
Alex melepaskan pelukannya, ia meminta sang isteri menunggunya di luar karena dirinya akan berganti baju.
Laras menuruti ucapan sang suami.
Saat ia membuka pintu kamar utama, Laras melihat kelima anaknya sedang melihat film kartun kesukaan mereka, yaitu Rabbit and My House.
Cerita tentang seekor anak kelinci yang hidup bahagia bersama teman-temannya.
Laras mendekati kelima anaknya yang sedang fokus menonton film tersebut.
"Wah bagus sekali filmnya, mommy suka," celetuk sang mommy.
"Mana daddy? kita jadi kan pergi?" Adya mencoba mengingatkan mommynya.
"Jadi, tapi kita akan pergi ke taman hiburan, apa kalian senang!" Jawaban Laras membuat kehebohan si kembar.
Mereka berlima berjingkrak-jingkrak di atas sofa yang empuk itu. Laras salah strategi, harusnya dia membuat rencana jalan-jalan ini sebagai kejutan.
Tapi semuanya telah terjadi, dia tidak bisa mengulang waktu yang telah berlalu beberapa detik tersebut.
Daddy mafia keluar dari kamar utama, mata pasang mata langsung waspada, mereka melompat dari atas sofa dan mengelilingi sang daddy yang sudah berpenampilan keren mempesona.
"Wow! kau tampan sayang! kau memakai baju yang senada dengan kami, biru dan peach, manis sekali," puji sang isteri.
"Bagus kan? ini namanya Alex Fernando Family gathering, bajunya couple," ucap sang mafia bangga.
Sang isteri tersenyum melihat sang suami yang semakin tampan saja meski sudah hampir kepala empat.
"Ayo kita berangkat! tidak perlu membawa apapun. Di sana sudah tersedia semuanya." Alex telah membuat rencana jalan-jalan lebih simple.
Alex dan keluarganya keluar dari rumahnya, tak lupa Laras mengunci pintu terlebih dahulu karena di rumah tidak ada lagi pelayan.
Alex, Laras dan kelima anaknya masuk ke dalam mobil. Raut wajah gembira terpancar dari si kembar lima.
"Hitung sampai tiga, roket akan segera meluncur!" Alex membuat perjalanan menjadi semakin menyenangkan. Dia selalu memiliki ide-ide baru untuk membuat anak-anaknya tersenyum.
"Satu...dua...tiga..."
Wussshh!!!
__ADS_1
Mobil sang mafia meleset dengan kecepatan sedang menuju taman hiburan yang berada di pusat kota. Tempat ini tergolong baru jadi belum banyak wahananya, hanya ada kebun binatangnya dengan satwa yang lumayan lengkap.
"Nanti di sana, Aarav mau memberi makan singa." Aarav sangat menyukai singa, dia mengoleksi berbagai buku cerita bertema raja hutan itu.
"Adya suka buaya, lebih hebat buaya," sahut Adya tidak mau kalah.
"Aku juga, aku! aku mau melihat harimau!" ucap Adelio selanjutnya.
Biasanya Lexis akan berisik, tetapi kali ini dia dua adiknya sedang anteng. Mereka bertiga sedang berlomba bermain rubik.
Ketiga anak jenius Laras dan Alex terlihat fokus dengan rubik di tangannya.
Beberapa menit kemudian, Lexis mampu menyelesaikan tantangan rubik dari dua saudaranya.
"Hore menang! menang! aku nanti di gendong daddy! hore! hore!" pekik Lexis dengan mengangkat kedua tangannya ke udara.
Alex penasaran dengan kesepakatan yang ketiga puteranya lakukan dengan tantangan rubik.
"Wah! selamat ya? hebat Lexis! Hm, tetapi apa hubungannya menjadi pemenang dengan di gendong oleh daddy?" Sang mafia menatap wajah bahagia Lexis lewat spion tengah mobil.
"Kami membuat permainan, siapa yang terlebih dulu menyusun rubik dengan rapi, dialah pemenangnya! yey! aku menang daddy!" Permainan khas anak-anak, meskipun sederhana mampu membuat kelima putera sang mafia bahagia.
