Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Chapter 70


__ADS_3

"Sudahlah ibu, kau jangan mengejekku terus." rengek Laras.


"Iya, maaf, ibu kan hanya bercanda. Kau yang mencuci semua piring dan gelas ini?" tanya nyonya Fira.


"Bukan, ini menantu ibu yang melakukannya." jawab Laras.


"Dia anak yang baik, entah mengapa harus menjadi bos mafia." ucap nyonya Fira.


"Karena ayah dan ibunya juga mafia." jawab Laras.


"Benarkah?" ucap nyonya Fira terkejut.


"Kedua orang tuanya dulu bos mafia tersohor, namun karena kelicikan musuh, keduanya dan para anggota geng yang bernama Blue Sea musnah dari muka bumi ini." jelas Laras.


"Hidupnya sungguh penuh misteri, dia akan terus bertarung sampai akhir kah? oh ya, apa dia memiliki saudara?" tanya nyonya Fira.


"Tentu saja ibu, tapi aku berharap, suatu hari nanti dia akan berhenti bertarung dan hanya fokus pada ku dan anak-anak kami kelak. Dia memiliki satu saudara laki-laki, dia kakak dari Tuan Alex, namanya Justin Steven." jawab Laras.


"Dia dimana?" tanya nyonya Fira.


"Entahlah, aku malas membahasnya." jawab Laras.


Laras beranjak dari tempat duduknya dan segera menuju kamar karena ingin membersihkan diri.


"Kau mau kemana?" tanya nyonya Fira.


"Mandi." jawab Laras datar.


"Nak, kau baik-baik saja kan?" tanya nyonya Fira khawatir.


"Aku baik, hanya ingin membersihkan diri saja sebentar." jelas Laras.


Laras masuk ke dalam kamar utama, raut khawatir nampak di wajah nyonya Fira.


"Ada yang dia sembunyikan dariku." batin nyonya Fira.


Nyonya Fira menyalakan televisi, dia terkejut dengan berita meninggalnya Juna Albram. Alasannya tidak di sampaikan ke publik, Tuan Albram Zein selaku ayah dari Juna hanya menyampaikan jika putranya meninggal karena kecelakaan mobil.

__ADS_1


"Laki-laki itu masih saja sama seperti dulu, angkuh dan misterius." batin nyonya Fira.


Bayangan masa lalu tiba-tiba terlintas begitu saja di kepalanya saat dirinya memutuskan hubungan dengan Tuan Albram Zein, waktu itu dia dan ayah dari Juna itu masih menjalin hubungan,namun ayah dan ibu dari nyonya Fira tidak setuju dengan status Tuan Albram Zein yang masih belum jelas tujuan masa depannya. Setelah beberapa hari memutuskan hubungan, orang tua nyonya Fira langsung mengumumkan jika anak mereka sudah menikah dengan Tuan Hans, seorang kepala polisi. Nyonya Fira yang semula sedih meninggalkan Tuan Albram Zein seketika berubah benci dengan mantan kekasihnya itu karena ulahnya menyabotase bisnis Farmasi miliknya, sejak saat itu keduanya saling bermusuhan hingga kini.


Nyonya Fira menekan tombol off pada remote televisi itu dan segera menemui sang putri yang tak kunjung usai membersihkan diri.


"Nak, apa kau sudah selesai? ibu punya kabar baik untukmu. Cepatlah keluar." pinta nyonya Fira dari balik pintu.


Laras tak kunjung keluar kamar, nyonya Laras merasa khawatir, dia kemudian mencoba membuka pintu kamar utama, ternyata pintu itu tidak terkunci, nyonya Fira kemudian membuka pintu tersebut dan tidak mendapati putrinya berada di dalam, dia berjalan menuju kamar mandi, di sana Ia mendengar suara tangis sang putri.


"Laras, Laras, kau baik-baik saja kan?" tanya nyonya Fira.


Karena panggilannya tidak di gubris, Ia kemudian membuka pintu kamar mandi dan menemukan sang putri telah basah kuyup di bawah aliran air dengan mendekap kedua kakinya. Laras menangis disana.


"Kau kenapa, Nak?" tanya sang ibu yang langsung memeluknya erat.


"Ibu, pria yang bernama Justin Steven itu telah menggoreskan luka mendalam di hatiku. Saat aku kembali menyebut namanya, rasa pedih seketika datang padaku." jawab Laras.


"Apa yang dia lakukan?" tanya nyonya Fira.


"Maksudmu?" tanya nyonya Fira belum memahami ucapan putrinya.


