaimanapun juga menahan diri itu sangat menyiksa," jelas sang mafia mendramatisir keadaan.
Angela dan Richi saling menatap," Itu cobaanmu bos, yang sabar dan tabah ya?" ucap pasangan pengantin baru itu serempak sembari menepuk pundak sang mafia.
Alex menjitak kening sang sahabat dan sang adik, keduanya merasa kesakitan.
"Aduh! sakit kak, kau ini!" ucap Angela sembari mengelus keningnya.
"Iya, kau jahatlah Lex, harusnya kau dukung aku," pinta Richi yang juga mengelus keningnya.
"Rasakan itu! kalian jangan berani melawanku! oh ya, maaf sayangku, aku akan mengantar nona perias dan sahabatku naik ke lantai atas gedung, mereka akan kembali ke rumah masing-masing, sebentar lagi helikopter datang," pinta sang mafia.
"Iya, kau antar dulu, aku akan berbincang dengan Richi dan Angela," jawab Laras.
Angela menatap wajah Laras, dia kagum dengan sosok ibu hamil di depannya ini.
"Kau sangat hebat kak? bos Alex adalah orang yang sulit di tebak dan misterius, tapi kau mampu menaklukkannya," ucap Angela kagum.
"Dia memang sulit di tebak tapi kalau sudah ada aku, dia akan menjadi penurut dan mudah di pahami," jelas Laras yang mengetahui kelemahan Alex yang tak lain adalah dirinya sendiri.
Angela ingin sekali menjadi seperti Laras yang mampu meruntuhkan ego dan sifat kejam sang mafia, ia mencoba memanfaatkan momen ini untuk bertanya kepada Laras.
"Tips agar bos lengket denganmu apa kak?" tanya Angela berterus terang.
"Mendekatlah, aku akan membisikkan sesuatu kepadamu," ucap Laras. Saat Angela mendekatkan telinganya ke arah mulut Laras, ibu hamil itu mulai mengatakan sesuatu. "Bahagiakan dia di ranjang, buat Richi tergila-gila padamu," bisik Laras.
Richi penasaran dengan apa yang Laras bisikan sang isteri. Namun Laras enggan mengatakannya, Angela masih malu-malu, wajahnya bersemu merah saat mendengar tips hot dari kakak iparnya.
__ADS_1
"Kau baik-baik saja sayang? mengapa pipimu memerah?" tanya Richi yang mengira Angela sakit.
Ia juga menempelkan punggung tangannya di kening Angela, membuat jantung sang isteri berdegup sangat kencang. Dia membayangkan malam pertama mereka, malam yang indah tapi dia takut tak bisa tidur karena merasa grogi. Dia juga takut akan merusak segalanya, hati dan pikirannya berkecamuk, dia sangat gelisah.
"Aku rasa kau baik-baik saja, apa kau gugup? kau ingin bermain game online? biasanya saat gugup kau suka bermain game. Kau tenang saja, aku yang akan menuntun dan mengajarimu bermain game terbaru yang beberapa minggu lalu aku mainkan, gamenya sangat seru, kau pasti menyukainya," ucap Richi. Seketika wajah serius Laras dan Angela berubah jadi tawa.
Richi tidak memahami apa penyebab dua wanita di depannya itu tertawa. Tapi dia tidak terlalu memikirkannya, karena dia sangat lapar, perutnya keroncongan.
"Kau akan di tuntun dan di ajari," bisik Laras.
"Iya kak," jawab Angela masih tersenyum mengingat ekspresi wajah sang suami tadi.
Richi menyantap sajian khas Jepang yang telah di siapkan oleh bosnya, dia juga meminum segelas wine mahal yang jarang ia temui saat masih menjadi penghuni bar bersama sang mafia.
Sang mafia telah kembali, dia terkejut saat melihat wine yang sudah ia campur obat penambah gairah di minum oleh sang sahabat, "Bisa habis Angela nanti, mengapa aku teledor sekali? sudahlah! biarkan saja, toh mereka sudah menikah," ucap sang mafia yang sengaja ingin mengerjai sang sahabat tapi waktunya kurang tepat.
Richi mulai oleng, Angela dan Laras terkejut melihat pengantin pria berdiri terhuyung-huyung.
"Isteriku, aku sangat mencintaimu," ucap Richi yang dengan senyum manisnya.
"Richi, kau ikut denganku," Alex merangkul sang sahabat namun Richi menolaknya.
"Sial! kau masukkan apa di segelas wine itu?" tanya Richi dengan tubuh tidak stabil.
"Kakak! kau apakan suamiku?" Angela meraih tubuh suaminya dan memeluknya, ia terlihat kesal.
"Kau tenang saja, temani dia di kamar tamu, dia pasti segera sembuh," Alex benar-benar melanjutkan rencananya.
"Awas kau kak, sampai suamiku sakit kita akan bertarung!" ancam Angela sembari memapah suaminya yang mulai meracau.
"Tenanglah, aku pasti kalah melawanmu, jangan pergunakan tenaga luar biasamu untuk berkelahi, gunakan saja untuk menyenangkan suamimu adikku!" pekik Alex sambil tersenyum, dia tahu Angela sangat marah, tapi bukan Alex Fernando namanya jika tidak bisa mengerjai orang.
Angela tidak menggubris ucapan sang mafia, dia berjalan menuju gedung megah itu bersama sang suami yang mabuk berat akibat ulah jahil sang mafia.
"Kau apakan dia?" Laras menyilangkan kedua tangannya di dada, pandangannya sangat serius.
__ADS_1
"Hanya membantu Richi, dia butuh tenaga kuda untuk mengimbangi Angela," jawab Alex sok polos.
Laras tertawa mendengar alasan sang suami, dia mengajak Alex tos, "Bagus! kau memang pandai membuat orang kelelahan,"