"Karena terakhir kali daddy mengendong kami, dua bulan yang lalu. Itu juga karena daddy sedang libur bekerja."
Deg!
Keluhan yang menyayat hati sang mafia.
Dia merasa jika belum menjadi ayah yang baik untuk anak-anaknya.
"Tidak masalah sayang, nanti ayahmu akan memberikan hadiah yang bagus." Laras mencoba menengahi hal ini. Dia tidak bisa serta merta menyalahkan sang suami.
Bagaimanapun juga, Alex bekerja untuk mereka berenam. Tidak pernah sedikitpun memikirkan hal lain, meskipun Alex mampu melakukannya.
"Maaf sayang, daddy yang salah. Benar kata mommy, nanti ada hadiah untuk kalian berlima." Alex memahami bantuan sang isteri. Dia segera menjanjikan hal yang sama.
Di sepanjang perjalanan, mereka bertujuh bernyanyi lagu kegembiraan. Alex mampu menghapal salah satu lagu anak-anak yang pernah di ajarkan oleh ayahnya, kini ia ajarkan kepada si kembar lima.
"Daddy suka menyanyi?" tanya Aarav heran dengan suara Alex yang lumayan bagus.
__ADS_1
"Tidak sayang, tetapi mommy yang membuat daddy harus belajar. Sejak kalian di dalam kandungan, mommy ingin daddy mencipta dan bernyanyi lagu sendiri. Betapa tersiksanya aku." Alex merana saat mengingat hal memalukan itu.
"Hahaha." Tawa ke lima anaknya pecah.
Sang mafia bahagia karena mampu membuat anak-anaknya tersenyum bahagia. Di balik wajah polos si kembar lima, terdapat luka hati yang di sebabkan oleh dirinya.
"Daddy ingin tahu, kenapa kalian lebih suka hewan buas daripada hewan yang lainnya?" tanya sang mafia penasaran dengan jawaban anak-anaknya.
"Adelio jawab dad!" Si adik ingin menjawab pertanyaan sang daddy.
"Jawabannya apa?" Alex tak sabar mendengarkan apa yang ada di pikiran anak bungsunya itu.
"Karena anak laki-laki itu harus kuat dan hebat seperti singa."
Sang mafia seperti pernah mendengar kata-kata yang di ucapkan Adelio.
"Wah bagus jawabanmu." Alex memuji kecerdasan sang baby Adelio.
"Itu kata-kata kakek Hans, bukan jawaban Adelio!" celetuk Adya, membuat sang mafia ingat akan slogan itu.
"Astaga, ayahmu sayang. Dia kira aku juga singa?" Sang mafia menatap sang isteri yang duduk di sebelahnya.
"Kau singa jantan, aku singa betina," bisik Laras, agar anak-anaknya tidak mendengarkan perkataannya.
Saat kelima anaknya sedang sibuk bermain game, ada yang heboh melihat pemandangan, dan ada juga yang memejamkan matanya, Alex dan Laras memanfaatkan momen ini.
"Kita tak bisa bergandengan tangan saat mereka membuka mata," ucap sang mafia yang kini telah menggenggam tangan sang isteri.
"Kita nikmati saja, mumpung anak-anak sedang sibuk dengan urusan masing-masing." Laras menatap wajah sang suami yang tersenyum manis kepadanya.
Untuk menambah keromantisan, Alex menyetel lagu bernuansa jazz. Lagunya sangat mendayu, membuat suasana semakin indah.
"Lex, kita sudah melewati lima tahun lebih hidup berumah tangga, namun aku tak merasa bosan." Laras melepaskan genggaman tangannya, dia ingin mencium pipi sang suami tapi lupa ada anak-anak di jok belakang.
"Mommy? apa mommy ingin mencium daddy?" tanya Aarav yang tanpa sengaja melihat adegan romantis kedua orang tuanya.
"Oh tidak, ini lho sayang. Daddy berkeringat, mommy ingin mengelap wajahnya." Laras secepat kilat membuat alasan yang masuk akal.
"Oh oke," jawab Aarav yang kembali bermain game di ponselnya.
__ADS_1