"Ibu, maafkan aku. Aku tidak mengatakan semua ini dari awal, tolong ibu jangan membenci Alex setelah aku menceritakan semua ini," ucap Laras memohon.


"Katakan." jawab nyonya Fira.


Laras mengatakan semua yang terjadi padanya, saat pertama kali harus menderita karena di khianati, di campakkan, rasa depresinya hingga membawa gadis itu berjumpa dengan bos mafia itu.


Bukannya marah, tetapi nyonya Fira meminta maaf kepada Laras karena telah membuat putrinya itu hidup sekian tahun tanpa kasih sayang kedua orang tuanya karena kesibukan yang entah untuk siapa hasilnya jika sang putri saja tidak mendapatkan haknya sebagai anak.


"Ibu."


Saat panggilan itu terucap dari mulut sang putri, seketika air mata itu tumpah. Belum pernah nyonya Fira benar-benar mengetahui wajah lain dari Laras yang dianggapnya sebagai gadis pemberontak itu. Ada rasa perih di dadanya saat melihat gadis cantiknya telah ternoda oleh dua pria sekaligus, meski Alex dan Laras telah saling mencinta, namun rasa bersalah itu tetap melekat di sanubarinya.


"Maafkan aku, putriku."


Nyonya Fira memeluk sang putri begitu erat, dia menumpahkan rasa bersalahnya di sana, menyesali setiap dosa yang di perbuatnya.

__ADS_1


"Mulai sekarang dan seterusnya, ibu akan selalu bersamamu, mendampingimu, masa bodoh dengan Dounghun Farmasi. Kau adalah yang terpenting." ucap nyonya Laras.


"Ibu."


Keduanya menumpahkan rasa haru di bawah percikan air, isak tangis terdengar nyata dari mulut keduanya. Rasa bahagia bercampur kesedihan.


"Katakan apapun kepada ibumu ini, saat ibu tiada, ibu akan menjadi orang tua paling tidak tahu diri jika kau tidak merasakan kebahagiaan." ucap nyonya Fira.


"Terima kasih, ibu. Kau tidak perlu mengatakan semua itu. Kau akan menjadi nenek dari lima Alex junior. Kau akan hidup lebih lama." jawab Laras.


Nyonya Fira dengan telaten memandikan sang putri seperti waktu kecil dulu, entah hanya berapa kali dia melakukannya. Semua tugasnya telah tergantikan oleh baby sitter.


Setelah selesai sesi "memandikan bayi", nyonya Fira menyuruh Laras untuk segera berganti pakaian karena dirinya juga ingin membersihkan diri karena ikut basah kuyup.


"Sial, bajunya ada di ruang tamu." umpat Laras.


Dengan memakai handuk yang di lilitkan ke dadanya, Laras berjalan keluar dari kamar Alex menuju ruang tamu, dia terkejut saat sosok pria tampan itu kembali lagi ke apartemen.


"Astaga, kau mengagetkanku saja, kenapa kau kembali?" tanya Laras.


"Nanti saja aku pergi, aku masih ingin bersamamu," ucap Alex.


Alex terpaku, dia terpesona dengan keindahan di depannya ini, tanpa basa-basi, Ia mengendong Laras menuju kamar.


Dengan handuk masih melilit di dada, nyonya Laras keluar dari kamar mandi, tapi tidak mendapati putrinya ada di kamar, nyonya Fira memutuskan untuk keluar dari kamar Alex dan memeriksa keberadaan putrinya di ruang tamu, benar saja sang putri berada di sana. Sang ibu heran dengan Laras yang senyum-senyum sendiri memandang pintu besi apartemen itu.


"Laras? Laras? kau baik-baik saja kan?" tanya yonya Fira sembari menepuk pundak Laras pelan.


"Ada apa?" ucap Laras terkejut saat mendapati sang ibu ada di belakangnya.


"Ibu memanggilmu dari tadi, tapi kau hanya diam saja." gerutu nyonya Fira.


"Maaf ibu, aku tiba-tiba berhalusinasi, big babyku kembali," ucap Laras sambil tersenyum malu.


"Ibu kira ada apa, nanti dia juga kembali. Mana bajuku? aku malas membawa barang-barang ibu dari rumah, jadi hanya sehelai baju di badan yang ibu punya." gerutu nyonya Fira.


"Iya, maaf ibu. Aku masih rindu padanya, itu saja," ucap Laras sambil membawa barang belanjaannya tadi ke dalam kamar, sang ibu mengekor di belakangnya.

__ADS_1


__ADS_2